Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menengok Warung Azzahra yang Rutin Bagikan Makanan Gratis, Lokasi Pembagian Harus Jauh dari Usaha Kuliner

Aditya Novrian • Kamis, 29 Januari 2026 | 09:52 WIB
SELALU RAMAI: Pengemudi ojek online antre mengambil makanan yang disajikan Warung Azzahra secara gratis kemarin.
SELALU RAMAI: Pengemudi ojek online antre mengambil makanan yang disajikan Warung Azzahra secara gratis kemarin.

PAGI itu, suasana di pojok Hotel Trio Indah belum sepenuhnya ramai. Matahari baru naik, tapi sebuah mobil Daihatsu Luxio putih sudah terparkir rapi di sisi jalan. Di bodinya tertera tulisan sederhana, Warung Azzahra. Tidak ada spanduk besar atau pengeras suara.

Hanya sebuah mobil, beberapa termos besar, dan orang-orang yang datang perlahan, seperti sudah tahu ada sesuatu yang hangat menunggu di sana. Sejak pukul 08.00, warga mulai berdatangan. Ada pengemudi ojek online yang masih mengenakan jaket hijau, ada lansia yang berjalan pelan dengan tongkat, ada pula mahasiswa yang singgah sebelum kuliah.

Mereka mengantre tanpa banyak bicara. Hari itu menu yang disajikan adalah soto. Uap panas mengepul saat tutup panci dibuka. Aroma kuah gurih bercampur dengan wangi jeruk nipis dan bawang goreng.

Satu per satu mangkuk dibagikan. Tidak ada syarat, tidak ada pertanyaan. Setelah makan, wajah-wajah yang semula datar berubah menjadi senyum ringan. Beberapa mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Ada pula yang sempat mendoakan lirih sebelum pergi. Bagi Warung Azzahra, itulah bayaran tertinggi.

Di balik kegiatan itu, ada sosok Firman Abadi. Pria 36 tahun itu menjadi penggagas Warung Azzahra, sebuah komunitas berbagi makanan dan minuman gratis yang rutin berkeliling di Kota Malang hingga Kabupaten Malang. Awalnya, kegiatan itu jauh dari kata mapan. Firman memulainya bersama sang istri pada 2023, hanya bermodal niat dan mobil pribadi.

Ia masih ingat betul masa-masa awal itu. Saat berhenti di pinggir jalan, tidak banyak orang yang berani mendekat. Ada yang menatap curiga, ada yang hanya melirik lalu pergi. Firman dan istrinya bahkan harus memanggil orang-orang agar mau datang.

”Dulu susah sekali. Pernah pindah tempat dua kali sampai jam 12 siang makanan belum habis. Mungkin orang-orang takut harus bayar,” kenangnya. Kecurigaan itu sempat membuat Firman berhenti. Program berbagi makanan gratis itu vakum beberapa waktu. Bukan karena kehabisan niat, tetapi karena ia merasa belum menemukan cara yang tepat.

Baru pada akhir 2024, Warung Azzahra kembali bergerak. Kali ini tidak lagi berdua. Sepasang suami istri yang merupakan teman Firman ikut bergabung. Perlahan, lingkaran kecil itu membesar.

Nama Warung Azzahra mulai dikenal. Warga mulai hafal jadwal dan titik lokasi. Mobil dengan tulisan khas itu kerap terlihat di beberapa tempat. Kawasan Hotel Trio Indah dan Jalan Wilis di Klojen, Ki Ageng Gribig di Kedungkandang, Jalan Raya Sumbersari di Lowokwaru, bahkan sesekali hingga Singosari.

Biasanya mereka turun setiap Selasa dan Rabu dengan lokasi yang berpindah-pindah. Dalam satu hari, Warung Azzahra bisa menyiapkan lebih dari 250 porsi makanan. Menu berganti-ganti, dari soto, nasi campur, hingga jajanan sederhana. Semua gratis. Tidak ada pembedaan latar belakang.

Agama, suku, status ekonomi, semua sama di depan mangkuk makan. Siapa pun yang datang berhak menikmati. Firman hanya memberlakukan satu aturan tak tertulis. Jika antrean ramai, setiap orang maksimal dua porsi. Itu pun dengan melihat situasi. ”Kalau masih banyak, ya boleh nambah. Yang penting semua kebagian,” ujarnya.

Sepanjang 2025, Warung Azzahra mencatat telah membagikan 11.753 porsi makanan gratis secara keliling. Ditambah tujuh kali pelaksanaan pada awal 2026, jumlahnya melampaui 12 ribu porsi. Angka itu tidak pernah dibayangkan Firman di awal perjalanan. Apalagi, semua bermula dari uang pribadi.

Kini, Warung Azzahra mulai menerima donasi. Bukan dengan cara meminta, melainkan membuka pintu bagi siapa pun yang ingin ikut berbagi. Donasi tidak harus berupa uang. Jajanan, camilan, atau bahan makanan juga diterima. Semua disalurkan kembali kepada masyarakat.

Selain donasi, bantuan tenaga juga menjadi bagian penting. Dari yang awalnya hanya berdua, kini sekitar 20 orang tercatat aktif menjadi relawan. Mereka datang dari latar belakang berbeda. Ada karyawan, ada ibu rumah tangga, ada mahasiswa. Siapa pun boleh bergabung, langsung di lapangan.

Di balik kegiatan berbagi itu, Firman menyimpan satu prinsip yang selalu ia pegang. Lokasi pembagian makanan harus jauh dari usaha kuliner. Ia tidak ingin niat baik justru merugikan orang lain. Setiap titik dipilih dengan pertimbangan matang, agar tidak mengganggu pedagang sekitar.

”Kalau kita berbagi tapi ada yang dirugikan, itu sama saja tidak berkah,” katanya pelan. Di sudut-sudut kota, Warung Azzahra mungkin hanya singgah sebentar. Mobil datang, makanan dibagikan, lalu pergi.

Namun bagi banyak orang, kehadiran singkat itu meninggalkan rasa yang lebih lama. Bukan hanya kenyang di perut, tapi juga hangat di hati. Sebuah pengingat bahwa berbagi tidak selalu harus besar, cukup konsisten dan tulus. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#Warung #soto #berbagi makanan gratis #malang