Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Merekam Indahnya Toleransi saat Ramadan di Kampung-Kampung Heterogen (4)

Bayu Mulya Putra • Kamis, 5 Maret 2026 | 10:30 WIB

 

 

INDAHNYA KERAGAMAN: Salah satu warga Muslim yang hendak beribadah melintas di depan Pura Indra Jaya, Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
INDAHNYA KERAGAMAN: Salah satu warga Muslim yang hendak beribadah melintas di depan Pura Indra Jaya, Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Tiap Tahun Warga Dusun Junggo Rasakan Tiga Hari Raya

SORE itu, sejumlah warga Muslim berjalan bersama menuju musala. Selain melewati rumah-rumah warga, mereka juga melintas di depan pura. Langkah selanjutnya, mereka melintas di depan gereja.

Perjalanan singkat itu jadi gambaran keberagaman di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Tercatat, di wilayah itu terdapat tujuh masjid, lima pura, dan tiga gereja. Salah satunya yakni Pura Luhur Giri Arjuno, yang menjadi salah satu pura terbesar di Indonesia.

Bagi masyarakat Dusun Junggo, perbedaan keyakinan adalah warisan leluhur yang harus dirawat dengan gotong royong. ”Dulu mayoritas penduduk pemeluk agama Hindu. Seiring waktu, muncul pernikahan lintas agama yang melahirkan keragaman.  Tapi kami tetap hidup berdampingan dengan erat,” terang Pemangku Umat Hindu Dusun Junggo Tri Suhasto.

Kondisi demografi saat ini memang menempatkan umat Muslim sebagai mayoritas. Disusul umat Hindu, lalu Kristiani. Namun, jumlah tak pernah mengurangi volume kasih sayang di antara mereka. Seperti ditunjukkan pada bulan Ramadan ini.

”Kalau Ramadan, kami ikut menyemarakkan. Kami (umat Hindu) kadang membuat dan membagikan takjil sendiri di jalan untuk saudara yang Muslim,” bebernya. Kegiatan itu murni inisiatif umat Hindu sebagai bentuk penghormatan bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa.

Saat malam takbiran, para pecalang atau petugas keamanan dari Umat Hindu ikut ambil bagian. ”Mereka pakai busana adat dan saput poleng untuk berjaga di titik takbir keliling sampai salat Idul Fitri,” kata pria bergelar Mangku Resi itu.

Sebaliknya, saat umat Hindu atau Kristiani membangun tempat ibadah, warga Muslim tak segan datang untuk membantu tenaga. Gotong royong renovasi musala, masjid, hingga pura dilakukan bersama-sama tanpa melihat siapa yang akan beribadah di dalamnya.

Lebaran di Dusun Junggo adalah perayaan milik semua orang. Tradisi open house atau anjangsana menjadi ritual wajib. Warga umat Hindu dan Kristiani juga menyediakan makanan khas Lebaran dan beberapa camilan untuk tamu yang datang. ”Dalam satu tahun, warga Junggo Hari Raya-nya bisa terasa tiga kali,” ujarnya sambil terkekeh.

Bagi Kepala Desa Tulungrejo Suliono, napas perdamaian di wilayahnya merupakan warisan turun-temurun. Dia menyaksikan sendiri bagaimana warga lintas keyakinan hidup berdampingan tanpa sekat. ”Istilahnya guyub rukun seduluran. Itu sudah ada sejak zaman nenek moyang dan kami rawat sampai sekarang,” ujar dia.

Pemandangan unik kerap terlihat saat momentum hari besar keagamaan. Tradisi anjangsana atau saling berkunjung menjadi agenda wajib. Saat Idul Fitri tiba, warga pemeluk Hindu dan Kristen akan berkeliling ke rumah-rumah warga Muslim untuk bersilaturahmi. Pemandangan serupa terjadi saat Natal maupun hari besar Hindu.

Baca Juga: Merekam Indahnya Toleransi saat Ramadan di Kampung-Kampung Heterogen (3)

Solidaritas antarumat beragama juga muncul saat hari perayaan tertentu. Seperti tradisi Njenang Bareng dalam upacara Merti Bumi Tulungrejo. Tradisi itu penuh makna filosofis.

”Filosofi jenang adalah tentang kebersamaan. Rasa dan kekuatan akan tercipta melalui kesatuan,” papar pria yang akrab disapa Ki Klungsu itu. Atas konsistensi menjaga harmoni selama berpuluh tahun, Tulungrejo resmi ditetapkan sebagai Desa Sadar Kerukunan Beragama oleh Pemkot Batu sejak 2021 lalu.

Capaian itu didapat berkat keberhasilan mereka menjaga kerukunan antarumat beragama selama berpuluh-puluh tahun. Dusun Junggo menjadi bukti nyata bahwa perbedaan bukan menjadi suatu penghambat.

Kumandang takbir, mantra Hindu hingga ayat Alkitab bersahutan menjadi suatu irama yang senada. Irama yang mengantarkan kedamaian dan memupuk kebersamaan tanpa mengganggu masing-masing keyakinan. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#hari raya #umat hindu #malang #Toleransi