Bikin Konsultasi Lebih Akrab dan Tak Menggurui
PAGI di kawasan Jalan Ijen terasa lebih hidup dari biasanya. Derap langkah pelari dan pesepeda mengisi ruang Car Free Day (CFD) bercampur dengan obrolan ringan warga yang menikmati akhir pekan.
Di salah satu sudut, lima mahasiswa tampak sibuk menata meja kecil berisi bubuk warna-warni, papan permainan, dan poster sederhana. Di balik kesan santai itu, ada pesan serius yang ingin mereka sampaikan. Yakni soal stres dan pentingnya mengelolanya.
Mereka adalah mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2022. Kelimanya antara lain Fiqi Pratama Hananta, Annisa Septiani, Ilham Rafi Prathama, Muhammad Raflie Naufal, dan Mochammad Ghaisan Nasal sedang menjalani tugas akhir yang bobotnya setara skripsi.
Alih-alih memilih tema yang sepenuhnya teoritis, mereka justru turun ke ruang publik dengan kampanye sosial bertajuk Siap Waras. ”Karena setara skripsi, kami ingin tugas akhir ini tidak hanya selesai di laporan, tapi juga punya dampak nyata,” ujar Fiqi Pratama Hananta.
Sebelum menentukan tema, Fiqi dan tim melakukan riset kecil. Mereka menyebarkan kuesioner daring kepada 100 mahasiswa dari berbagai kampus. Hasilnya menjadi alarm awal. Sebanyak 50 persen responden mengaku cenderung mengabaikan stres yang mereka alami.
”Kebanyakan menganggap stres itu hal biasa, bagian dari kuliah yang memang harus dijalani,” kata Fiqi.
Pandangan semacam itu, menurut mereka, berbahaya jika dibiarkan. Stres yang menumpuk tanpa pengelolaan bisa memicu gangguan kesehatan mental yang lebih serius. Apalagi jika mahasiswa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita, baik kepada teman sebaya maupun konselor profesional.
Isu kesehatan jiwa di Kota Malang sendiri bukan hal baru. Beberapa peristiwa percobaan bunuh diri sempat terjadi dan menyita perhatian publik. Salah satunya terjadi di Jembatan Soekarno-Hatta ketika seorang mahasiswi asal Jakarta nekat melompat beberapa hari yang lalu. Beruntung, korban masih bisa diselamatkan dan mendapat perawatan medis.
”Kami melihat kejadian-kejadian seperti itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ada masalah yang lebih besar, salah satunya soal stres yang tidak tertangani,” ujar Fiqi. Dari kegelisahan itulah Siap Waras lahir. Nama tersebut dipilih dari sejumlah opsi yang sempat mereka diskusikan.
Menurut Fiqi, Siap Waras dipilih karena mengandung pesan ajakan. ”Kami ingin ini jadi ajakan kolektif. Bahwa menjaga kesehatan mental itu bisa dilakukan bersama-sama, bukan urusan individu saja,” tegasnya.
Agar kampanye yang dilakukan tidak sekadar opini mahasiswa, mereka menggandeng sejumlah mitra. Dinas Kesehatan Kota Malang dilibatkan, begitu pula organisasi mahasiswa yang fokus pada isu kesehatan jiwa, terutama dari Prodi Psikologi. Kolaborasi ini diharapkan membuat pesan yang disampaikan lebih kredibel dan tepat sasaran.
Baca Juga: Mengenal Istilah Coping Mechanism agar Tidak Mudah Stres dan Menjaga Kesehatan Mental
Strategi kampanye Siap Waras dibagi menjadi dua jalur. Pertama, kampanye langsung. Selain di Car Free Day Ijen, mereka juga menyambangi sejumlah kampus besar di Malang. Seperti Universitas Merdeka (Unmer), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hingga kini, enam kali kampanye tatap muka telah digelar.
”Kampanye langsung kami kemas santai. Ada permainan mewarnai, mini darts, dan aktivitas lain supaya orang tidak merasa sedang digurui,” jelas Fiqi.
Di sela permainan, peserta diajak berbincang soal stres yang mereka alami. Bagi yang ingin bercerita lebih jauh, tersedia konselor sebaya yang siap mendengarkan. Pendekatan ini dipilih agar mahasiswa merasa lebih nyaman dan tidak terintimidasi.
Jalur kedua adalah kampanye digital melalui Instagram dan TikTok Siap Waras. Konten disajikan dengan bahasa yang ringan dan visual yang dekat dengan keseharian anak muda. ”Kami sengaja pakai bahasa yang kekinian supaya pesannya tidak terasa berat dan membosankan,” imbuh Fiqi.
Selain memetakan kondisi mahasiswa, tim Siap Waras juga menelusuri wadah kesehatan mental yang sudah ada di Malang. Setidaknya ada lima komunitas yang bergerak di isu tersebut. Namun, mayoritas berfokus pada layanan konseling.
”Kebanyakan mengarah ke konseling. Sementara yang fokus ke manajemen stres seperti kami, sejauh ini masih jarang,” terang Fiqi. Sejauh ini, respons publik cukup positif. Banyak pengunjung CFD dan mahasiswa yang mengaku merasa relate dengan kampanye Siap Waras.
Namun, Fiqi menegaskan bahwa komunitasnya juga menyadari batasan. ”Kalau ada yang merasa mengalami masalah kesehatan mental berat, kami arahkan ke tenaga profesional, baik di puskesmas maupun rumah sakit,” pungkasnya.
Di tengah tuntutan akademik yang kian menekan, Siap Waras hadir sebagai pengingat sederhana. Bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal bertahan dari stres, tetapi juga belajar mengelolanya agar tetap waras. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian