Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Merekam Indahnya Toleransi saat Ramadan di Kampung-Kampung Heterogen (3)

Bayu Mulya Putra • Rabu, 4 Maret 2026 | 11:43 WIB

 

AGENDA TAHUNAN: Warga RT 23/RW 6, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu buka bersama di salah satu rumah.
AGENDA TAHUNAN: Warga RT 23/RW 6, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu buka bersama di salah satu rumah.

Warga dari 3 Agama di Dusun Ngandat Terbiasa Gotong Royong

MINGGU sore (1/3) sejak pukul 16.30, sekitar 50 keluarga dari lintas agama berbondong-bondong menuju salah satu rumah. Mereka membawa sejumlah makanan dan lauk pauk. Ada yang membawa nasi, sate, gorengan, es buah, kwetiau, ayam laos, kurma, hingga buah-buahan.

Mereka berkumpul di rumah warga yang bernama Patemi untuk buka bersama. Rumah itu sengaja dipilih karena punya halaman yang luas. Sehingga bisa menampung sekitar 50 keluarga dari RT 23/RW 6, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Dua meja panjang sebagai tempat menyajikan makanan diambil dari Rumah Doa Kristen di sana.

Sementara karpet serta alas untuk makan diambil dari Cetiya Setya Dharma Dusun Ngandat, tempat peribadatan masyarakat beragama Buddha. Untuk perangkat sound system diambil dari Masjid Al-Fatah. 

DARI LINTAS AGAMA: Warga RT 23/RW 6, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kota Batu membentangkan banner berisi kalimat toleransi.
DARI LINTAS AGAMA: Warga RT 23/RW 6, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kota Batu membentangkan banner berisi kalimat toleransi.

Banner bertuliskan ’Indahnya Kebersamaan dari dan untuk Warga RT 23 RW 6 Ngandat Kidul’ dibentangkan di depan rumah Patemi.

Agenda buka bersama semacam itu sudah dilakukan sejak 2025 lalu. Rangkaian acara sengaja dibuat santai dan mengalir. Doa bersama dipimpin secara Islam. Masyarakat dari agama lainnya menunduk dan berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Sembari menunggu azan Magrib, ceramah dan sambutan disampaikan.

Materi ceramahnya ringan, terasa heterogen, tidak terkesan menggurui. Dalam sambutannya, Ketua RT 23 Karjono meminta semua pihak untuk terus merawat kerukunan semacam itu. ”Sejak kecil di sini sudah biasa saling berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda agama,” kata pria kelahiran 1967 itu. 

Parcel untuk setiap keluarga juga sudah disiapkan. Isinya bahan kebutuhan pokok untuk menyambut hari raya Idul Fitri. Sumber dananya berasal dari iuran rutin yang dibayarkan tiap bulan. ”Jadi (iuran rutin) Rp 45 ribu per bulan itu untuk uang sosial, kas RT, uang kematian, serta iuran sampah. Baru kalau ada sisanya digunakan untuk parsel ini,” ujar Karjono. 

Untuk kegiatan buka bersama, warga tidak dikenai tambahan iuran uang. Mereka hanya perlu membawa bahan makanan untuk dimakan bersama-sama. Supaya warga tidak membawa menu yang sama, mereka mendata apa saja yang dibawa dari tiap rumah. Pendataan dilakukan lewat melalui grup WhatsApp (WA) RT.

Dengan begitu, menunya bakal beragam. Masing-masing warga yang datang ke acara buka bersama itu juga berupaya menunjukkan toleransinya. ”Saya hari ini sengaja menggunakan sarung untuk menghormati masyarakat Muslim di sini,” kata Suwono, salah seorang warga yang juga penyuluh agama Buddha di Kemenag Kota Batu. 

Sebelum buka bersama, pada siang harinya bapak-bapak di sana bergotong royong membersihkan musala. Baik Muslim maupun non-Muslim saling bergotong royong.

Di Dusun Ngandat memang ada berbagai organisasi kemasyarakatan yang dibentuk. Seperti Forum Anak, Perkumpulan Muda-Mudi RW 6, PKK, hingga kelompok bapak-bapak. Semuanya punya agenda masing-masing. Pada 28 Februari lalu, ibu-ibu PKK lintas agama menggelar kegiatan berbagi 400 takjil.

Itu dibagikan door to door alias berkunjung ke tiap rumah dan sisanya dibagikan ke masyarakat yang melintas. ”Pembagian ke masing-masing rumah dibantu Perkumpulan Muda-Mudi RW 6 atau Abhiyuva,” kata Ketua Abhyuva Pratama Adi Panna. 

Rencananya, pada 7 Maret mendatang mereka juga berkolaborasi dengan lintas agama untuk kembali berbagi takjil. Mereka tergabung dalam Abhyuva, Remaja Masjid (remas), Remaja Budha atau Patria, dan Forum Anak Dusun Ngandat. ”Kami akan memanfaatkan dapur di Cetiya Setya Dharma untuk memasak menu takjilnya,” ujar Pratama. 

Biasanya, tiap komunitas membuat 50 takjil. Sehingga proyeksi takjil yang dibagikan sekitar 200 kemasan. ”Selain bagi takjil, sepekan sebelum Lebaran kami berencana untuk ikut berkeliling membangunkan sahur,” terang mahasiswa semester akhir Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Kebiasaan menggelar kegiatan keagamaan secara bersama-sama di sana seakan menjadi budaya. Kepala Dusun Ngandat Kristiyo Wahyusetiadi turut mengamati itu sejak lama. ”Khusus untuk acara buka bersama biasanya dilaksanakan di masing-masing RT,” kata dia. 

Perbedaan memang menjadi hal lumrah di sana. Bisa tersaji hingga tingkat keluarga. Seperti Kristiyo yang seorang mualaf sejak 2014 lalu. Dia tinggal satu rumah bersama kedua orang tuanya yang berbeda keyakinan. ”Jadi di rumah saya ini orang tua Kristen, saya dan istri Muslim,” imbuh dia. Meski begitu, semua berjalan lancar dan saling menghormati satu sama lain. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#Ramadan #gotong royong #malang #Toleransi