MALANG KOTA – Setelah empat bulan Bus Trans Jatim beroperasi, muncul evaluasi sarana dan prasarana (Sarpras), salah satunya titik henti. Usulan evaluasi titik henti dilontarkan oleh Serikat Sopir Indonesia (SSI) Kota Malang.
Ketua SSI Kota Malang Stefanus Hari Wahyudi memaparkan, titik henti berupa rambu yang perlu dievaluasi berada di depan MAN 1 Kota Malang, Jalan Raya Tlogomas. Ada dua titik henti di area tersebut yang lokasinya terlalu dekat, yakni rambu Tlogomas 1 dan rambu Tlogomas 2.
Rambu di Jalan Raya Tlogomas Nomor 21 itu diusulkan untuk dikaji. ”Baik titik henti yang mengarah ke Terminal Landungsari maupun ke Dinoyo. Lokasinya saling berdekatan," ujar Sam Obek, sapaan akrab Stefanus Hari Wahyudi.
Menurut dia, adanya titik henti yang saling berdekatan berdampak pada sopir angkutan perkotaan (angkot). Mereka khawatir akan berdampak terhadap penurunan jumlah penumpang angkot. "Apalagi trayek yang di sekitar sana (Jalan Raya Tlogomas) banyak. Ada trayek LG, GL, AL, LDG, dan ADL. Satu trayek bisa sampai 100 armada,” beber dia.
Pihaknya lantas bersurat ke Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur. Menanggapi surat dari SSI Kota Malang, dishub akhirnya menggelar pertemuan di Kantor UPT Pengelolaan Prasarana Perhubungan LLAJ Malang, Rabu lalu (4/2).
Kepala Seksi Sarana Angkutan Dishub Provinsi Jawa Timur Cito Eko Yuli Saputro menjelaskan, ada beberapa aspek yang dikaji dari keberadaan rambu bus di depan MAN 1 Kota Malang.
Salah satunya posisi rambu yang berdekatan dengan titik henti lainnya. Kemudian dari aspek keselamatan, posisi rambu dinilai kurang efektif. Sebab tidak ada cekungan atau lahan sempit yang bisa digunakan penumpang untuk menunggu.
Aspek lainnya yang menjadi pertimbangan adalah jumlah penumpang. Jika dihitung sejak November sampai sekarang, penumpang yang naik di rambu Tlogomas 1 (arah Kota Batu) sebanyak 409 jiwa dan yang turun 1.223 penumpang.
Sementara rambu Tlogomas 2 (arah Kota Malang) sampai sekarang tercatat 1.882 penumpang naik dan 875 penumpang turun. "Kalau dirata-rata secara harian, untuk yang naik di rambu Tlogomas 1 ada 6 penumpang dan rambu Tlogomas 2 ada 26 penumpang.
Sementara yang turun di rambu Tlogomas 1 sebanyak 17 penumpang dan di rambu Tlogomas 2 ada 12 penumpang," terang Cito.
Dari data yang ada, mobilitas penumpang di rambu Tlogomas 1 tergolong sedikit. "Karena itu dalam forum kemarin (Rabu, 4/2), kami sepakat menggeser dan mencari titik henti baru yang memiliki bangkitan penumpang tinggi," tegas Cito.
Namun, Cito belum bisa memastikan mengenai perubahan titik henti. Sebab dalam waktu dekat, pihaknya akan turun ke lapangan bersama SSI Kota Malang dan komunitas pegiat transportasi dari Transport for Malang.
Kepala UPT UP3 LLAJ Malang M. Binsar Garchah Siregar menambahkan, pihaknya berupaya menyerap aspirasi. Baik dari perwakilan masyarakat maupun sopir angkot. "Ini untuk menentukan layak atau tidaknya titik henti bus di depan MAN 1 Kota Malang," ucapnya.
Wahyu Styo Pratama dari Komunitas Transport For Malang berpendapat, pihaknya turut melakukan survei untuk melihat kondisi di sekitar MAN 1 Kota Malang. Menurut dia, jarak dari rambu Tlogomas 1 dan 2 ke rambu lain seperti di dekat Unisma masih tergolong dekat yakni antara 400-500 meter. "Namun yang menjadi tantangan di sana adalah aksesibilitas," tutur Wahyu.
Dia menyebut, akses menuju antar titik henti kurang memadai. Tidak ada pedestrian dan ada halangan berupa gorong-gorong. Beberapa kondisi tersebut rentan terhadap keselamatan penumpang angkutan. Pihaknya menunggu tindak lanjut dari kajian soal rambu di depan MAN 1 Kota Malang. (mel/dan)
Editor : Aditya Novrian