MALANG KOTA - Bila rencana ini terwujud, Pemkot Malang bakal mencatatkan hal baru. Rencana itu yakni memulai proyek atau program besar pada awal tahun. Ya, pada Januari atau Februari 2026 mendatang, pemkot yakin dua programnya bakal berjalan.
Yang pertama yakni perbaikan Jembatan Sonokembang di Jalan Simpang Sulfat Utara. Proyek kedua yakni realisasi program Buy The Service (BTS) atau angkot pendukung bus Trans Jatim (selengkapnya baca grafis).
Seperti banyak diketahui, biasanya proyek dan program besar baru bisa dikerjakan pada pertengahan atau menjelang akhir tahun. Tak ingin kebiasaan itu terus menerus terulang, pemkot sudah melakukan ancang-ancang sejak dini. Persiapan untuk membuka lelang sudah dilakukan.
Rencananya, lelang untuk perbaikan Jembatan Sonokembang bakal dibuka pada bulan Desember mendatang. Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Malang Subkhan menuturkan, anggaran untuk dua program itu sudah dialokasikan pada Rancangan APBD (RAPBD) 2026.
”Prinsipnya setelah APBD ditetapkan, perangkat daerah bisa melakukan proses pengadaan barang dan jasa,” ujar dia. Dia menambahkan, anggaran Rp 5,5 miliar untuk jembatan dialokasikan lewat Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang.
Sedangkan anggaran Rp 1,9 untuk program BTS angkot diterima Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang. ”Pelaksanaan lelang akan dilakukan masing-masing perangkat daerah,” imbuhnya.
Anggaran dua program itu tidak menggunakan dana sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) tahun sebelumnya. Subkhan mengatakan, Silpa biasanya digunakan untuk belanja pegawai dan operasional pada awal tahun.
”Dua kegiatan di atas dibayar menunggu sampai selesainya pekerjaan atau dengan sistem termin. Diperkirakan sekitar Maret sudah ada pendapatan yang masuk, itu akan menjadi pembayaran termin satu dan seterusnya,” jelas dia.
Ditanya tentang lelang dini yang dilakukan pada bulan Desember, Subkhan memastikan itu tidak menjadi masalah. ”Mulai saat ini dimulai lelang juga tidak menjadi masalah, tetapi tanda tangan harus dilakukan saat pembahasan APBD rampung,” imbuh Subkhan.
Sementara itu, Kepala Dishub Kota Malang Widjaja Saleh Putra menekankan, penganggaran itu membuktikan keseriusan pemkot dalam memperhatikan angkot. Eksekutif tidak ingin meninggalkan angkot sendirian di tengah beroperasinya bus Trans Jatim.
Program BTS itu sudah direncanakan sejak 2023. Tepatnya saat Wahyu Hidayat masih menjadi Penjabat (Pj) wali kota. Dengan program itu, diharapkan kesadaran masyarakat menggunakan transportasi umum bisa meningkat. ”Kami juga memberdayakan sopir angkot agar memiliki kehidupan lebih baik. Karena mereka juga warga Kota Malang,” tutur Jaya.
Seperti diketahui, dalam program BTS itu, angkot bakal menjalankan dua peran. Yang pertama sebagai angkutan gratis untuk pelajar. Berikutnya sebagai feeder atau angkutan pengumpan untuk bus Trans Jatim.
Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji menilai rencana pelaksanaan proyek pada awal tahun merupakan langkah yang tepat. Selama ini, dewan memberikan sorotan terhadap proyek yang selalu dilakukan pada pertengahan atau akhir tahun.
”Asalkan meskipun awal tahun perencanaan harus dilakukan secara matang. Harus dipastikan kualitas tetap terjamin dan pengadaannya dilakukan secara transparan,” kata Bayu.
Menurutnya, dua program ini menyentuh hajat orang banyak. Sehingga Pemkot Malang harus meminimalkan kesalahan dengan perencanaan yang bagus. ”Rencana itu membuktikan program yang dilakukan awal tahun bukan suatu hal yang mustahil. Sehingga kami harap bisa dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya,” tambah Bayu.
Sementara itu, Kepala DPUPRPKP Kota Malang R Dandung Djulharjanto mengatakan bahwa alokasi anggaran untuk membangun jembatan sudah fixed. Semula, pemkot mengestimasikan kebutuhan dana pembangunan Jembatan Sonokembang permanen sekitar Rp 5,3 miliar.
Namun pemkot juga membutuhkan jasa konsultasi untuk konstruksi, sehingga membutuhkan dana tambahan. Besaran anggaran tersebut juga sudah mendapat lampu hijau dari Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). ”Juga sudah disetujui DPRD Kota Malang,” kata dia.
Dalam pembangunan yang dilakukan tahun 2026 itu, pemkot berencana untuk meninggikan konstruksi jembatan agar tidak mudah tergerus air. Selain itu juga mencegah bottle neck (penyempitan jalan) dari bambu atau material-material yang berpotensi tersangkut di jembatan.
Kemudian dari sisi dimensi, jembatan permanen akan dibangun dengan lebar 9 meter. Dari yang semula lebarnya sekitar 5,5 meter. Sementara panjangnya tetap 17 meter. Rencana penambahan ukuran lebar pada jembatan itu untuk memberi ruang bagi pejalan kaki.
”Karena posisi jembatan kan dekat masjid. Jadi jembatan sering digunakan warga menuju ke masjid,” terangnya. Sembari menunggu pembangunan jembatan, pemkot kini masih memanfaatkan jembatan bailey. Masa pinjam pakai jembatan berlangsung selama 8 bulan atau sampai Juni 2026.
”Namun pak wali meminta agar sebelum Lebaran, jembatan permanen sudah rampung dikerjakan,” tegas Dandung. Selain Jembatan Sonokembang, ada proyek-proyek infrastruktur lain yang ke depan masuk dalam prioritas pemkot.
Salah satunya yakni penanganan Jembatan Majapahit atau jembatan yang menghubungkan Pasar Splendid dengan Jalan Majapahit. ”Di sana akan segera kami lakukan penanganan berupa penguatan fondasi,” imbuh pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut. Prioritas lain yang dilakukan berupa pemeliharaan pada drainase maupun jembatan.
Sebagai contoh untuk drainase, ada 24 titik yang akan mendapat pemeliharaan. Dalam penggarapan proyek prioritas itu, pihaknya juga berupaya agar proses lelang bisa dilakukan pada awal tahun. Dengan demikian proses pembangunannya tidak terlambat atau sampai menjelang akhir tahun. (adk/mel/by)
Editor : A. Nugroho