Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

7 Rumah Warisan di Kepanjen Pertahankan Gaya Joglo

Bayu Mulya Putra • Senin, 10 Maret 2025 | 02:00 WIB
DIPERTAHANKAN: Salah satu rumah di Dusun Boro Utara, Desa Curungrejo, Kecamatan Kepanjen mempertahankan penggunaan kayu untuk material bangunan dan perabotnya.
DIPERTAHANKAN: Salah satu rumah di Dusun Boro Utara, Desa Curungrejo, Kecamatan Kepanjen mempertahankan penggunaan kayu untuk material bangunan dan perabotnya.

TUJUH rumah di Dusun Boro Utara, Desa Curungrejo, Kecamatan Kepanjen cukup menyita perhatian pengendara yang melintas. Lokasinya berdekatan.

Ketujuh rumah itu memiliki satu kesamaan.

Yakni penggunaan material kayu di bagian depan.

Masuk ke dalam, konstruksi rumahnya juga masih didominasi kayu. Rumah-rumah tersebut dimiliki keluarga besar H Barokah dan Hj Siti Mardikyah.

Niat Almarhum Haji Barokah ketika membangunnya cukup sederhana.

Dia hanya ingin semua keluarganya tinggal berdekatan.

”Rumah ini dan enam rumah lain merupakan warisan abah saya untuk anak-anaknya,” ujar Sabrang, anak kelima dari pasangan H Barokah dan Hj Siti Mardikyah.

Sabrang merupakan satu dari dua anak dari pasangan H Barokah dan Hj Siti Mardikyah yang masihada.

Kelima saudaranya telah tiada.

Selain dia, ada H Ikhsan sebagai generasi pertama pemilik rumah lawas itu.

Dari depan, desain rumah lawas itu terlihat sederhana.

Bergaya joglo dengan pintu tengah ganda yang dapat dibuka ke luar dan ke dalam.

Jendelanya memanjang di kedua sisi.

Soko guru (empat pilar) dari kayu jati menjadi menopang atap rumah.

Keempatnya mewakili arah mata angin.

Pintu, jendela kayu, papan kayu pengganti tembok, hingga fondasi atap berbahan kayu jati.

”Dulu abah saya bawa jati gelondongan pakai oplet untuk bangun semua ini,” ujar Sabrang.

TURUN TEMURUN: Rumah bergaya joglo di Kepanjen ini jadi satu dari tujuh hunian serupa milik satu keluarga besar
TURUN TEMURUN: Rumah bergaya joglo di Kepanjen ini jadi satu dari tujuh hunian serupa milik satu keluarga besar

Sampai sekarang bangunan rumahnya masih tampak kokoh.

Tak ada tanda-tanda dimakan usia.

Semua masih terawat.

”Kalau untuk merawat sebenarnya tidak susah, asal fondasinya atapnya tidak sering kena air.

Terus juga kayu fondasinya diplitur agar tetap bagus, bagian depan hanya dicat seperti biasa,” tambah Nantri, cucu Sabrang. Tak ada yang tau pasti berapa usia rumah itu. Kini usia Sabrang sudah 95 tahun. Dia hanya mengingat bahwa rumah itu dibangun sebelum dia menikah.

”Saya juga tidak hapal tahun berapa, tapi karena budaya orang dulu kan menikah pada usia muda, kemungkinan usia rumahnya lebih kurang 80 tahunan,” tambah Nantri.

Dia memastikan bahwa keluarganya masih ingin mempertahankan fasad bangunan.

”Mungkin kalau untuk bentuk masih tetap, dari dulu ya seperti ini. Kalaupun ada yang diubah atau renovasi, biasanya hanya lantainya, yang sebelumnya hanya diplester diganti dengan ubin. Kalau bagian kayunya masih dipertahankan, karena kelebihannya dingin dibanding bahan lain,” papar Nantri. (wb4/by)

Editor : Aditya Novrian
#joglo #KEPANJEN #Rumah #malang