MALANG KOTA, RADAR MALANG - Perhelatan Malang Fashion Runaway (MFR), kemarin (12/7) memasuki hari kedua. Sekitar 436 model membawakan gaun karya 58 desainer ternama. Event fashion bertajuk fantastisca itu mengusung konsep yang memadukan kekuatan imajinasi tanpa batas dengan estetika fashion Indonesia.
Metamorph by Zack misalnya, memamerkan 24 gaun bertema fantasi. Estetika yang ditonjolkan dari pemasangan satu per satu limbah garmen membentuk pola indah di tiap gaunnya.
Baca Juga: Mengenal Seni Mixed Media, Teknik Berkarya yang Memberi Ruang Kreativitas Tanpa Batas
“Tema gaunku ini terins pirasi konsep kafe di Thailand, Lalita, yang menyajikan suasana ala negeri dongeng,” ujar Zack, desainer ternama dari Malang Kota kemarin. Gaun yang dibawakan banyak memakai permainan warna cerah. Misalnya hijau dan kuning yang identik dengan warna peri di negeri dongeng.
Koreografer MFR Agoeng Soedir mengatakan, tema Fantastisca tahun ini dipilih sebagai representasi semangat kreativitas melalui tiga filosofi utama. Pertama the unbound imagination yang menggambarkan fashion sebagai media ekspresi bebas mengeksplorasi inspirasi dari mitologi, mimpi, hingga visi masa depan. Kedua, the refined beauty yang menegaskan setiap karya berpijak pada keindahan, keseimbangan, serta kualitas artistik yang tinggi.
”Serta filosofi ketiga the sacred seven yang menjadi simbol perjalanan MFR menuju tahun ketujuh,” kata dia.
Baca Juga: Kesepian Bisa Jadi Titik Awal Kreativitas, Ini Cara Mengubahnya Jadi Energi Produktif
Total ada 53 desainer berbagai daerah di Jawa Timur yang berpartisipasi. Mereka membawa harapan bahwa karya yang dihadirkan menjadi inspirasi bagi pencinta fashion sekaligus menunjukkan perkembangan industri mode nasional. Khususnya menampilkan fashion Kota Malang yang semakin inovatif, kompetitif, dan memiliki identitas yang kuat.
Sementara itu, Regional Mall Director Lippo Malls Jawa Timur sekaligus penyelenggara acara, Fifi Trijanti mengatakan, MFR tak hanya mengusung fashion. Ada juga bazar UMKM sebagai bentuk support perekonomian regional. ”Jadi, MFR kami desain sebagai wadah kolaborasi yang mempertemukan desainer, pelaku industri kreatif, brand, UMKM, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung,” kata Fifi.
Sebab industri, dia mengatakan, fashion memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Terbukti selama pelaksanaan MFR, pengunjung di Matos meningkat hingga 30 persen.
Event tersebut sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia melalui karya karya yang inovatif dan berdaya saing dari desainer lokal. Melalui MFR tahun ini, dia berharap dapat melahirkan talentatalenta baru serta memperluas peluang kolaborasi bagi para pelaku industri fashion, khususnya di Kota Malang.(aff/dan)
Editor : A. Nugroho