MALANG KOTA - Ancaman demam berdarah dengue (DBD) di Kota Malang belum juga mereda. Alih-alih menurun, angka kematian justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Sepanjang 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat lima kasus kematian akibat DBD. Jumlah itu menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir (selengkapnya baca grafis).
Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menyebutkan, pada dua tahun sebelumnya angka kematian akibat DBD tercatat lebih rendah. Pada 2023 dan 2024, masing-masing terdapat empat kasus kematian. ”Kalau dibandingkan, 2025 memang paling tinggi,” ujarnya.
Kematian akibat DBD tersebut tidak terpusat di satu wilayah. Sejumlah kelurahan tercatat pernah mengalami kasus serupa, di antaranya Bandungrejosari, Tanjungrejo, Kotalama, Bunulrejo, serta beberapa kelurahan lain. Sebaran ini menunjukkan bahwa risiko DBD masih mengintai hampir di seluruh penjuru kota.
Dari sisi jumlah kasus, tren fluktuatif juga terlihat. Pada 2023, Dinkes mencatat 462 kasus DBD. Angka itu melonjak tajam pada 2024 hingga mencapai 777 kasus. Memasuki 2025, jumlahnya sedikit menurun menjadi 715 kasus, namun tetap berada di atas angka 300 kasus.
”Untuk awal 2026 ini belum ditemukan kasus, tapi tentu kami berharap jumlahnya bisa terus ditekan,” kata Husnul. Menurutnya, salah satu persoalan utama terletak pada masih tingginya tempat perindukan nyamuk di lingkungan permukiman.
Upaya pemberantasan DBD dinilai tidak akan efektif jika hanya mengandalkan penanganan medis. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) tetap menjadi kunci utama, terutama melalui gerakan 3M dan 3M plus. ”Kalau perindukan nyamuk bisa dihilangkan, siklus hidup nyamuk dari telur sampai dewasa akan terputus. Itu otomatis menurunkan risiko penularan,” jelasnya.
Namun, kondisi di lapangan belum sepenuhnya ideal. Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kota Malang saat ini baru mencapai 92 persen. Padahal, ambang aman yang disarankan berada di angka 95 persen. Selisih kecil itu justru berpotensi besar memicu lonjakan kasus.
Husnul juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada pada periode rawan, khususnya Maret dan April. Dua bulan tersebut kerap menjadi puncak kasus DBD seiring meningkatnya curah hujan. ”Genangan air sering tidak disadari, padahal itu yang jadi tempat nyamuk berkembang,” ujarnya. (mel/adn)
Editor : Aditya Novrian