MALANG KOTA – Memasuki Ramadan, anak jalanan (anjal) maupun gelandangan dan pengemis (gepeng) makin menjamur. Mereka beroperasi di pusat keramaian hingga mengiba di rumah ibadah, namun nihil penindakan.
Pantauan Jawa Pos Radar Malang, anjal-gepeng kerap mangkal di Alun-Alun Merdeka, simpang empat di sepanjang jalur protokol, dan pusat perbelanjaan seperti Gajahmada Plaza (selengkapnya lihat grafis)
Khusus Ramadan, mereka bekerja sore hingga malam. Mulai terlihat mangkal sekitar pukul 15.00, kemudian pukul 23.00 meninggalkan lokasi. Berdasar pantauan Ramadan tahun lalu, jumlah anjal-gepeng yang masuk Kota Malang terus bertambah hingga Hari Raya Idul Fitri. Mayoritas dari luar kota. Dikirim ke Malang menggunakan mobil, kemudian didrop di titik tertentu.
Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Umum (KKU) Satpol PP Kota Malang Mustaqim Jaya mengatakan, pihaknya terus memantau keberadaan anjal-gepeng. Dia mengungkapkan alasan belum menertibkan mereka.
“Karena kami pantau belum ada pergerakan anjal-gepeng yang mengganggu masyarakat, jadi belum ada penindakan saat Ramadan ini,” ujar Mustaqim kemarin (24/2).
Jika keberadaan mereka nantinya meresahkan, pihaknya meminta kepada masyarakat aktif melapor. Dia mengaku kesulitan melakukan penertiban karena selama ini sering kucing-kucingan dengan personel satpol PP. Ketika ditertibkan mereka raib, kemudian muncul lagi setelah petugas pergi.
Selain anjal-gepeng yang membandel, dia mengatakan, peran masyarakat juga diperlukan untuk menekan lonjakan jumlah anjal-gepeng. Caranya dengan tidak mengasihani anjal gepeng. Misalnya tidak memberi makanan maupun uang.
”Apabila masyarakat mengabaikan, diharapkan menjadi efek jera bagi anjal gepeng,” katanya. ”Bisa jadi mereka memilih tidak mengemis di Kota Malang lagi,” tambahnya.
Kendati demikian, Mustaqim tetap menyiagakan personelnya untuk rutin berpatroli. Dia menerjunkan 7-8 anggota per kecamatan untuk menyisir jika ada anjal-gepeng meresahkan masyarakat.
“Kalau kami temukan, langsung diamankan dan dibawa ke dinsos untuk ditindaklanjuti,” kata Mustaqim.
Dia mengatakan, selama ini satpol PP hanya bertugas mengawasi lingkungan agar terhindar dari gangguan anjal-gepeng. Sedangkan untuk penanganan menjadi ranah dinas sosial (dinsos). Termasuk bimbingan dan pendisiplinan agar anjal-gepeng yang tertangkap tidak mengulangi perbuatannya lagi dan memiliki hidup yang lebih sejahtera.
Namun tak jarang Mustaqim mengaku menemukan anjal gepeng dengan identitas yang sama. Dengan kata lain, setelah diamankan kemudian dilepaskan oleh dinsos, mereka kembali beraksi di jalanan.
“Kami rasa perlu ada evaluasi lagi terkait penanganan anjal-gepeng agar tidak kembali ke jalanan lagi,” kata dia. (aff/mel/dan)
Editor : A. Nugroho