MALANG KOTA - Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) liar di area Car Free Day (CFD) Jalan Ijen sudah dimulai Minggu lalu (25/1). Meski begitu, masih ada PKL liar yang berkeliaran di jalur olahraga selama CFD berlangsung. Itu menjadikan Jalan Ijen yang seharusnya bisa dipakai jalan santai, bersepeda, atau berlari jadi menyempit.
Rata-rata PKL liar yang masih lolos dari pengawasan adalah pedagang asongan. Apabila ada pengunjung yang membeli dagangan mereka, itu menyebabkan kerumunan kecil. Sedikit banyak kerumunan itu menghalangi pengunjung lain yang berniat berolahraga.
Seperti dirasakan Rindra Afrizqi, 21, alumnus Universitas Negeri Malang (UM) yang saat ini bekerja di Malang. Dia menyebut, seharusnya jalur olahraga steril dari pedagang apa pun. Apalagi, saat ini CFD sudah makin ramai. ”Sekitar jam 8 pagi sudah pasti full Jalan Ijennya. Kalau PKL liar tetap berkeliaran rasanya ruang gerak makin terbatas dan jadi tidak nyaman,” ujarnya.
Menurut dia, belum ada penindakan yang jelas terkait PKL liar yang berjualan di CFD. Meski Minggu lalu (26/1) area di depan Museum Brawijaya sudah steril, masih banyak PKL liar yang berjualan di tengah jalan. Ditambah minimnya kesadaran PKL terhadap batas wilayah yang boleh dan tidak boleh berjualan.
Keluhan serupa juga disampaikan Ihza Fi’lia, alumnus Universitas Brawijaya (UB) yang saat ini bekerja di Malang. Beberapa kali dia datang ke CFD malah menemukan hal miris. Yaitu sampah yang berserakan setelah CFD bubar. Terutama di area taman di tengah Jalan Ijen.
Menurut dia, jumlah PKL yang meningkat berkontribusi besar terhadap bertambahnya sampah selama CFD. Itu ditandai dari sesaknya area Museum Brawijaya yang menjadi sentra PKL saat CFD. Namun tempat sampah yang disediakan pemerintah kota cukup minim. ”Seringnya tempat sampahnya sudah penuh, jadi bingung mau dibuang ke mana lagi,” papar Ihza.
Untuk itu, butuh regulasi penataan PKL yang tepat, termasuk pembatasan penggunaan wadah sekali pakai. Ketika aturan seperti itu dijalankan, dia yakin area PKL jadi lebih rapi dan sampah bisa diminimalkan. Itu bisa menjadi win-win solution agar CFD tetap sesuai tujuan awalnya, yakni mewadahi dan mendukung masyarakat Kota Malang menjalani hidup sehat. (aff/by)
Editor : Aditya Novrian