Nasional Internasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Peristiwa Olahraga Wisata-Kuliner Ekonomi-Bisnis Opini Pendidikan Politik Sosok

Evaluasi Program MBG di Kota Malang Selama Ramadan, Menu Dianggap Gagal Penuhi Standar Gizi

Aditya Novrian • 2026-03-25 09:25:24
BERGIZI: Petugas SPPG Trunojoyo menyiapkan menu MBG untuk segera dikirim ke penerima manfaat bulan lalu.
BERGIZI: Petugas SPPG Trunojoyo menyiapkan menu MBG untuk segera dikirim ke penerima manfaat bulan lalu.

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Emosi sejumlah wali murid penerima MBG sempat memucak. CA misalnya. Dia mengungkapkan kekecewaannya terhadap SPPG Tulusrejo 2. Anak CA yang bersekolah di TK Impianku kerap menerima menu MBG yang didominasi makanan kering dan roti, serta jajanan tinggi gula.

“Beberapa kali ditemukan snack dengan kandungan gula lebih dari 10 gram, berbahaya jika dikonsumsi terus-menerus,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Malang.

Keluhan ini bukan hal baru, namun memuncak saat ditemukan puding berbelatung. CA menjelaskan, wali murid kemudian berdiskusi untuk menyoroti menu MBG yang dinilai tidak ramah anak, seperti santan dicampur susu dan dikemas dalam botol kecil berukuran 50 mililiter.

Baca Juga: Warga Kabupaten Malang Bisa Lapor Menu MBG Bermasalah via Whatsapp, Ini Nomor Aduannya

Dari kejadian itu, mereka menuntut audit dan pengawasan ketat, serta sanksi tegas bagi SPPG yang lalai, mengingat program ini menyangkut kesehatan anak dan anggaran publik.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang juga memberi catatan penting terkait MBG Ramadan, khususnya angka kecukupan gizi yang harus ditata ulang.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Disdikbud Kota Malang Muflikh Adhim meminta satuan pendidikan penerima MBG segera melapor jika ditemukan makanan tidak layak konsumsi.

Baca Juga: Terima Banyak Keluhan Menu MBG, DPRD Kota Malang Segera Panggil Seluruh SPPG

“Sebenarnya Pemkot Malang lewat satgas terus memantau MBG, tapi masih banyak SPPG yang menyalurkan makanan tidak sesuai panduan gizi atau kurang higienis,” kata Adhim.

Adhim menambahkan, pengawasan dapat diperketat melalui Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sayangnya, mayoritas SPPG di Kota Malang belum memiliki sertifikat tersebut. Untuk langkah antisipasi, ia mengimbau guru pendamping lebih waspada saat siswa menyantap MBG.

Kasus MBG Ramadan ini menjadi peringatan serius: kualitas makanan, higienitas, dan kepatuhan terhadap standar gizi tidak boleh diabaikan. Audit rutin dan pengawasan ketat menjadi kunci agar program benar-benar bermanfaat bagi anak-anak, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program publik. (aff/adn)

Editor : A. Nugroho
#Mbg #SLHS #disdikbud #malang