MALANG KOTA – Aktivitas jual beli di Pasar Induk Gadang (PIG) dipastikan tidak terganggu proses relokasi. Sebab, pemindahan pedagang ke lokasi baru dilakukan secara bergiliran, sehingga transaksi tetap berjalan seperti biasa.
Koordinator Pedagang Buah Pasar Gadang Abdul Qodir memaparkan, pembangunan dilakukan dengan sistem bergilir agar aktivitas jual beli tidak terganggu. Saat ini pedagang mulai membangun setengah dari keseluruhan lapak. Di sisi lain, mereka juga masih berjualan di area lama.
"Setelah setengah bagian yang dibangun di titik relokasi selesai, yang di sana dibongkar lalu pindah ke pasar relokasi. Kemudian membangun bagian selanjutnya," tutur Qodir kemarin (5/4).
Setelah pembangunan rampung, dia melanjutkan, pedagang akan menempati lapak sesuai nomor masing-masing. Lapak juga telah diberi penanda nama pedagang. Mereka yang sebelumnya memiliki stan lama dipastikan mendapatkan lapak tanpa biaya.
Sementara untuk keperluan tambahan, pedagang mengeluarkan dana pribadi. Misalnya untuk pembangunan tembok.
"Kalau ada pedagang yang ingin menambah stan lagi, itu urunan untuk biaya pembangunan saja," tandasnya.
Terkait ukuran lapak, setiap jenis dagangan memiliki standar berbeda. Qodir menerangkan, ukuran lapak untuk pedagang buah sekitar 4×9 meter. Sementara lapak pedagang ikan memiliki ukuran 4×6 meter. Lalu pertokoan berukuran 4×7 meter, dan peracangan sekitar 2×1,5 meter.
Perbedaan ukuran tersebut berpengaruh pada besaran iuran pembangunan. Untuk lapak buah, iuran mencapai Rp 300 juta per unit, sedangkan lapak ikan sebesar Rp 250 juta, dan peracangan sekitar Rp 40 juta.
“Iuran itu digunakan untuk membangun pasar ini karena biaya bukan dari pemerintah,” jelasnya.
Meski nominal iuran cukup besar, dia memastikan seluruh pedagang menyepakati skema tersebut melalui musyawarah bersama. Bahkan, pembayaran dilakukan secara langsung tanpa sistem cicilan agar pembangunan segera berjalan.
Salah satu pedagang, Kiptiyah menyampaikan, dia sebelumnya berjualan peracangan. Untuk di tempat relokasi, rencananya Kiptiyah bakal membuka usaha warung.
"Kalau luasnya, saya tetap empat kotak. Sekitar 2 meter x 1,5 meter," terangnya.
Saat ini Kiptiyah mengumpulkan beberapa material untuk membangun bedak. Bahan yang dibutuhkan adalah seng, galvalum dan kayu.
"Bedaknya tidak beli. Ini tinggal mengumpulkan uang untuk membangun ulang lapak saja," pungkasnya.(adk/dan)
Editor : Mahmudan