Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Walking Race Menjadi Ajang Malang Good Guide Kenalkan Sejarah Kota, Peserta Dibekali Sejumlah Clue

Aditya Novrian • Senin, 9 Februari 2026 | 18:00 WIB
SERU DAN MENANTANG: Peserta Malang Walking Race 2025 membaca petunjuk atau clue yang diberikan panitia di salah satu warung kopi di Kec. Klojen, (21/12/2025). Malang Good Guide For Radar Malang.
SERU DAN MENANTANG: Peserta Malang Walking Race 2025 membaca petunjuk atau clue yang diberikan panitia di salah satu warung kopi di Kec. Klojen, (21/12/2025). Malang Good Guide For Radar Malang.

Cara belajar sejarah yang ditawarkan Malang Good Guide cukup unik. Lewat event rutin bertajuk Malang Walking Race, mereka mengajak setiap peserta memecahkan beberapa teka-teki. Seperti namanya, event itu mengharuskan peserta berjalan menyusuri beberapa tempat penting dan bersejarah di Kota Malang.

Begitu bendera start dikibarkan, mayoritas peserta Malang Walking Race edisi Desember 2025 tak langsung melangkah. Sebagian besar memilih berhenti sejenak dan mencoba memahami dua lembar kertas di tangan mereka. Di atas kertas itulah terhampar peta dan rangkaian clue yang mengantar mereka untuk menyusuri sudut-sudut Kota Malang.

Kecepatan mereka menggapai garis finish tidak hanya didasarkan pada kemampuan fisik saja. Namun juga bagaimana mereka memahami apa yang dimaksud dalam petunjuk yang disediakan panitia. Setiap lokasi bersejarah yang ditemukan menjadi checkpoint. Di titik itu juga ada petunjuk baru untuk membuka jalan ke titik berikutnya.

Semakin cepat mereka memahami clue tersebut, semakin cepat pula mereka menyelesaikan lomba. Itu merupakan salah satu event yang digelar Malang Good Guide (MGG). Sejak didirikan pada 2022, mereka tidak hanya menyediakan tour kepada wisatawan mengenai tempat-tempat bersejarah di Malang. Namun juga menggelar berbagai kegiatan yang ditujukan ke generasi muda. Salah satunya lewat event Walking Race itu.

Sampai saat ini event itu sudah digelar tiga kali. Dengan masing-masing berjumlah 200 peserta. ”Jadi setiap event ada 100 tim. Masing-masing tim berisi dua peserta,” kata Angga Oi, Pendiri Malang Good Guide.

Dia menyebut bahwa pihaknya banyak melihat anak-anak muda yang tidak tahu sejarah kotanya sendiri.

Itu lah yang menggerakkan mereka untuk menggelar kegiatan yang menyenangkan dan edukatif. Awalnya, mereka ingin memberikan pengalaman berbeda setiap menggelar tour. Seperti jalan-jalan ala anak nongkrong. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka melihat ada peluang jika menggelar perlombaan jalan dan lari.

Itu lah yang mendorong mereka membuat event Malang Walking Race, Footish Malang, dan Reli Kampung. Rute yang dituju selama event tersebut juga didasarkan pada tempat bersejarah yang ada di Malang. Mulai Kajoetangan, Jodipan, hingga Klojen.

Tidak sekadar lewat, peserta lomba juga diajak memecahkan teka-teki yang berisikan petunjuk ke lokasi tertentu. Setiap pemberhentian checkpoint menyimpan suatu kisah bersejarah. Seperti awal mula gedung cagar budaya dibangun, peristiwa penting, sampai alasan penamaan suatu jalan. Tak jarang banyak informasi tersebut yang jarang diketahui orang Malang.

”Seperti Jalan Mangun Sarkoro yang dikenal sebagai Jalan Boldy. Banyak yang tidak tahu kalau Boldy itu nama pengusaha asal Armenia yang lama menetap di Malang,” terang pria yang berprofesi sebagai Event Organizer (EO) tersebut. Dari informasi tersebut dirinya memberikan petunjuk jalan pengusaha asal Armenia atau jalan yang dikenal sebagai Gang Boldy.

Terkait mencari tempat-tempat bersejarah di Kota Malang, Malang Good Guide tidak hanya menyusuri bangunan cagar budaya yang terkenal. Seperti Kampung Kajoetangan Heritage, Tugu Kota Malang, dan Katedral Malang. Namun, juga sejumlah tempat-tempat yang jarang diketahui warga pada umumnya.

”Salah satu yang pernah saya dapatkan adalah titik nol Kota Malang. Kebanyakan yang dipahami berada di sebelah utara Alun-Alun Malang, tetapi ada lagi di selatan Jembatan Brantas,” tambah Eko Ari, salah satu pendiri Malang Good Guide. Berdasar informasi yang diperoleh pada 2022 lalu, titik nol pertama berada di Jembatan Brantas.

Itu dibangun pada 1869 ketika Belanda membangun jalur kereta api (KA) ke Pasuruan. Sebab, dulunya tempat tersebut digunakan sebagai pusat pemerintahan. Perpindahan titik nol kilometer Malang disebut-sebut terjadi setelah wilayah yang semula berstatus kabupaten berubah menjadi kotapraja.

Versi lain menyebutkan, perubahan itu berlangsung pada masa pendudukan Jepang pada 1942, ketika titik nol lama dihancurkan. Setelah kemerdekaan, pemerintah Malang menetapkan titik nol kilometer yang baru. Sumber sejarah yang didapatinya sangat beragam.

Mulai dari literatur buku, arsip digital Universitas Leiden, komunitas pegiat sejarah, sampai akademisi yang concern di sejarah kota. Selain itu, dia juga mengandalkan cerita dari warga sekitar, khususnya yang berusia tua. Biasanya dia menggunakan cara nongkrong di warung kopi sekitar untuk menanyakan asal mula suatu tempat hingga awal penamaannya.

Untuk memastikan informasi tersebut cukup valid, pihaknya juga melakukan riset selama beberapa hari. Terkadang, data yang didapatkan bisa dengan mudah didapatkan karena tinggal menguatkan sejarah tersebut benar atau tidak.

Melihat antusiasme masyarakat yang cukup tinggi, Malang Good Guide berencana menggelar Reli Kampung pada pertengahan tahun nanti. Mereka berupaya menunjukkan sisi sejarah di gang-gang sempit, tidak hanya bangunan besar dan megah. (*/by)

 Baca Juga: Maksimalkan Atlet Jebolan Liga Pelajar untuk Persiapan Porprov X Jatim 2027

Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela

Editor : Aditya Novrian
#walking race #malang