Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tahun Kesembilan Kampung Budaya Polowijen Lestarikan Riyoyo Kupatan

Nabila Amelia • Sabtu, 28 Maret 2026 | 08:51 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Warga di Kampung Budaya Polowijen makan
bersama menu ketupat sayur, kemarin.
LESTARIKAN BUDAYA: Warga di Kampung Budaya Polowijen makan bersama menu ketupat sayur, kemarin.

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Tradisi riyoyo kupatan terus dilestarikan di beberapa kampung. Salah satunya oleh warga Kampung Budaya Polowijen. Dalam dua hari terakhir, mereka selalu menggelar riyoyo kupatan bersama warga dan lintas komunitas.

Ketua Forkom Pokdarwis Kampung Budaya Polowijen Ki Demang Isa Wahyudi menyampaikan, riyoyo kupatan kali ini memasuki tahun kesembilan. Selama enam tahun pertama, riyoyo kupatan digelar pada malam hari. 

”Dalam tiga tahun terakhir digelar pada sore hari. Ditambah dengan halalbihalal bersama lintas komunitas, termasuk Forkom Pokdarwis Kota Malang,” kata dia, kemarin (27/3). Selain berbeda dari segi waktu pelaksanaan, ketupat atau kupat kini dibuat secara bersama-sama. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, yang dibuat oleh warga dari masing-masing rumah.

Baca Juga: Inilah Tarian Khas Polowijen Malang Penyambut Kupatan

Pembuatan kupat tahun ini sudah dilakukan pada Kamis lalu (26/3). Kemudian, kupat disajikan dalam tempeh. Penyajiannya dilakukan bersama beberapa menu lainnya.  Seperti opor, orem-orem, dan sayur pedas.

”Lalu dari warga juga membawa jajan Turahan Hari Raya (THR). Maksudnya jajan sisa seperti kue kering dibawa dari rumah untuk dimakan bersama,” sambung Ki Demang. Seluruh sajian dalam riyoyo kupatan itu dimakan bersama lintas sektor yang hadir.  Seperti komunitas perempuan bersanggul, miben voice, dan banyak lainnya.

Sembari menyantap sajian kupatan, pengunjung yang hadir juga menyaksikan sejumlah tampilan. Seperti tari topeng, tari beskalan, hingga tari ragil kuning.

Baca Juga: Mengenal Kupatan di Malang, Tradisi Unik Pascalebaran yang Masih Dilestarikan

Ki Demang berharap tradisi riyoyo kupatan tetap dilestarikan. Baik di lingkungan perkampungan maupun kota. ”Tradisi ini sebetulnya bisa membantu menarik wisatawan untuk tinggal lebih lama di Kota Malang saat Lebaran,” imbuh dia.

Bahkan ada beberapa daerah yang menggelar tradisi riyoyo kupatan dalam skala besar. Yang rutin digelar di Demak dan Trenggalek. Biasanya di daerah-daerah tersebut ada arak-arakan kupat, lempar kupat, hingga sajian hidangan dari rumah-rumah. (mel/by)

Editor : A. Nugroho
#kupatan #tradisi #malang #THR