Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Misi Pria Asal Sukun, Kota Malang Gowes Keliling Eropa

Mahmudan • Senin, 26 Januari 2026 | 09:55 WIB
TERUS MENGAYUH: Adi Pranoto beristirahat sejenak ketika melintasi Pegunungan Alpen di Swiss, Oktober 2025 lalu. Foto kanan, Adi bertemu bintang timnas Indonesia Kevin Diks di Jerman pada 18 September
TERUS MENGAYUH: Adi Pranoto beristirahat sejenak ketika melintasi Pegunungan Alpen di Swiss, Oktober 2025 lalu. Foto kanan, Adi bertemu bintang timnas Indonesia Kevin Diks di Jerman pada 18 September

Tak Sengaja Bertemu Kevin Diks di Jerman

 

SEPEDA Polygon berwarna cokelat itu menemani perjalanan Adi selama tiga pekan. Dengan jarak kurang lebih 800 kilometer, dia melintasi berbagai macam trek. Mulai jalan raya biasa hingga pegunungan Alpen di Swiss.

Dalam perjalanan itu, Adi kerap singgah sementara untuk menemui temannya yang bermukim di Eropa. Suhu minus dua derajat celsius dan dua kali ban bocor tak menjadi halangan menuntaskan rencana keliling empat negara.

Yakni Jerman, Prancis, Swiss, dan Italia dengan gowes. Perjalanan dimulai pada 17 September 2025 dari Kota Dusseldorf, kemudian berakhir di Kota Como, Italia pada 3 Oktober 2025.

TERUS MENGAYUH: Adi Pranoto beristirahat sejenak ketika melintasi Pegunungan Alpen di Swiss, Oktober 2025 lalu. Foto kanan, Adi bertemu bintang timnas Indonesia Kevin Diks di Jerman pada 18 September
TERUS MENGAYUH: Adi Pranoto beristirahat sejenak ketika melintasi Pegunungan Alpen di Swiss, Oktober 2025 lalu. Foto kanan, Adi bertemu bintang timnas Indonesia Kevin Diks di Jerman pada 18 September

Adi bukan orang berada. Sebelumnya tak pernah terbesit di benaknya untuk keliling Eropa, apalagi pakai sepeda angin. Dalam kenyataannya, pemilik warmindo sederhana itu mampu mengunjungi Eropa. Itu berkat kebaikan yang dia tanam selama sembilan tahun.

Mulanya dia mengikuti komunitas gowes internasional pada 2017 lalu. Kala itu, sekitar 100 bule pernah singgah di rumahnya. Biasanya mereka mampir ketika gowes di Malang atau sekitarnya. Jamuan yang dia suguhkan ternyata membawanya ke Benua Eropa.

Temannya yang bule menggalang dana, agar pria berusia 35 tahun itu bisa keliling negara-negara di benua tersebut. Itu bagian cari cara bule membalas jamuan yang diberikan saat di Indonesia. "Penggalangan dana dilakukan selama 1 tahun 6 bulan. Terkumpul hingga 3.000 Euro atau sekitar Rp 52 juta," ujarnya.

Dana itu digunakan untuk persiapan menuju Eropa. Mulai mengurus paspor dan visa, tiket pesawat hingga asuransi kesehatan. Akomodasi selama tiga pekan juga menggunakan duit dari penggalangan dana tersebut.

Perjalanan dimulai dari Jakarta pada 17 September lalu. Setelah tiba di Jerman langsung menuju Dusseldorf pada 18 September. Di kota itu, pengalaman yang tak diduga dialaminya. Dari 600 ribu penduduk Dusseldorf, tak disangka dia bertemu bintang timnas Indonesia Kevin Diks. Juga bertemu pemain dari klub Jerman, Borussia Monchengladbach.

Secara geografis, letak Dusseldorf memang tidak terlalu jauh dari home base klub Kevin Diks yang berada di Monchengladbach. Jarak antara kedua kota itu hanya 30 kilometer. Pertemuan tersebut menjadi salah satu momen yang dikenang Adi selama di Eropa.

"Saat itu, di kafe saya melihat Kevin Diks. Kami sempat berbicara sebentar dan saya meminta foto dengannya," terangnya dengan bangga. Dusseldorf dipilih sebagai titik start karena teman yang menggalang dana berdomisili di wilayah tersebut.

Dari kota itu, dia kemudian mengarah ke selatan hingga akhirnya sampai di Kota Karslruhe, perbatasan perbatasan Jerman dengan Prancis. "Di Prancis saya tidak lama. Hanya sehari saja di Strasbourg. Yang saya ingat di sana untuk makanan pastry sangat enak," tutur pria penghobi naik gunung itu.

Perjalanan dilanjutkan melintasi dua kota di Swiss, yaitu di Basel pada 27 September dan di Luzern pada 29 September. Dari Luzern, perjalanan menuju pegunungan Alpen dimulai. Puncak gunung pertama yang dilewati adalah Grimsel Pass. Dengan ketinggian 2.164 meter di atas permukaan laut. Dia mencapai titik itu pada 1 Oktober 2025.

Keesokan harinya, pria berdomisili di Sukun, Kota Malang itu sampai di puncak gunung kedua. Yakni Nufenen Pass dengan ketinggian 2.478 di atas permukaan laut. Dengan mengayuh sepeda perlahan, dia menikmati suguhan Pegunungan Alpen yang apik. Kanan dan kiri jalur yang dia lewati diselimuti gunung bersalju.

Ini merupakan pertama kali bagi Adi melihat salju secara langsung. Beruntung, September dan Oktober, Eropa memasuki musim gugur. Sehingga suhu di Alpen tidak terlalu ekstrem. "Suhu terendah saat itu di bawah dua derajat. Tetapi saya tidak sampai hipotermia," kata dia.

Setelah perjalanan tiga hari melintasi Alpen, dia akhirnya tiba di Italia pada 3 Oktober 2025. Kota Como yang merupakan wilayah paling utara menjadi titik perhentian pertama di negara yang terkenal dengan pizza itu. Di daerah terkenal dengan danau yang memiliki pemandangan ciamik itu, dia sempat stay selama tiga hari.

Adi bertemu warga Malang yang bekerja di klub sepak bola Como. Notabene merupakan klub yang dimiliki pengusahaan Indonesia. "Seharusnya dari Como ke Milan lanjut gowes lagi. Tetapi karena waktu mepet sehubungan masa berlaku visa, akhirnya pulang naik kereta," terangnya

Keputusan itu membuat yang seharusnya gowes dilakukan sejauh 1.000 kilometer, terealisasi 800 kilometer. "Meskipun tidak sampai 1.000 kilometer, saya tetap bangga bisa menyelesaikan gowes empat negara. Di akhir, saya bisa mendatangi San Siro, merupakan bonus sebagai penggemar AC Milan," pungkasnya. (*/dan)

Editor : Aditya Novrian
#Gowes Keliling Dunia #malang #eropa #Kevin Diks