Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dulu Akses Angkut Tahanan, Kini Tinggal Gerbang Kayu

Aditya Novrian • Jumat, 26 Juni 2026 | 10:26 WIB
BERSEJARAH: Petugas Lapas Kelas 1 Malang menunjukkan gerbang kayu raksasa yang pernah dilintasi jalur kereta api masa Hindia Belanda.
BERSEJARAH: Petugas Lapas Kelas 1 Malang menunjukkan gerbang kayu raksasa yang pernah dilintasi jalur kereta api masa Hindia Belanda.

Kereta api pada masa kolonial Hindia Belanda tak hanya dimanfaatkan untuk mengangkut penumpang maupun hasil perkebunan. Jalur besi itu juga pernah menjadi akses keluar masuk tahanan dan logistik menuju Lapas Kelas I Malang. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditelusuri melalui gerbang besar yang berdiri di selatan kompleks lapas.

KOTA MALANG, RADAR MALANG - Daun pintu kayu setinggi hampir dua lantai itu masih berdiri kokoh di sisi selatan Lapas Kelas I Malang. Warnanya tak lagi sepekat dahulu. Permukaan kayunya mulai kusam, bagian bawahnya lapuk dimakan usia, sementara engsel-engsel besi hitam yang menempel di kedua daun pintu terlihat berkarat. Di atasnya, gulungan kawat berduri membentang mengikuti tembok penjara yang menjulang tinggi. Dari luar, gerbang raksasa itu nyaris tak terlihat karena tertutup tembok keliling lapas yang terus diperbarui.

 Namun sekitar seabad silam, pintu itulah yang menjadi jalur keluar masuk kereta api. Bukan untuk mengangkut penumpang, melainkan membawa tahanan, logistik, hingga berbagai kebutuhan Penjara Lowokwaru yang kini dikenal sebagai Lapas Kelas I Malang.

Baca Juga: Lapas Kelas 1 Malang Gagalkan Penyelundupan Obat lewat Celana Dalam

Di hadapan gerbang kayu itu, postur tubuh orang dewasa tampak begitu kecil. Ukurannya menjadi petunjuk bahwa pintu tersebut memang dibuat untuk memberi ruang lokomotif beserta gerbong melintas menuju area dalam penjara. Kini suasananya sunyi. Tak ada lagi bunyi roda besi bergesekan dengan rel maupun ke pulan asap lokomotif yang dahulu pernah menghidupkan kawasan tersebut.

Jalur itu merupakan percabangan dari lintas utama Malang–Surabaya yang masuk hingga ke area tengah kompleks penjara. Keberadaan rel tersebut tak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya Penjara Lowokwaru. Sebelum kompleks ini dibangun, penjara Malang berada di kawasan Alun-Alun Merdeka, tepatnya di sekitar lokasi yang kini menjadi pusat pertokoan.

Pegiat Komunitas History Fun Walk Malang Hannu Ayodya Mamola mengatakan, penjara lama sudah tidak lagi mampu menampung jumlah narapidana. Karena itu, pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun penjara baru di kawasan Lowokwaru.

Baca Juga: 2.397 Napi Lapas Lowokwaru Lolos Validasi NIK, Siap Diusulkan PBI BPJS Kesehatan

Lokasinya diperkirakan berada di sekitar Ramayana sekarang. Karena kapasitasnya terbatas, akhirnya dibangun penjara baru di Lowokwaru yang masih berdiri sampai sekarang,” ujarnya.

Pada masa itu, pemerintah kolonial membagi sistem pemasyarakatan ke dalam tiga kategori. Yakni Huis van Bewaring sebagai rumah tahanan, Landsgevangenis untuk narapidana dengan masa hukuman pendek, serta Centrale Gevangenis yang diperuntukkan bagi narapidana dengan hukuman berat atau masa pidana panjang.

Perencanaan pembangunan Penjara Lowokwaru dimulai pada 1910. Konstruksi berlangsung sejak 1912 dan rampung pada 1920. Setahun kemudian, narapidana dari penjara lama dipindahkan ke kompleks baru tersebut.

Lokasi penjara dipilih bukan tanpa alasan. Kompleks ini berdiri berdampingan dengan jalur kereta api Malang–Surabaya milik Staatsspoorwegen (SS) yang telah beroperasi sejak 20 Juli 1879. Kedekatan itu membuat mobilitas pemerintah kolonial jauh lebih mudah, baik untuk memindahkan tahanan maupun mengirim logistik.

Kepala Lapas Kelas I Malang Christo Nixon Toar menjelaskan, sekitar 1923 pemerintah Hindia Belanda membangun rel percabangan dari jalur utama menuju area tengah penjara.

”Itu sekitar 1923. Jalurnya bercabang dari sekitar Jalan Tulangbawang menuju ke dalam lapas,” katanya.

Rel tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 400 meter dan dilengkapi wesel bandul sebagai pengatur perpindahan jalur. Ujung rel berada di kawasan bengkel kerja narapidana yang kini masih difungsikan sebagai Balai Bimbingan Kerja (Bimker).

Kereta memasuki kompleks lapas melalui gerbang kayu raksasa yang hingga kini masih berdiri. Tingginya di perkirakan mencapai 10 meter dengan lebar sekitar lima meter. Meski sebagian kayunya mulai rapuh, bentuk asli gerbang masih terjaga. Engsel besi berukuran besar yang menempel di setiap daun pintu menjadi penanda bahwa konstruksi tersebut memang dirancang untuk menahan bobot pintu yang sangat berat sekaligus memberi akses bagi lokomotif masuk ke dalam kompleks penjara.

Tidak ditemukan catatan resmi mengenai seberapa sering kereta keluar masuk Penjara Lowokwaru. Namun berdasarkan fungsi relnya, Christo menduga jalur tersebut dimanfaatkan untuk membawa tahanan baru, memindahkan narapidana ke penjara lain, hingga mengangkut logistik.

Bukan hanya itu. Pada masa kolonial, kereta juga diduga mengangkut narapidana yang dipekerjakan di luar penjara, seperti di kawasan perkebunan tebu yang berkembang di Malang Raya.

”Bisa jadi juga digunakan untuk mengangkut hasil karya warga binaan. Kalau memang ada produk yang dihasilkan di dalam lapas, kemungkinan besar distribusinya memakai kereta api,” jelasnya.

Sayangnya, jejak rel itu tak bertahan lama. Sekitar 1938, jalur kereta menuju penjara dibongkar. Kini hanya tersisa sedikit bekas percabangan rel di sekitar Jalan Tulang bawang. Sementara rel yang dahulu membelah halaman penjara telah hilang tanpa bekas.

Gerbang kayu itulah satu satunya saksi yang masih bertahan. Berdiri diam di balik tembok tinggi penjara, seolah menyimpan cerita tentang masa ketika deru lokomotif pernah menggema di dalam kompleks Lapas Lowokwaru. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#Akses Angkut Tahanan #Gerbang Kayu #lapas kelas 1 malang #kolonial