Selalu Ajak Siswa Percaya Diri dengan Pilihan Cita-Cita
BELASAN siswa MI Al Hikmah Poncokusumo berdiri berkerumun di halaman sekolah yang teduh. Mata mereka berbinar-binar. Di tangan mungil mereka, selembar kertas hijau berbentuk daun diisi dengan guratan krayon. Mereka menuliskan berbagai cita-cita.
Dokter, guru, polisi, pilot, bahkan ada yang menuliskan ingin punya toko es krim. Satu per satu, daun-daun impian itu ditempelkan ke sebuah ”pohon” dari karton yang berdiri di pojok halaman. Begitu menempelkan, mereka
bercerita tentang cita-cita itu dengan suara lantang. Suasana riang itu bukan kegiatan sekolah biasa. Pekan lalu, Komunitas 1.000 Guru Malang datang membawa program Traveling and Teaching (TnT). Sebuah kegiatan sukarela yang menggabungkan traveling, edukasi, dan aksi sosial.
Ada 15 relawan yang turun masing-masing dengan latar belakang pekerjaan berbeda Ada pekerja ritel, ahli gizi, hingga dokter. Mereka memperkenalkan keahliannya dengan gaya menyenangkan.
Berharap bahwa kisah-kisah itu kelak menyalakan semangat belajar anak-anak di lereng Gunung Semeru itu. ”Kami mengajarnya dengan metode fun teaching. Tidak ada pelajaran formal seperti matematika. Yang ada pembelajaran yang menyenangkan, termasuk lewat lagu,” ujar Raka Pandu Biantama, Ketua Regional Komunitas 1.000 Guru Malang.
Benar saja, selepas sesi perkenalan, ruang kelas langsung berubah menjadi arena paduan suara kecil. Siswa yang dibagi ke beberapa grup itu menyanyikan Hymne Guru, Terima Kasihku, hingga lagu tentang cita-cita yang liriknya sederhana tapi melekat. Kemudian, mereka diajak membuat origami.
Kegiatan yang bagi relawan mungkin tampak sepele, tetapi bagi anak-anak itu adalah pengalaman baru yang melatih ketelitian dan kreativitas. Di balik kegiatan riuh itu, ada kisah panjang tentang lahirnya Komunitas 1.000 Guru. Komunitas ini dicetuskan pada 2009
oleh Jemi Ngadiono, seorang jurnalis yang kerap bertugas ke pelosok-pelosok Indonesia. Dari perjalanan-perjalanan itu, ia melihat banyak sekolah pedalaman yang kekurangan fasilitas dan membutuhkan sentuhan masyarakat. Dari situlah muncul gagasan menggabungkan traveling dengan kegiatan sosial.
Tiga tahun kemudian, pada 2012, terbentuklah Yayasan 1.000 Guru secara legal dan sejak itu regional-regional baru bermunculan. ”Di Malang mulai ada pada 2015. Jadi sudah sepuluh tahun berjalan.
Totalnya sudah 28 kali kegiatan TnT,” ujar lelaki 27 tahun asal Blitar itu. Aktivitas mereka tidak hanya menyentuh Malang Raya, tetapi juga merambah wilayah Jawa Timur lainnya. Namun tidak semua sekolah bisa serta merta dipilih sebagai lokasi TnT.
Ada beberapa kriteria tertentu. Yakni jumlah siswa idealnya minimal 100 anak, kondisi bangunan membutuhkan bantuan, lingkungan sosial masyarakat memadai, serta jumlah guru PNS sedikit atau tidak ada sama sekali. Di MI Al Hikmah Poncokusumo, misalnya, jumlah siswa hanya 86 orang. Lebih sedikit dari ketentuan.
Namun, ada beberapa kondisi yang membuat mereka tetap memutuskan turun ke sana. Bangunan sekolah memang sedang membutuhkan perbaikan meski kebetulan saat kunjungan berlangsung sudah ada proses renovasi berjalan. Bantuan yang mereka berikan diperoleh dari penggalangan dana terbuka.
Kebutuhannya disesuaikan dengan kondisi sekolah. Buku, alat tulis, peralatan belajar, hingga kebutuhan khusus lainnya dikumpulkan lewat kampanye di media sosial. Semua bantuan dijaga agar tetap organik, tanpa keterlibatan lembaga atau partai politik mana pun.
Itu sebabnya, meski siapa pun boleh menjadi relawan, mereka diwajibkan datang atas nama pribadi. Tidak boleh mengibarkan identitas lembaga, organisasi, apalagi partai. Saat ini lebih dari 200 relawan sudah pernah terlibat dalam kegiatan Komunitas 1.000 Guru Malang. Latar belakang mereka beragam.
”Kami tidak membedakan profesi, jenis kelamin, agama, atau apa pun. Yang penting datang sebagai individu, usia minimal 18 tahun,” ujar Raka. Program TnT bukan satusatunya kegiatan yang mereka jalankan. Ada Teaching and Giving (TnG), napak tilas, stasiun baca, dan disaster response.
TnG biasanya dilakukan setengah hari. Pagi hingga siang baik di sekolah maupun panti asuhan. Napak tilas dilakukan untuk memantau perkembangan tempattempat yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. Sementara stasiun baca merupakan program literasi dengan skala kecil.
Biasanya dihadiri sekitar 15 anak saja sehingga suasananya lebih santai dan interaktif. Pada situasi darurat, komunitas ini juga bergerak. Saat erupsi Gunung Semeru tahun 2021–2022, mereka turun membantu warga mencari tenda darurat dan kebutuhan mendesak lainnya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho