HALAMAN Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang siang itu tampak riuh. Puluhan murid duduk berkelompok di lantai, menunduk serius di atas kertas gambar. Spidol dan krayon berpindah tangan, membentuk poster-poster bertema Pondok Ramadan.
Suasana tampak hidup. Tidak ada wajah murung, meski sebagian dari mereka baru saja kembali berpisah dengan orang tua.
Siswa laki-laki mengenakan sarung dan baju takwa lengkap dengan kopiah. Sementara siswa perempuan tampil serasi dengan gamis dan kerudung senada. Pemandangan yang menunjukkan Ramadan di sekolah berasrama itu berjalan dengan ritme khasnya sendiri.
Padahal sehari sebelumnya, suasana sempat berbeda. Beberapa siswa masih menangis saat diantar kembali ke asrama. Ada yang merengek, ada pula yang berkali-kali memeluk orang tuanya.
Namun suasana haru itu cepat berganti. Begitu kembali bertemu teman-teman, mereka kembali berbaur dan menjalani hari-hari puasa dengan lebih ringan.
Di SRMP 16, aktivitas selama Ramadan memang dimulai lebih dini. Jika hari biasa siswa bangun pukul 04.00, selama bulan puasa alarm kehidupan asrama dimajukan satu jam lebih awal. Pukul 03.00 seluruh penghuni sudah harus terjaga.
Setengah jam kemudian, mereka harus sahur saat petugas patrol berkeliling membangunkan siswa. ”Petugas yang membangunkan adalah pengurus asrama. Mereka sama-sama murid dan bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan teman-temannya,” ujar Wali Asrama SRMP 16 Kota Malang Zainul.
Para pengurus bahkan harus bangun lebih awal lagi, sekitar pukul 02.30. Tugas mereka bukan sekadar membangunkan, tetapi memastikan semua berjalan rapi. Dari situlah, kata Zainul, kekompakan dan rasa tanggung jawab dilatih sejak dini.
Pengurus juga mendapat tugas membagi jatah makan. Sistem piket dibuat bergilir agar setiap siswa merasakan peran yang sama. Selain melatih kepemimpinan, pola ini juga menanamkan nilai keadilan di antara mereka.
Seusai sahur, kegiatan berlanjut dengan salat subuh berjamaah. Tidak berhenti di situ, siswa yang sudah dijadwalkan langsung maju menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum). ”Khusus kultum ini kami adakan untuk melatih public speaking para siswa,” lanjut Zainul.
Setiap anak mendapat giliran tampil. Tema sudah disiapkan, latihan pun dilakukan beberapa kali sebelumnya. Para wali asuh aktif mendampingi agar siswa percaya diri saat berbicara di depan teman-temannya.
Rutinitas pagi kemudian beralih ke kegiatan sekolah. Para siswa berganti seragam sesuai jadwal. Selama Ramadan, durasi pelajaran memang dipangkas sekitar 10 menit dari hari biasa agar ritme belajar tetap terjaga.
Sekolah juga memberi ruang istirahat tambahan. ”Khusus Ramadan kami juga memberi jam tidur siang untuk siswa,” papar Zainul. Kebijakan itu cukup membantu. Dengan jadwal bangun lebih pagi, waktu istirahat siang menjadi penopang stamina mereka.
Menjelang sore, suasana kembali hidup. Setelah salat asar, giliran siswa lain menyampaikan kultum. Bagi yang membutuhkan penguatan akademik, tersedia bimbingan khusus. Mulai dari latihan membaca, penguatan numerik, hingga pemahaman bacaan.
Rangkaian kegiatan baru benar-benar mereda setelah buka bersama, salat magrib, tarawih, dan belajar malam. Pukul 21.00, hari ditutup dengan refleksi harian. Enam bulan terakhir, perubahan perilaku siswa mulai terasa. Jika di awal masa tinggal banyak yang memberontak karena rindu rumah, kini sebagian besar sudah lebih betah.
Zainul masih ingat betul masa-masa awal itu. ”Tiap hari dulu pasti ada yang menangis minta pulang,” kenangnya.
Namun adaptasi berjalan pelan-pelan. Ada yang mulai nyaman karena suasana asrama ramai, ada pula yang merasa cocok dengan pola hidup teratur. Bahkan tak sedikit yang justru lebih menikmati kebersamaan di asrama.
Salah satunya Haikal, siswa tertua di SRMP 16. Remaja 18 tahun itu punya alasan sendiri. Di rumah, Haikal hanya tinggal bersama kakaknya yang sudah berkeluarga. Ia telah lama kehilangan kedua orang tuanya. Karena itu, Ramadan di asrama justru memberinya rasa kebersamaan yang dulu jarang ia rasakan.
”Jadi lebih senang puasa di sini karena ada yang bangunin dan ada teman makan,” tuturnya saat ditemui kemarin.
Di SRMP 16 pula, Haikal mulai menemukan panggungnya. Ia kini aktif di kegiatan teater. Bulan lalu, ia bahkan mendapat kesempatan tampil mewakili Malang di Jakarta atas undangan Dinas Kebudayaan.
Perlahan, masa depan Haikal terasa lebih terbuka. Meski usianya lebih tua dari sebagian teman seangkatannya, ia kini tampak menyatu.
Ramadan di asrama mungkin tidak selalu mudah bagi anak-anak itu. Tetapi di balik jadwal yang padat dan rindu yang sesekali datang, mereka sedang ditempa menjadi pribadi yang lebih mandiri. Hari demi hari, sejak sahur pertama hingga lampu asrama dipadamkan setiap malam. (*/adn)
Editor : A. Nugroho