MALANG KOTA – Ternyata tidak banyak yang tahu bahwa velodrome bukan aset Pemkot Malang. Hal itu diketahui setelah dilakukan penelusuran, ternyata tidak tercatat di badan keuangan aset daerah (BKAD).
Namun selama ini banyak yang menganggap bahwa velodrome merupakan aset pemkot. Oleh karena itu, besok (2/6) anggota DPRD Kota Malang bersama Pemkot Malang akan menanyakan kejelasan status velodrome ke Pemprov Jatim.
Seperti diberitakan, Velodrome tidak pernah diperbaiki sejak tahun 1990-an. Tidak adanya revitalisasi disebabkan belum jelasnya pemilik bangunan tersebut.
Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji , setelah ditelusuri, velodrome belum menjadi aset Pemkot Malang. Tercatat dalam penguasaan aset sebatas lahan yang digunakan velodrome. Sedangkan bangunannya tidak masuk aset pemkot.
”Sehingga kami akan minta kejelasan ke provinsi, apakah velodrome tercatat di BKAD Pemprov Jatim atau tidak,” ujar Bayu.
Setelah kunjungan ke provinsi nanti, baru ditentukan nasib velodrome selanjutnya. Kemungkinan ada dua opsi yang bisa dilakukan. Pertama, jika memang aset provinsi, legislator akan mendorong Pemprov segera memberi perhatian lebih terhadap Velodrome. Opsi kedua, dia melanjutkan, jika tidak tercatat di provinsi, legislatif mendesak Pemkot Malang mencatat velodrome menjadi aset mereka.
"Jika sudah ditetapkan menjadi aset Pemkot Malang, APBD bisa masuk," jelasnya.
Anggota Komisi D DPRD Kota Malang Asmualik menyampaikan, tidak jelasnya status velodrome karena belum tertib pencatatan administrasi pada tahun 90-an. Dia menjelaskan, Velodrome ini merupakan hadiah dari pemerintah pusat atas suksesnya penyelenggaraan PON Jawa Timur.
Dia mengungkapkan, pembangunan Velodrome dilakukan oleh pihak ketiga. Kemudian belum diserahkan kepada pemda, sehingga tidak tercatat sebagai aset Pemkot Malang dan Pemprov Jatim.
"Kami dorong agar segera ditarik menjadi aset Pemkot Malang. Sebab, velodrome sangat potensial," tandas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.
Legislator dapil Blimbing itu menambahkan, velodrome bisa digunakan multi-sektor. Pertama sebagai sarana olahraga sepatu roda, sepeda, hingga skateboard. Kegunaan lainnya juga bisa dimanfaatkan untuk berkumpulnya pelaku seni.
"Organisasi sepatu roda dan sepeda mengeluh karena tempat latihannya kurang layak. Seharusnya tinggal memperbaiki velodrome, semuanya bisa dipusatkan di situ," tutupnya.(adk/dan)
Editor : Mahmudan