BATU – Berada di dalam penahanan membuat lima pelaku pengeroyokan RWK (siswa SMPN 2 Batu yang akhirnya meninggal) merasa tertekan.
Anak-anak berusia 13 hingga 15 tahun itu sempat stres, menangis, dan ketakutan.
Tak ada yang menyangka bahwa pengeroyokan yang mereka lakukan mengakibatkan RWK meninggal.
Kelima bocah yang kini berstatus tersangka itu adalah AS,13; MI,15; KA,13; MA,13; dan KB,13.
Empat di antaranya merupakan pelajar SMPN 2 Batu.
Sementara MI tercatat sebagai siswa SMPN 1 Pujon.
Kabar kondisi lima bocah itu diungkapkan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu Amida Yusiana.
Dia mengaku melakukan pendampingan sejak kasus tersebut ditangani kepolisian.
Baik pendampingan untuk keluarga korban maupun lima tersangka yang masih masuk kategori anak-anak.
”Saat ini fokus pendampingan kami ke para pelaku dan keluarga korban. Untuk pendampingan kepada keluarga pelaku masih belum. Tapi pasti kami lakukan juga,” ucapnya.
Amida menjelaskan, pendampingan memang harus dilakukan kepada kedua belah pihak.
Kondisi itu kadang memunculkan perasaan dilematis.
Di satu sisi perbuatan para pelaku sudah sangat fatal.
Di sisi lain mereka masih anak-anak.
”Kami tetap harus memerhatikan hak-hak mereka sebagai anak,” imbuhnya.
Menurut Amida, kondisi kelima pelaku sempat drop alias stres.
Mereka tak menyangka perbuatannya telah mengakibatkan RWK meninggal dunia.
“Jadi mereka ya menangis, bingung, dan ketakutan,” terangnya.
Pendampingan dilakukan dua hari sekali. Tujuannya untuk menguatkan psikologis anak-anak itu agar kuat untuk menjalani pemeriksaan di kepolisian, kejaksaan, maupun pengadilan.
Masuk pada hari keenam penahanan, kondisi psikologis mereka terus membaik.
Tidak seperti pertama kali ditangkap pada Jumat lalu (31/5).
Pada saat bersamaan, pendampingan kepada keluarga korban juga dilakukan.
Beberapa waktu lalu Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur turut memberikan dukungan.
”Pendampingan kami lakukan ke orang tua, adik, kakek, dan nenek korban,” jelasnya.(dre/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana