Kampung Semar di Kelurahan Arjosari Seriusi Pertanian Perkotaan

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 14:58 WIB
TERUS BERINOVASI: Doni Amiraharjaw, salah satu warga di Kampung Semar, Arjosari menunjukkan melon jenis sweet lavender yang dikembangkannya. (Darmono/Radar Malang)
TERUS BERINOVASI: Doni Amiraharjaw, salah satu warga di Kampung Semar, Arjosari menunjukkan melon jenis sweet lavender yang dikembangkannya. (Darmono/Radar Malang)

 MALANG KOTA -RADAR MALANG- Kampung Semar di Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing punya inovasi baru di bidang wisata edukasi. Mereka kini serius mengembangkan pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan sempit. Contohnya penanaman padi dalam galon dan melon premium dengan sistem hidroponik.

 Ketua RT 06/RW 02 (Kampung Semar) Kelurahan Arjosari Nurul Wahyuni menuturkan, warga sebelumnya juga melakukan kegiatan pengolahan sampah. Kini sektor pertanian dan peternakan perkotaan dilirik. Aktivitas itu ditujukan untuk meningkatkan perekonomian sekitar 100 KK di Kampung Semar.

 ”Produk pengolahan sampah saat ini seperti lilin aroma therapy, batik, dan eco enzym,” terangnya. Sementara untuk pertanian ada sawi, cabai dan tomat yang dikembangkan. Serta peternakan dengan budi daya lele di ember maupun bak besar.

 ”Pengolahan sampah, pertanian, dan peternakan saat ini bukan sekadar hobi. Memiliki nilai ekonomi karena bisa dijual ketika pengunjung mendatangi kampung kami,” jelas Nurul. Dia menuturkan, banyak kunjungan dari warga daerah lain karena penasaran dengan kunci sukses Kampung Semar.

 Banyak dari mereka yang datang untuk belajar cara pengolahan sampah, hingga memanfaatkan lahan untuk pertanian dan peternakan. Seluruh aktivitas itu membuat UMKM di sana bisa bergerak. ”Untuk keuntungan warga sendiri, kami bisa menjual produk UMKM ke tamu,” terangnya.

 Ke depan, Kampung Semar masih mencoba meningkatkan inovasi di bidang pertanian. Yang tengah dijalankan yakni pertanian melon premium dan padi di dalam galon. ”Padi masih uji coba, jika berhasil akan kami tambah di beberapa titik,” ungkap Nurul.

 Doni Amiraharjaw, pembudidaya melon menambahkan, ada dua jenis buah yang tengah dikembangkannya. Yakni sweet lavender dan intanon. ”Sweet lavender lebih crunchy, sedangkan intanon lebih berair. Untuk manula lebih cocok ke jenis intanon,” kata dia. 

Metode yang digunakan Doni yakni greenhouse. Kelebihannya, dalam setahun bisa panen empat kali. Dengan masa tanam hingga masa panen hanya tiga bulan. ”Greenhouse tidak terpengaruh cuaca, sehingga panennya bisa rutin,” jelasnya.

 Dia menyampaikan, budi daya melon premium itu merupakan inovasi yang terus dihadirkan warga. Sekaligus sebagai sarana edukasi. Sehingga diharapkan bisa menginspirasi warga lain yang kondisi lahannya sama-sama terbatas. Namun tetap bisa produktif. (adk/by)

Editor : Galih R Prasetyo
Kampung Semar pertanian perkotaan