Sudah tiga tahun menjalani kehidupan di balik jeruji besi, banyak hal yang berubah dari sosok Hikmah Satwika Kuncoro Putri. Dia lebih bisa mengontrol emosinya. Banyaknya waktu untuk beribadah membuat dia merasa lebih dekat dengan sang pencipta.
Meski sudah tiga kali menjalani Ramadan di balik jeruji besi, Hikmah Satwika Kuncoro Putri tetap merasakan kerinduan yang sama. Rindu kepada keluarga dan teman di kampung halamannya. ”Satu tahun pertama, saya berada Rutan Pacitan. Kemudian sudah dua tahun ini di Malang. Rasanya memang sudah terbiasa, tapi tetap kangen suasana di luar, terutama bareng keluarga,” kata dia.
Aktivitasnya selama bulan Ramadan ini lebih banyak dihabiskan untuk beribadah. Hikmah banyak berdoa dan membaca Alquran. Baik di musala lapas maupun di selnya. ”Selama tiga tahun ini saya merasa lebih bisa fokus dalam beribadah. Tidak banyak gangguan,” imbuh perempuan berusia 25 tahun itu.
Dulu, dia mengakui banyak godaan yang membuat salatnya tertunda. Saat ini, Hikmah selalu beribadah tepat waktu. Dia menjalankan itu bukan untuk memenuhi kewajibannya saja. Namun juga memenuhi kebutuhan rohaninya.
Baca Juga: Cerita Warga Binaan yang Menjalani Ramadan di Balik Jeruji Besi (5)
”Saat di dalam (rutan) ini saya merasa lebih dekat dengan Allah SWT, meskipun di balik jeruji, hati lebih tenang. Saya yakin meskipun di Lapas, Allah SWT selalu mendengar dan nanti akan mengabulkan doa saya,” harap Hikmah. Dengan hati yang lebih tenang, kepribadian ibu satu anak itu berubah hampir 180 derajat.
Dulu, emosi Hikmah sering terpancing karena masalah sepele. Saat ini kontrol emosinya jauh lebih membaik. Berdamai dengan keadaan dan melakukan introspeksi menjadi kunci kepribadian Hikmah lebih baik.
Dia tak ingin mengulang kesalahannya sebelumnya. ”Kalau awal dulu di lapas masih sering terpancing emosi sama teman. Sekarang alhamdulillah sudah biasa dan mampu mengontrol,” kata dia.
Selama di penjara, Hikmah juga belajar arti bersyukur. Di luar, dia bisa memilih makanan apa pun yang dia mau. Terkadang makan pun juga tidak habis. Namun di Lapas Perempuan Malang, kebiasaan itu langsung berubah.
Baca Juga: Cerita Warga Binaan yang Menjalani Ramadan di Balik Jeruji Besi (4)
Apa pun yang disajikan di dalam penjara, pasti disyukurinya. Meskipun menu itu kadang bukan makanan favoritnya atau rasanya tidak enak. ”Saya selalu menghabiskan makanan saya di sini. Meskipun tidak seperti yang diinginkan, makanan ini tetap disyukuri,” ucapnya dengan nada lirih.
Dia yakin perubahan itu akan dibawanya hingga ke luar penjara. Masa hukuman yang harus dijalani dia kasus perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) adalah enam tahun enam bulan.
Sudah terpotong tiga tahun masa hukuman, Hikmah kini sudah hampir separo menjalani masa hukuman. Pengalaman di dalam membuat perempuan berhijab itu lebih menghargai hidup. Terutama untuk hidup yang lebih bebas. (*/by)
ANDIKA SATRIA PERDANA
Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi
Editor : Bayu Mulya Putra