Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita Warga Binaan yang Menjalani Ramadan di Balik Jeruji Besi (7)

Mahmudan • Senin, 16 Maret 2026 | 10:49 WIB
RUTIN DOAKAN
KELUARGA:
Selama
Ramadan, harihari
Hikmah
di Lembaga
Pemasyarakatan
Perempuan
(LPP) Kelas
II A Malang
dihabiskan
dengan ibadah,
seperti salat
dan membaca
Al-Quran.
RUTIN DOAKAN KELUARGA: Selama Ramadan, harihari Hikmah di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas II A Malang dihabiskan dengan ibadah, seperti salat dan membaca Al-Quran.

Saya Hanya Mendengar Kabar Anak dari Telepon Saja

TIGA tahun pertama adalah masa yang paling berharga dalam tumbuh kembang seorang anak. Pada usia itu, anak mulai belajar mengekspresikan diri. Dari sekadar berjalan, kemudian berlari. Dari hanya mengucapkan satu dua kata, perlahan kalimat yang diucapkan semakin panjang. Namun, masa berharga itu harus dilewatkan Hikmah tanpa bisa menyaksikannya secara langsung.

Saat anak semata wayangnya menginjak usia tiga tahun, Hikmah harus menjalani hukuman pidana. Perempuan kelahiran Pacitan itu pertama kali menjalani masa tahanan di Rutan Pacitan selama satu tahun. Tahun kedua dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas II A Malang.

Kini dia sudah menjalani masa hukuman tiga tahun. Artinya, sudah tiga tahun pula Hikmah tidak melihat langsung wajah lucu anaknya. Kerinduan merangkul dan memeluk buah hati tentu tidak mudah dibendung.

Baca Juga: Cerita Warga Binaan yang Menjalani Ramadan di Balik Jeruji Besi (4)

Ia hanya bisa mengingat wajah anaknya seperti tiga tahun lalu, saat terakhir kali mereka bertemu. Seiring bertambahnya usia, Hikmah menyadari kemungkinan wajah anaknya telah banyak berubah. Namun tembok penjara membuatnya tak bisa menyaksikan perubahan itu.

“Terakhir saya melihat anak saya tiga tahun lalu. Setelah saya masuk, tidak pernah bertemu lagi,” ujar Hikmah.

Nasib yang dialami Hikmah berbeda dengan kebanyakan orang tua di luar sana. Mereka dapat menyaksikan setiap fase pertumbuhan anaknya. Melihat anak belajar berjalan lebih cepat, mendengar kata-kata baru yang diucapkan, hingga mendampingi ketika anak melakukan kesalahan dan belajar memperbaikinya.

Baca Juga: Cerita Warga Binaan yang Menjalani Ramadan di Balik Jeruji Besi (5)

Meski begitu, Hikmah tidak kehilangan harapan. Ia masih menyimpan keinginan untuk kembali bertemu dengan anaknya. Setidaknya masih menjalani sisa hukuman tiga tahun lagi sebelum masa kebebasan itu tiba.

“Sekarang dia TK besar. Kalau saya sudah bebas nanti, mungkin sudah kelas satu,” ungkapnya sambil tersenyum.

Waktu kebersamaan yang hanya berlangsung selama tiga tahun membuat Hikmah merasa belum banyak momen yang bisa ia kenang bersama anaknya. Apalagi pada usia tersebut, ingatan anak juga belum banyak tersimpan.

Karena itu, ia memiliki satu harapan sederhana ketika masa hukuman berakhir nanti.

“Ketika saya bebas, momentum bersama anak tidak akan saya lewatkan sedikit pun. Karena itu yang paling berharga,” katanya.

Sambil menunggu hari itu tiba, Hikmah hanya bisa memanjatkan doa. Setiap hari, doa-doanya selalu tertuju kepada keluarga di rumah, terutama kepada anak semata wayangnya. Ia berharap anaknya tumbuh sehat dan bahagia.

Selama ini, Hikmah hanya bisa mendengar kabar tentang anaknya melalui sambungan telepon seluler (ponsel). Ia tidak pernah lagi bertemu secara langsung.

“Saya selama ini mendengar kabar dari telepon saja, tidak pernah bertemu. Diceritakan bahwa anak saya pintar dan aktif di TK-nya. Membayangkan itu saja sudah membuat hati senang,” katanya.

Baca Juga: Cerita Warga Binaan yang Menjalani Ramadan di Balik Jeruji Besi (6), Selalu Habiskan Makanan sebagai Bentuk Syukur

Selain anak, kedua orang tua juga menjadi sosok yang sangat ia rindukan. Hikmah masih mengingat momen Ramadan di rumahnya. Waktu sahur dan berbuka menjadi saat yang paling ditunggu karena seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama.

Hikmah menyadari kehadirannya di penjara mungkin membuat kedua orang tuanya merasa malu. Namun ia percaya, kasih sayang orang tua tidak pernah berubah. Karena itu, dalam setiap doa, ia juga selalu memohon kesehatan bagi kedua orang tuanya.

Ia berharap, tiga tahun mendatang semua masih diberi kesempatan untuk berkumpul kembali. Bertemu anak, memeluk orang tua, dan kembali menjadi bagian dari keluarga seperti sebelum semuanya terjadi.

“Saya hanya bisa mendoakan semua keluarga sehat. Supaya bisa kumpul lengkap seperti sebelum masuk sini (penjara),” pungkasnya. (*/dan)

 

Editor : A. Nugroho
#warga binaan #Ramadan #lp #malang