MALANG KOTA – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mengubah Pasar Splendid menjadi wisata heritage berdampak ke sekolah pendidikan. Lembaga pendidikan di area tersebut terancam kena relokasi. Untuk diketahui SD - SMA Kristen Brawijaya I berada di area Splendid.
Atas kondisi tersebut, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menawarkan yayasan yang menaungi SD-SMA Kristen Brawijaya 1 untuk tukar guling. Hal itu disampaikan Wahyu ketika meninjau sekolah tersebut beberapa waktu lalu.
Jika tidak direlokasi, dia mengatakan, proses belajar mengajar terancam tidak efektif. Itu karena berdempetan dengan pasar hewan.”Lingkungan terlalu bising dan bau, sehingga tidak nyaman untuk siswa,” ujar Wahyu.
Selain lingkungan tidak kondusif, dia mengatakan, lalu lintas padat di sekitar kawasan Splendid juga menyulitkan aktivitas antar jemput siswa. Dampaknya, minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SD-SMAKristen Brawijaya terus merosot dari tahun ke tahun.
Mengenai skema tukar guling, Wahyu mengatakan, Pemkot Malang memiliki aset yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi baru. Dipastikan lebih layak untuk pendidikan. Namun skema tersebut masih sebatas kemungkinan.
Hingga kini belum ada keputusan terkait relokasi sekolah maupun tukar guling lahan. Pemkot Malang masih berada pada tahap kajian dan penyusunan konsep penataan kawasan Splendid secara menyeluruh.
"Sekolah ini memiliki potensi yang bagus, karena konsep heritage dan bangunan yang masih kokoh. Tetapi itu nanti tergantung yayasan, saya akan mengajak bertemu bagaimana rencana ke depan," jelas mantan Sekda Kabupaten Malang itu
Lebih lanjut, Wahyu juga mendapat keluhan dari pihak sekolah tentang lahan yang digunakan oleh pedagang pasar. Terkait hal itu, pihaknya tidak bisa langsung melakukan penertiban. “Kami akan mengkaji dasar penertiban dulu, baru bisa dilakukan. Kalau tidak nanti mereka akan kembali," urai pemilik kursi N1 itu.
Sementara itu, Kepala SDK Brawijaya I Eva Tulak belum bisa menjawab terkait wacana tukar guling. Sebab, keputusan itu ada di tangan yayasan. Namun dia mengakui ada penurunan jumlah siswa setiap tahun.
Pada 2025, total murid SDK Brawijaya hanya 21 anak. "Status mereka juga anak jalanan, jadi kadang masuk sekolah kadang tidak. Kalau tentang bau dan ramai pasar, jelas mengganggu pembelajaran," terang Eva. (adk/dan)
Editor : A. Nugroho