Salah satu karyawan toko pakaian di pasar tersebut, Rafi, mengatakan bahwa perubahan pola belanja mulai terasa sejak maraknya marketplace. Penjualan tidak lagi stabil seperti sebelumnya. "Omzet memang sempat turun karena banyak orang beralih ke belanja online," ujarnya.
Baca Juga: Pelajar di Dua Sekolah Rakyat Kota Malang Dapat Bingkisan dari Kemensos RI
Meski begitu, momentum menjelang Lebaran menjadi periode yang paling dinanti pedagang. Jumlah pembeli biasanya meningkat, meskipun belum sepenuhnya memulihkan penjualan. Rafi menyebutkan, pemilik toko tempatnya bekerja masih enggan berpindah sepenuhnya ke platform digital. Mereka masih mengandalkan pelanggan lama yang tetap memilih datang langsung ke pasar.
Interaksi tatap muka dinilai menjadi keunggulan yang sulit digantikan. Sebagian konsumen juga masih ingin memastikan kualitas barang sebelum membeli. Mereka merasa lebih yakin ketika dapat melihat dan menyentuh produk secara langsung.
Baca Juga: Siapa Max Dowman? Wonderkid Arsenal 16 Tahun yang Bisa Jadi Generasi Baru Saka
Hal itu diakui Ulivia Wardatus, salah satu pembeli. Ia pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan saat berbelanja daring (dalam jaringan). Barang yang diterima tidak sesuai dengan gambar yang ditampilkan di aplikasi. "Kalau belanja langsung, kualitasnya bisa dilihat. Barang juga bisa langsung dibawa pulang," katanya.
Alasan serupa disampaikan Mufidah, warga Bululawang. Ia mengaku tetap berbelanja di pasar karena lebih sederhana dan tidak membutuhkan aplikasi digital. Selain itu, pasar tradisional masih memberikan pengalaman yang tidak ditemukan di marketplace, yakni tawar-menawar harga. "Kalau di pasar bisa nego sampai cocok," tandasnya. (Sukma Fadilah/ori/dre)
Disunting kembali oleh: Satya Eka Pangestu
Editor : Fajar Andre Setiawan