MALANG KOTA - Kepadatan pengunjung di sejumlah pasar takjil Ramadan di Kota Malang kembali memunculkan ancaman pencopetan.
Untuk menganti sipasi tindak kriminal tersebut, Satpol PP Kota Malang bersama aparat gabungan meningkatkan patroli. Selain itu petugas juga mengimbau warga selalu was pada saat berada di lokasi bazar, terutama pada jam-jam men jelang berbuka puasa.
Pasar takjil yang menjamur di berbagai titik, termasuk kawa san Jalan Surabaya, Universitas Negeri Malang (UM), memang memudahkan warga berburu makanan berbuka.
Namun, kerumunan yang padat juga menjadi celah bagi pelaku kejahatan. Anas (bukan nama sebenarnya), salah satu pengunjung, mengaku pernah menjadi kor ban pencopetan saat berburu takjil pada Ramadan 2024 di kawasan tersebut. Ia kehilangan telepon genggam yang sebelumnya disimpan di saku jaket.
“Saat membayar di salah satu lapak, ponsel saya masih ada. Setelah itu saya raba, sudah hilang,” ujarnya. Saiful Anam, pedagang es kelapa yang rutin berjualan di lokasi, membenarkan risiko kehilangan barang meningkat saat kondisi pasar sangat padat.
Ia bahkan pernah menyaksikan langsung aksi pencopetan terjadi di tengah kerumunan jelang waktu berbuka.
“Pengunjung berhimpitan, jadi sering tidak sadar kalau barangnya diambil,” katanya. Penyelenggara telah menyiagakan petugas keamanan. Namun, pengawasan tidak akan efektif tanpa kewaspadaan pengunjung.
Ia mengingatkan agar tas dibawa di bagian depan tubuh dan ba rang berharga tidak diletakkan di saku luar yang mudah di jangkau.
Sementara itu, petugas Satpol PP Kota Malang, Anton, meng aku telah membentuk tim ga bungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, Polri, dan Dinas Perhubungan (Dishub) untuk menjaga keamanan pasar takjil. Pengamanan tidak hanya berfokus pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga pada pence gahan tindak kriminalitas.
“Selain patroli keliling, kami menyampaikan imbauan lewat pengeras suara agar warga lebih waspada,” ujarnya saat dikonfirmasi 19 Februari lalu.
Anton juga mengingatkan pengunjung untuk tidak mengenakan per hiasan mencolok yang berpotensi memancing aksi kejahatan. Pembayaran nontunai melalui QRIS juga disarankan untuk meminimalkan risiko kehilangan uang tunai.
“Dengan transaksi digital, war ga tidak perlu membuka dompet atau membawa uang tunai da lam jumlah besar,” katanya. Meski aparat meningkatkan pengamanan, Anton menegaskan kewaspadaan pribadi tetap menjadi kunci.
Di tengah keramaian, pelaku kejahatan kerap sulit dikenali dan cepat meng hilang di antara kerumunan. (Nila Ratnasari/Layyina Faza Dzulhijah/ori/dre)
Disunting kembali oleh: Satya Eka Pangestu
Editor : Aditya Novrian