MALANG KOTA – Keluhan terkait kelayakan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) cukup banyak disampaikan warga. Hal itu turut diamini Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Dito Aried Nurakhmadi.
Dia mengaku bahwa juga sering mendapat keluhan dari warga. ”Salah satunya soal keberadaan TPS di Simpang Tiga Sulfat,” ucap dia. TPS yang berada di sana sebenarnya pernah mendapat pemeliharaan dan perbaikan agar kondisinya lebih layak. Namun, aktivitas pengangkutan sampah dinilai masih mengganggu.
Sebab di sana masih banyak penggerobak sampah. Terkadang, posisi para penggerobak itu terlalu berdekatan dengan jalan raya. Sehingga bau sampah mengganggu pengendara yang melintas. Para pengendara pun sedikit terhambat saat melintas karena adanya aktivitas bongkar muat sampah di sana.
Tidak hanya posisi TPS yang terlalu dekat dengan lingkungan masyarakat yang menjadi keluhan. Masyarakat juga mengeluhkan kapasitas pengangkutan sampah dari TPS ke TPA Supit Urang.
”Kalau kapasitas pengangkutan kurang, sementara jumlah sampah yang harus dibuang ke sana (TPA) banyak, itu akan memengaruhi waktu pengangkutan,” beber legislator Nasdem tersebut.
Sebagai contoh, ada TPS yang seharusnya mengangkut tiga kali sampah ke TPA. Namun realitanya hanya bisa melakukan dua kali sehari. Tidak sesuainya kapasitas pengangkutan itu dipengaruhi berbagai faktor.
Salah satunya jumlah armada pengangkutan sampah yang minim. Akibatnya, sampah-sampah yang ada jadi terlambat diangkut atau berceceran di sekitar TPS.
Dari data DLH Kota Malang, diketahui rata-rata ada 740 ton sampah yang dihasilkan setiap hari. Jumlah pengurangan sampah yang masuk ke TPA Supit Urang belum benar-benar maksimal. Sebab, hanya bisa berkurang 26 persen dari produksi sampah harian. Atau, berkurang 200 ton saja sehari.
Tahun ini, pemkot menarget pengurangan sampah ke TPA mencapai 30 persen. Atau 222 ton per hari. Salah satu yang menjadi andalannya yakni TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle). Sejauh ini ada lima TPS 3R di Kota Malang. (mel/by)
Editor : A. Nugroho