Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Belum Temukan Kasus Superflu Baru di Kota Malang, Anak-Anak Jadi Kelompok Rentan Terpapar H3N2

Aditya Novrian • Senin, 19 Januari 2026 | 11:05 WIB
Ilustrasi superflu
Ilustrasi superflu

MALANG KOTA – Memasuki awal 2026, kasus influenza A subtipe H3N2 atau yang dikenal sebagai superflu belum terdeteksi di Kota Malang. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada mengingat sepanjang 2025 lalu tercatat 18 warga terkena virus tersebut.

Kepala Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Penyakit Dalam RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang dr Heri Sutanto SpPD KPTI FINASIM menjelaskan, upaya kewaspadaan terhadap penyakit pernapasan menular dilakukan melalui Surveilans Sentinel Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang digelar Kementerian Kesehatan RI.

Di Jawa Timur, hanya dua fasilitas kesehatan yang ditunjuk sebagai lokasi surveilans, yakni RSSA dan Puskesmas Dinoyo.

LANGKAH ANTISIPASI SUPERFLU
LANGKAH ANTISIPASI SUPERFLU

Surveilans tersebut bertujuan mengidentifikasi jenis penyakit pernapasan yang diderita pasien, termasuk membedakan antara influenza A dan influenza B. Menurut Heri, influenza B umumnya menimbulkan gejala ringan. Sebaliknya, influenza A cenderung menyebabkan kondisi yang lebih berat, terutama jika terkonfirmasi sebagai H3N2.

”Sejak Agustus 2025 kami rutin mengirim sampel. Sampai sekarang belum ada pasien dewasa yang dinyatakan positif superflu,” kata Heri kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin.

Setiap bulan, sekitar lima hingga sepuluh sampel dikirim, dan sejauh ini hanya satu yang terkonfirmasi influenza A. Sampel diambil dari pasien dengan gejala batuk, pilek, dan sesak napas berat yang berlangsung lebih dari sepekan.

”Kalau influenza biasa, jarang berlangsung lebih dari tiga hari,” jelasnya. Pasien yang terkonfirmasi influenza A akan mendapat terapi oseltamivir. Sementara pasien influenza B lebih diarahkan untuk istirahat cukup dan menjaga pola hidup sehat.

Ketua Surveilans Aktif RSSA Dr dr Ery Olivianto SpA(K) menambahkan, seluruh sampel awal dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya sebagai laboratorium rujukan Jawa Timur, Bali, dan NTB. ”Jika hasilnya positif, sampel dilanjutkan ke Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan menggunakan metode next generation sequencing,” ujar dia.

Menurut Ery, kasus H3N2 lebih banyak ditemukan pada anak-anak karena termasuk kelompok rentan. Hingga Januari 2026, RSSA telah mengirim tujuh sampel. Hasilnya, enam sampel negatif dan satu sampel positif influenza B.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif menyebut belum ada laporan baru terkait temuan H3N2. Terkait kemungkinan penerbitan surat edaran kewaspadaan, pihaknya masih menunggu arahan dari Dinkes Provinsi Jawa Timur. (mel/adn)

Editor : Aditya Novrian
#sari #malang #superflu #RSSA