MALANG KOTA - Selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kota Malang dipadati pelancong dari berbagai daerah. Diperkirakan ada satu juta orang yang berkunjung ke 55 daya tarik wisata (DTW) yang dimiliki Kota Malang. Mulai dari kampung tematik hingga pusat perbelanjaan (selengkapnya baca grafis).
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Baihaqi menjelaskan, ada beberapa DTW yang dipantau intensif selama dua pekan libur Nataru. Salah satunya yakni Kajoetangan Heritage. ”Pantauan kami selama 12 hari libur Nataru, ada kenaikan sebanyak 28 ribu pengunjung,” ungkap dia.
Jumlah itu melonjak 100 persen dibanding libur Nataru pada periode sebelumnya. Tahun lalu, Disporapar Kota Malang mencatat ada 14 ribu pengunjung yang menghabiskan waktu di Kajoetangan Heritage. Informasi terkait lonjakan pengunjung di Kajoetangan Heritage juga disampaikan Pokdarwis Kajoetangan Heritage.
Dari laporan yang diterima disporapar, lonjakan kunjungan ke Kajoetangan Heritage sudah terasa sejak pertengahan Desember. ”Jika dirata-rata ada dua ribu sampai tiga ribu pengunjung yang datang per harinya. Mereka mengakses Kajoetangan Heritage melalui enam pintu,” sambung Baihaqi. Jumlah pengunjung umumnya bertambah pada akhir pekan.
Adanya lonjakan kunjungan ke Kajoetangan Heritage tentu berampak positif bagi perekonomian sekitar. Terutama bagi para pelaku UMKM. Selain Kajoetangan Heritage, ada puluhan DTW lain yang juga dipadati pengunjung. Salah satunya Kampung Tridi.
Ketua Pokdarwis Kampung Tridi Adnan mengatakan, ada peningkatan kunjungan sekitar 35 persen dibanding hari-hari normal. ”Dalam dua pekan terakhir, saya memperkirakan ada 150 wisatawan yang berkunjung ke Kampung Tridi setiap harinya,” sebut dia.
Jika ditotal selama dua pekan, artinya ada sekitar 2 ribu pengunjung yang ke Kampung Tridi. Terdiri dari wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, tidak semua kampung tematik di Kota Malang membuka kunjungan selama libur Nataru.
Menurut Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang Ki Demang Isa Wahyudi, ada beberapa kampung tematik yang memilih mengadakan kegiatan untuk internal warga dalam rangka memeriahkan libur Nataru.
Seperti Kampung Keramik Dinoyo, Kampung Budaya Polowijen (KBP), dan Kampung Gribig Religi. ”Kalau di KBP sendiri, kami cenderung menggelar syukuran bersama saja. Sementara yang bersifat kunjungan sporadis biasanya di luar tanggal merah,” terang Ki Demang, sapaannya.
Selain kampung tematik, pusat perbelanjaan juga diserbu pelancong maupun warga lokal. Salah satunya yakni Malang Town Square (Matos). Marcom Manager Matos Sasmita Rahayu menyebut, jika dirata-rata dalam dua pekan terakhir, ada 33 ribu pengunjung yang pergi ke Matos per hari.
”Malah pada hari-hari tertentu bisa sampai 39 ribu pengunjung. Jadi kalau kami perkirakan total ada 500 ribuan pengunjung selama Nataru,” sebut dia. Sasmita melanjutkan, tujuan kunjungan ke Matos beragam.
Ada yang pergi berbelanja, makan, hingga menonton bioskop. Yang menjadi daya tarik kunjungan di Matos adalah program belanja. Sebab, Matos menggelar program belanja selama libur Nataru.
Perputaran ekonomi yang terjadi dari program belanja pun cukup tinggi. Setiap orang bisa menghabiskan uang senilai Rp 300 ribu. ”Karena untuk program belanja yang kami buat, minimal spending dengan nominal Rp 300 ribu,” tutur Sasmita.
Di samping program belanja, pihaknya juga menyediakan area parkir yang luas. Area parkir tersebut juga untuk bus, sehingga pelancong dari luar Kota Malang yang datang dalam jumlah banyak bisa mampir.
Demikian pula yang berkunjung ke Mal Olympic Garden (MOG). Tenant Relation MOG Peptina Makdaliana menyampaikan, kunjungan selama libur Nataru bisa mencapai 500 ribu orang. ”Karena kunjungan per hari dalam dua pekan terakhir ini sekitar 34 ribu pengunjung. Sementara pada hari normal ada 16 ribu pengunjung per hari,” tegasnya.
Kenaikan kunjungan wisatawan itu diperkuat dengan tingkat keterisian hotel. Okupansi pada momen tahun baru 2026 mencapai 90 persen. Itu sesuai dengan prediksi sebelumnya, yakni minimal menyentuh angka 80 persen. Normalnya, okupansi di angka 40 sampai 50 persen.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basoeki menuturkan, pada perayaan Natal okupansi masih berkisar di angka 60 sampai 70 persen. Angka itu terus naik menjelang momen pergantian tahun.
”Okupansi libur panjang tahun ini lebih (tinggi) dari tahun 2024. Menjelang malam pergantian tahun, tingkat keterisian kamar hotel mencapai 90 persen,” terangnya.
Agoes menerangkan, hotel yang berada di pusat kota dan dekat tempat wisata okupansinya bahkan mencapai 100 persen. Sedangkan di luar itu bervariasi. Ada yang 80 sampai 90 persen. ”Hotel di Kajoetangan masih menjadi favorit setiap tahun, hampir seluruhnya penuh. Sebab, pengunjung memang ingin menghabiskan waktu di sana,” urainya.
Agoes menambahkan, peningkatan okupansi itu juga dipengaruhi satu hal. Yaitu cuaca yang cukup bersahabat menjelang pergantian tahun. Seperti diketahui, pada awal dan pertengahan bulan Desember, Kota Malang diguyur hujan hampir setiap hari.
Hal itu, diakui Agoes, bisa saja memengaruhi tingkat keterisian kamar hotel. Ketika cuaca sedang buruk, pengunjung dari luar kota otomatis enggan bepergian. ”Beruntung cuaca normal, sehingga wisatawan tetap bisa menikmati momen pergantian tahun,” ungkapnya.
Sesuai instruksi pemerintah, Agoes memastikan hotel tidak melakukan pesta kembang api secara berlebihan. Sebagai gantinya, diadakan event hiburan secara internal di masing-masing hotel. Mulai dari gala dinner dan live music.
Di tempat lain, Cluster Manager Grand Mercure Malang Sugitho Adhi menuturkan, okupansi hotel bintang lima itu stabil di angka tinggi sejak libur Natal. Bisa mencapai 90 persen hingga 100 persen. Puncaknya pada pergantian tahun, seluruh kamar di hotel dengan 20 lantai itu penuh.
Adhi menyampaikan, banyak pelanggan yang telah memesan dari jauh-jauh hari. Utamanya melalui aplikasi daring. Itu sebagai antisipasi agar tidak kehabisan kamar pada saat peak season. ”Bersyukur sejak Natal hingga tahun baru okupansi kami sangat tinggi,” ujarnya. (mel/adk/by)
Editor : A. Nugroho