Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Konsistensi Lapas Perempuan Malang Hasilkan Pembatik Andal

Bayu Mulya Putra • Rabu, 4 Maret 2026 | 11:34 WIB

RUTIN HASILKAN PRODUK: Salah satu warga binaan LPP Kelas IIA Malang mewarnai kain batik menggunakan canting, beberapa hari lalu.
RUTIN HASILKAN PRODUK: Salah satu warga binaan LPP Kelas IIA Malang mewarnai kain batik menggunakan canting, beberapa hari lalu.

 

MALANG KOTA - Pelatihan membatik rutin diberikan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Malang kepada warga binaannya. Hasilnya, beberapa di antara warga binaan memilih fokus menjadi perajin batik dari dalam sel.

Pendamping warga binaan dari program magang Risa Azzahra menerangkan, total ada enam warga binaan yang aktif berkarya. Motif yang sering dibuat saat ini adalah loga LPP Sukun Malang.

”Warna kuning itu maskot LPP Sang Leonny. Kemudian ada juga tulisan LPP di kain tersebut,” terangnya. Motif itu, lanjut Risa termasuk mudah. Sehingga pengerjaan maksimal untuk selembar kain hanya berlangsung dalam sepekan.

PRODUKTIF: Proses pengeringan batik karya warga binaan Lapas Perempuan Malang jadi tahap akhir sebelum didistribusikan.
PRODUKTIF: Proses pengeringan batik karya warga binaan Lapas Perempuan Malang jadi tahap akhir sebelum didistribusikan.

Salah satu warga binaan berinisial SN mengaku, sebelumnya dia tidak memiliki keterampilan batik sama sekali. Dia belajar membatik di LPP Sukun sejak 2024. ”Saya mendapatkan pembelajaran mulai dari pemotongan kain. Ukurannya yang digunakan biasanya panjang 230 sentimeter dan lebar 110 sentimeter,” tuturnya.

Tahap selanjutnya yakni pencucian. Itu dilakukan untuk melihat kain tersebut ada kecacatan atau tidak. Setelah kain kering, kemudian digambar dengan kertas pola.

”Setelah menggambar pola, lanjut menggunakan canting untuk mewarnai. Itu proses yang paling susah,” kata SN. Dia menerangkan, saat mencanting, cairan malam harus menembus bagian dalam kain. Jika tidak tembus, hasilnya bakal kurang bagus. Karena itu proses mencanting membutuhkan waktu yang lama. Agar kualitas batik yang dihasilkan terjaga.

”Kalau polanya mudah itu, (selembar kain) biasanya selesai dalam satu minggu. Kalau pola rumit bisa dua minggu sampai satu bulan,” tutur SN. Dia bersyukur mendapatkan keahlian baru tersebut. SN optimistis setelah keluar dari LPP, hidupnya akan lebih baik dengan bekal keterampilan tersebut.

”Setelah memahami batik, saya akhirnya mengetahui kenapa batik tulis mahal dibandingkan yang print. Karena memang prosesnya sangat lama,” jelas SN. Sampai saat ini dia rutin menghasilkan karya-karya batik di LPP Sukun. Keterampilannya dalam mencanting juga makin terasah. (adk/by)

Editor : A. Nugroho
#LPP #pelatihan membatik #malang #perajin batik