Potensi Arzethian Bintang Ken Eisa di Dunia Lukisan Realisme: September Bakal Pamerkan Karya di Jerman

Nahdiatul Affandiah • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 19:03 WIB
POTENSI BESAR: Arzethian Bintang Ken Eisa foto di depan karyanya yang berjudul ’The Gold Rewards’. Lukisan itu memiliki lebar 6 meter dan tinggi 1,5 meter. (Arzethian Bintang For Radar Malang)
POTENSI BESAR: Arzethian Bintang Ken Eisa foto di depan karyanya yang berjudul ’The Gold Rewards’. Lukisan itu memiliki lebar 6 meter dan tinggi 1,5 meter. (Arzethian Bintang For Radar Malang)

KABUPATEN, RADAR MALANG - Dari kejauhan, lukisan berjudul The Faithfulness itu terlihat seperti sebuah foto. Tampak dua burung jalak Bali bertengger di ranting pohon. Paruh kedua burung itu saling berhadapan. Burung di sisi kiri yang memiliki jabrik di kepala adalah pasangan jantannya. 

Itu terlihat dari detail garis orange di kaki kanannya yang sengaja dilukis Bintang untuk membedakan jenis kelamin dua burung dalam lukisannya.

Karya itu merupakan pesanan khusus dari Niluh Swati. Seorang seniman senior Indonesia yang kerap mengadakan pameran kesenian di luar negeri. 

Hubungan baik dengan Niluh Swati itu turut membawa karya Bintang dipamerkan di luar negeri. Bulan September mendatang, karya terbaru Bintang bakal ikut dalam lawatan pameran di Jerman dengan tajuk Arte Kunstmesse Wiesbaden. 

Pelukis muda asal Singosari itu bakal menampilkan karya bersama 27 pelukis lain yang mewakili Indonesia. ”Bagian paling menantang itu saat membuat efek bokeh pada lukisan,” cerita Bintang. Terlihat dari daun-daun dan ranting pohon pada latar belakang lukisan yang tampak samar.

Dalam waktu dua pekan, Bintang berhasil menciptakan lukisan yang terkesan buram di belakang. Sekaligus tampak fokus membidik bagian dua burung dan daun di bagian depan. Pekerjaan melukis dengan detail paling kecil ala aliran realisme mulai digeluti Bintang sejak akhir masa SMP-nya. 

Saat itu pada 2018 lalu, dia berguru langsung dengan tetangganya yang merupakan senior seni lukis realisme di Malang bernama Hary Nurdianto. Dari pembelajaran itu, Bintang banyak mengembangkan kemampuannya dengan praktik terus-menerus tanpa henti.

Tantangan terbesarnya saat melukis yakni butuh tingkat ketelitian dan konsentrasi tinggi. Bintang juga harus memiliki penguasaan anatomi yang tepat untuk menjadikan objek lukis persis aslinya.

 Untuk itu, proses pembuatan lukisan sangat panjang. Terutama saat membuat proporsi anatomi, mengatur gelap-terang cahaya, dan meniru tekstur objek lukisnya.

Sejak terjun di dunia lukis, Bintang mulai disiplin membagi waktu mendalami lukisan dengan belajar. Suatu hari dia mulai berani mengunggah gambar-gambarnya di Facebook dan Instagram untuk membangun portofolio. 

Tak disangka banyak kolektor dari dalam dan luar negeri yang tertarik dengan karyanya dan mulai memesan berbagai macam lukisan. Bagi pelukis berusia 23 tahun itu, karyanya tak hanya sekadar goresan cat di atas kanvas. 

Seluruh keahlian dan pengetahuan tentang objek lukisannya juga harus ikut dicurahkan. ”Karena aliran realisme berusaha melukiskan objek persis dengan aslinya, keahlian riset data juga sangat diperlukan,” lanjut Bintang.

Butuh waktu 3 sampai 4 hari bagi Bintang untuk melakukan riset sebuah objek yang akan dilukisnya. Cara risetnya beragam, terkadang cukup mencari di internet saja. Namun beberapa objek juga didatangi langsung oleh Bintang untuk melihat detail aslinya.

Dia mencontohkan saat mendapat pesanan melukis gedung Politeknik Negeri Malang (Polinema). Bintang langsung datang ke kampus itu untuk melakukan riset objek lukisnya. Setelah itu dia mulai menggambar dalam bentuk digital dulu untuk kerangka kasarnya. Setelah klien menyetujui gambaran awal, barulah Bintang mengeksekusi lukisan itu dengan waktu cukup panjang.

Lukisan paling besar yang pernah dikerjakannya berjudul ’The Gold Rewards’. Menampilkan sejumlah ikan koi yang berenang di dalam kolam. Lukisan dengan lebar 6 meter dan tinggi x 1,5 meter itu dia selesaikan dalam waktu dua bulan. 

”Itu juga menjadi lukisan termahalku yang pernah terjual,” cerita Bintang. Sayangnya dia tak menyebut nominal pastinya. Dia juga bercerita bahwa keberangkatan karyanya ke Jerman untuk pameran September mendatang bukanlah pertama kalinya dia berpartisipasi dalam pameran di luar negeri. 

Lukisannya yang menampilkan objek harimau pernah dipamerkan dalam acara St Patrick's Day di Sydney, Australia pada Mei 2024. Sedikit banyak itu menggenjot penjualan karyanya hingga kini menjangkau kurator dari luar negeri, termasuk Singapura hingga Australia. (*/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
pelukis muda pelukis muda singosari pelukis realisme