Bantu Pelaku Usaha Kembali Membuka Lapak
TERIK matahari terasa cukup panas di Kabupaten Aceh Tamiang. Angka di termometer menyentuh 32 derajat Celsius sementara angin kering mengaduk debu dari lumpur sisa banjir yang mulai mengeras di sepanjang jalan. Reruntuhan bangunan dan aspal retak menjadi panorama harian yang tak pernah absen dari pandangan Budi Sasmitro.
Kota itu belum sepenuhnya pulih dari luka. Beberapa sudut masih tampak setengah lumpuh. Namun, denyut kehidupan tetap bertahan perlahan tapi pasti. Pada Rabu (18/2), suasana terasa lebih lengang dari biasanya. Warga Aceh menjalankan tradisi Meugang. Yakni memasak bersama sehari menjelang puasa dan kemudian berdiam diri di rumah pada hari pertama Ramadan untuk beribadah.
Tahun ini, tradisi itu dijalani dalam suasana berbeda ketika banyak rumah telah berganti deretan tenda pengungsian yang berdiri rapat. Sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi tersebut, aktivitas lapangan para relawan diliburkan sehari. Meski begitu, Budi dan rekan-rekannya tidak benar-benar beristirahat.
Mereka tetap melakukan asesmen dari desa ke desa, berjalan di bawah terik matahari dalam kondisi berpuasa. Sudah 15 hari Budi bolak-balik di dua wilayah terdampak paling parah, yakni Kecamatan Bandar Pusaka dan Kecamatan Kualasimpang. Tenaganya terkuras, namun semangatnya belum surut.
”Padahal sudah masa pemulihan, tapi korban di sini tetap kesulitan air bersih dan fasilitas primer seperti kamar mandi dan WC umum,” cerita pria asal Pakis, Kabupaten Malang itu melalui sambungan telepon. Kebutuhan dasar itulah yang kini menjadi fokus utama tim relawan.
Bersama warga, mereka membangun fasilitas umum yang mendesak untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Hingga kini, sudah 11 titik sumur air bersih digali, 13 unit kamar mandi dan WC umum didirikan, serta sejumlah rumah direnovasi dan hunian sementara dibangun. Editor : A. Nugroho