MALANG KOTA – Identitas Kota Malang sebagai City of Media Arts semakin diperkuat melalui sebuah karya desain yang tidak hanya merepresentasikan visual, tetapi juga mencerminkan ekosistem kreatif kota secara menyeluruh. Desain ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor, mulai dari Pemerintahan Kota Malang, Komunitas Kreatif di bawah naungan Malang Creative Fusion, Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), organisasi profesi yang mewadahi para desainer grafis di Indonesia dan dari sektor akademik salah satunya Fakultas Vokasi, Universitas Brawijaya.
Sebagai kota yang menyandang predikat City of Media Arts, Malang dituntut memiliki komitmen jangka panjang dalam mengembangkan sektor kreatif. Hal ini mencakup penguatan pendidikan kreatif, penyediaan ruang eksperimen, kolaborasi lintas disiplin, hingga kebijakan yang mendukung inovasi dan inklusivitas. Selain itu, kota juga diharapkan aktif membangun jejaring global serta memanfaatkan media arts sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan kualitas hidup masyarakat.
Identitas dari Malang City Of Media Arts adalah hasil rancangan dari tim ADGI Chapter Malang yang terdiri dari Rezza Alam (Louds Studio), Fariz Rizky Wijaya, S.Sn., M.MT., Dan Dimas Fakhruddin, S.ST., M.Ds. yang juga selaku dosen Program Studi D4 Desain Grafis, Fakultas Vokasi, Universitas Brawijaya, menjelaskan bahwa proses kreatif desain ini telah dimulai sejak akhir 2024 melalui berbagai diskusi komunitas dan tahapan eksplorasi ide. “Perjalanannya cukup panjang, dimulai dari komunitas hingga menerima berbagai masukan selama proses perancangan,” ujarnya.
Sementara itu, Fariz Rizky Wijaya, menambahkan bahwa proyek ini bukan sebuah sayembara desain, melainkan bagian dari upaya strategis dalam penyusunan dossier setelah Kota Malang ditetapkan sebagai kota kreatif dunia oleh UNESCO.
Secara visual, desain logo membentuk huruf “M” yang dipadukan dengan siluet imajiner tugu, tersusun dari elemen-elemen yang bergerak dan berlapis. Struktur ini merepresentasikan kota sebagai ruang yang dinamis—terus tumbuh, bereksperimen, dan berevolusi. Lapisan-lapisan dalam desain tersebut melambangkan berbagai medium dalam media arts, seperti visual, audio, digital, teknologi, hingga interaksi.
Setiap elemen berdiri sebagai disiplin tersendiri, namun tetap saling terhubung dalam satu kesatuan ekosistem kreatif. Komposisi logo yang vertikal dan mengarah ke atas juga memiliki makna simbolis, yakni mencerminkan visi ke depan, pertumbuhan, serta langkah Malang dari konteks lokal menuju panggung global sebagai Kota Media Arts.
Selain struktur visual, identitas lokal diperkuat melalui penggunaan tipografi Neo Jengki yang dirancang khusus. Gaya ini terinspirasi dari arsitektur dan desain era Jengki yang berkembang di Indonesia pada masa pascakolonial. Tipografi tersebut tidak hanya menghadirkan estetika visual, tetapi juga mengandung nilai historis berupa semangat kebebasan berekspresi, transisi budaya, dan modernitas. Hal ini dinilai selaras dengan karakter Kota Malang sebagai kota kreatif yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
Dalam prosesnya, kolaborasi menjadi tantangan sekaligus kekuatan utama. Perbedaan perspektif antar pihak kerap memunculkan dinamika dalam pengambilan keputusan desain. “Tantangan terbesar ada pada komunikasi dan koordinasi, karena melibatkan banyak pihak tidak hanya dari pemerintahan melainkan ada banyak lainnya, ada vendor produksi dan produk kami,” ungkap tim perancang.
Namun, proses kolaboratif tersebut justru memperkaya hasil akhir. Desain yang dihasilkan tidak hanya menjadi simbol visual, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong, kreativitas, dan visi bersama dalam membangun masa depan Kota Malang. Sebagai pusat media arts yang berdaya saing global.
Di balik proses kreatif yang panjang, para perancang juga merasakan kebanggaan tersendiri, terutama karena dapat membawa nama Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya dalam proyek ini.
Fariz Rizky Wijaya mengungkapkan bahwa peran seorang desainer tidak hanya sebatas sebagai visualisator, tetapi juga dituntut untuk memiliki pemahaman luas terhadap berbagai aspek kehidupan. “Sebagai desainer, kami tidak hanya menjadi visualizer, tetapi juga harus belajar dari banyak hal dalam kehidupan. Desain tidak hanya fokus pada satu aspek, melainkan hasil dari pemahaman yang luas,” ujarnya.
Sementara itu, Dimas Fakhruddin menyampaikan rasa bangganya karena dapat berkontribusi langsung bagi Kota Malang sekaligus terlibat dalam proyek yang berpotensi dikenal hingga tingkat internasional.
“Secara pribadi saya bangga bisa menyumbang untuk Kota Malang. Harapannya karya ini tidak hanya dinikmati secara lokal, tetapi juga di tingkat nasional hingga internasional. Ini juga menjadi pengalaman berharga karena bisa mengerjakan desain untuk skala global,” ungkapnya.
Penulis: Fadil Mohammad dan Eka Surya Wijayanti (PSIK FV UB)
Editor : A. Nugroho