MALANG, RADAR MALANG – Beberapa hari terakhir, warga Malang Raya mengeluhkan suhu udara yang menurun secara drastis sehingga jauh lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari.
Fenomena alam yang terjadi setiap tahun ini dikenal masyarakat Jawa dengan istilah bediding. Fenomena ini terjadi karena adanya pergerakan angin monsun Australia yang bersifat kering dan dingin.
Meski udara dingin khas pegunungan ini terasa menyegarkan, fenomena bediding ini justru membawa sejumlah dampak terhadap kondisi fisik hingga sektor pertanian lokal. Simak empat dampak utama fenomena bediding berikut agar Anda dapat mengambil langkah antisipasi yang tepat.
Baca Juga: Malang Raya Masuk Musim Bediding, Begini Dampaknya bagi Kesehatan
Ancaman Penyakit Saluran Pernapasan (ISPA) dan Flu
Perubahan suhu yang sangat kontras, terik menyengat di siang hari lalu menurun tajam di malam hari, menjadi ancaman berat bagi imunitas tubuh. Udara dingin dan kering membuat virus lebih mudah bertahan di udara dan menyebar lebih cepat. Warga perlu mewaspadai serangan penyakit seperti Influenza, batuk, radang tenggorokan, hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan lansia.
Ancaman Hipotermia
Penurunan suhu secara ekstrem dan embusan angin kencang yang dingin di malam hari menjelang pagi ini dapat menyebabkan risiko hipotermia terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Baca Juga: Bediding di Malang Raya, BMKG Ungkap Penyebab Udara Terasa Menggigit
Ancaman Kulit Kering dan Bibir Pecah-Pecah
Penurunan kelembapan udara selama fenomena bediding berlangsung membuat cairan di kulit cepat menguap. Akibatnya kulit akan lebih cepat untuk kering, pecah-pecah, bibir pecah, serta memicu Risiko dehidrasi karena suhu dingin membuat tubuh jarang merasa haus.
Ancaman terhadap Sektor Pertanian
Fenomena bediding ini turut memberi dampak pada sektor pertanian. Udara yang sangat dingin di malam hari memicu terbentuknya embun racun atau embun upas (embun yang membeku menjadi es) di wilayah dataran tinggi. Lapisan es tipis ini dapat membuat daun-daun tanaman sayur membusuk dan mati, sehingga para petani harus lebih jeli dalam merawat tanaman agar terhindar dari gagal panen.
Editor : Aditya Novrian