DI Indonesia, tanggal 21 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Pada momen itu media sosial diterjang gelombang puisi dan ucapan romatis tentang ibu sebagai sosok penuh cinta tanpa batas. Ruang publik tanpa henti meromantisasi relasi ibu-anak. Seakan-akan cinta ibu merupakan anugerah absolut yang tak perlu diuji waktu, praktik, atau realitas.
Hari Ibu layak diperingati, tetapi tidak semua ibu otomatis layak dirayakan. Sebab, tidak semua ibu-anak memiliki relasi harmonis. Sejumlah penelitian mutakhir justru menunjukkan banyak anak tumbuh dalam pengasuhan yang menyakiti. Sebagian anak bahkan lahir dari pernikahan tanpa kesiapan mental dan rendahnya literasi parenting.
Dalam kajian tentang toxic parenting menunjukkan banyak anak tumbuh dengan orang tua yang penuh kritik, hukuman berlebihan, penekanan emosional, hingga membuat anak merasa selalu salah dan tidak berharga. Pola asuh seperti ini berkorelasi dengan citra diri rendah, kecemasan, stres, depresi, kesulitan bersosialisasi.
Masih banyak perempuan yang menjadi ibu hanya karena konsekuensi sosial dari pernikahan yang didorong nilai dan norma hasil konstruksi sosial, bukan kesiapan psikologis dan pendidikan yang matang. Hal itu diperkuat penelitian yang berjudul Kesiapan Mental Ibu Muda dari Pernikahan Usia Dewasa Awal di Kota Surabaya oleh Khofifah Nur Lailiyah, dkk.
Artikel ilmiah yang dipublikasikan di Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan (JKKP) pada April 2025 lalu itu menyebutkan pada usia dewasa awal, kematangan berpikir dan pengendalian emosi belum sepenuhnya terbentuk. Itulah mengapa banyak ibu muda mengalami tekanan psikologis ketika harus mengelola keluarga dan mengasuh anak.
Riset lain berjudul Kesiapan Menjalani Peran Sebagai Ibu pada Remaja Hamil Diluar Nikah oleh Risydah Fadilah, dkk mengutip data yang menunjukkan sekitar 60 persen remaja merasa tidak siap menjadi ibu, terutama karena minim pengetahuan, rendahnya akses layanan kesehatan, dan dukungan sosial yang lemah.
Ironinya, ini terjadi ketika sumber belajar pengasuhan justru melimpah di era digital. Tingkat pendidikan ibu kunci perkembangan anak. Hal itu bukan sekadar asumsi sosial. Seperti hasil penelitian dalam artikel ilmiah berjudul Maternal Education, Changing Family Circumstances, and Children's Skill Development in the United States and UK oleh Margot Jackson, dkk.
Penelitian itu menyebut tingkat pendidikan ibu menjadi prediktor kuat perkembangan kognitif, sosial, dan motorik pada anak. Selain itu, sumber daya keluarga bisa memengaruhi kesehatan, interaksi, dan kesempatan pendidikan anak di masa depan. Semakin tinggi pendidikan ibu, semakin baik pula skor perkembangan anak dalam tumbuh kembangnya.
Pendekatan ekologi dalam psikologi perkembangan menegaskan pendidikan ibu bukan hanya soal gelar, tetapi bagaimana pendidikan memperluas kemampuan ibu dalam merespons kebutuhan anak, menciptakan stimulasi kognitif, dan mendukung lingkungan belajar di rumah.
Sekali lagi, masih banyak ibu yang menjalani peran pengasuhan tanpa bekal literasi parenting yang cukup. Parahnya, orang-orang yang merasa literat dalam hal ini kebanyakan memilih mengonsumsi pengetahuan pengasuhan populer dari media sosial. Ini menjadi ironi selanjutnya di tengah informasi melimpah tanpa bukti ilmiah.
Pada akhirnya, romantisasi peran ibu hanya menjadi topeng yang menutupi kesenjangan kapasitas itu. Tanpa literasi kritis, ibu akan mudah terseret pola asuh instan dan keras yang didorong tradisi dari konten populer. Maka penting melakukan romantisasi dan selebrasi terukur. Hari Ibu juga perlu menjadi momen refleksi dan menuntut pertanggungjawaban.
Hari Ibu semestinya bukan sekadar ajang menuntut anak berterima kasih, tetapi momentum mendesak negara dan masyarakat memperkuat pendidikan pranikah, program parenting berbasis riset, serta akses layanan kesehatan mental bagi calon orang tua, terutama untuk ibu-ibu muda.
Merayakan semua ibu tanpa kecuali berisiko menghapus pengalaman anak-anak yang tumbuh dalam rumah yang tidak aman. Perayaan Hari Ibu kerap memaksa untuk memunculkan narasi tunggal yakni ibu adalah pahlawan tanpa cela. Kita cenderung mengabaikan problem nyata.
Misalnya, kesadaran ibu yang rendah atas pendidikan parenting, kesiapan mental yang minim, dan tantangan psikologis yang juga dihadapi banyak keluarga lain. Ibu yang mau tumbuh dan belajar bukan berarti merendahkan perannya, pun sebaliknya. Itu merupakan langkah konkret agar pengasuhan tidak menjadi beban psikologis.
Ibu (dan ayah) sering hadir sebagai sumber kontrol, cacian, dan kekerasan, bukan pelindung. Dalam penelitian Dampak Pola Asuh Toxic Parents Terhadap Kesehatan Mental Dalam Perkembangan Kemampuan Emosional Anak Usia Dini oleh Nurjanan dan Rachmawati pada 2024 lalu menunjukkan perempuan yang menikah muda lebih rentan mengalami stres.
Instabilitas emosi dan penurunan kesehatan mental, pada gilirannya mempengaruhi mutu pengasuhan mereka terhadap anak. Untuk itu, ibu yang layak dicintai bukan figur yang disakralkan hanya karena melahirkan. Namun, mereka yang terus belajar, mau merefleksikan luka masa kecilnya, dan berupaya memutus siklus kekerasan dalam pengasuhan.
Penelitian mengenai pengasuhan positif menegaskan ibu dan ayah yang membuka diri pada pengetahuan membuat kualitas tumbuh kembang anak meningkat dan risiko gangguan mental dapat ditekan. Menyisakan ruang bagi narasi anak-anak yang tidak bisa ikut merayakan Hari Ibu justru bentuk cinta paling jujur di tengah arus romantisasi ini.
Sebab, itu bakal menjadi bentuk cinta pada masa depan generasi yang berhak dibesarkan orang tua yang siap secara mental, terdidik, dan rendah hati untuk terus belajar. Sebab, cinta yang tak terdidik sama bahayanya dengan cintak yang tak pernah hadir sama sekali.
Kritik dan saran bisa disampaikan ke alamat email berikut fajarandress@gmail.com
Editor : A. Nugroho