Lingua Franca: Ngetepeng dan Dua Teori di Balik Asal Usulnya

Biyan Mudzaky Hanindito • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 09:16 WIB
Ngetepeng dan Dua Teori di Balik Asal Usulnya
Ngetepeng dan Dua Teori di Balik Asal Usulnya

”Eroh duwek abang biru langsung mlayu ngetepeng. Barang ketok bank titil macak nggliyeng,”

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Ada dua teori di balik istilah yang biasanya diikuti kata ’mlayu’ di depannya ini. Teori pertama menyebut bahwa ngetepeng berasal dari Bahasa Jawa Tengahan. 

”Itu maknanya ada halangan apa saja (ketika berlari) di jalan, pasti diterjang,” kata Pengamat Bahasa Malangan Restu Respati. Dia memperkirakan bahwa keberadaan istilah itu dipengaruhi oleh kultur Mataraman.

 Baca Juga: Lingua Franca: Bloloken, Istilah Malangan yang Alami Pergeseran Makna

”Itu perkiraan dari Bahasa Jawa Tengahan, kemunculannya pra-kolonial,” kata dia. Teori kedua menyebut bahwa ngetepeng berasal dari Bahasa Osing, Banyuwangi. Berawal dari kata ketepeng, yang merujuk pada nama tumbuhan liar atau pohon ketapang. 

Dalam ungkapan tradisional masyarakat, ada frasa "ngetepeng tanpa tinandur". Maknanya yakni pohon ketapang yang tumbuh tanpa ada yang menanam.

 Baca Juga: Lingua Franca: Nglomproh, Istilah Jawa yang Punya Banyak Makna

Frasa itu biasa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi secara alami. Seiring berjalannya waktu, istilah ngetepeng juga diadopsi dalam Bahasa Jawa Timuran secara umum. (biy/by)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
Ngetepeng Dua Teori Ketepeng Lingua Franca