***
Hari kedua di Yerussalem, agenda kami cukup padat. Pagi itu, setelah berjalan-jalan mengelilingi tempat-tempat bersejarah di kompleks Al Aqsho, kami balik ke hotel dulu. Untuk mandi, lalu sarapan.
Hari itu, suasana di hotel penuh dengan turis asing. Kebanyakan dari negara-negara di Eropa. Dan mereka tidak hanya beragama Islam. Salah satu karyawan hotel menjelaskan kepada saya, bahwa yang menginap di hotelnya, tak hanya dari kalangan Islam. Tapi juga ada yang dari Nasrani dan juga Yahudi yang datang dari berbagai negara.
Ini bisa dimaklumi, karena Yerussalem memang tempat suci tiga agama: Islam, Nasrani, dan Yahudi. Dan di kompleks Al Aqsho, terdapat spot-spot bersejarah dan dikeramatkan oleh para pengikut dari tiga agama itu.
Bagi muslim, Al Aqsho pernah menjadi kiblat salat. Nabi Muhammad SAW pernah berkiblat ke Masjid Al Aqsho saat di Madinah. Dalam beberapa riwayat menyebutkan selama 16-17 bulan. Lalu setelah itu diperintahkan Allah SWT untuk berkiblat ke Kakbah di Masjidilharam. Al Aqsho juga sebagai tempat singgah Nabi Muhammad SAW saat Isra Mikraj.
Bagi Nasrani, di Kota Lama Yerussalem, tak jauh dari kompleks Al Aqsho juga terdapat Gereja Makam Suci atau ”Church of Holy Sepulchre”. Gereja ini menjadi tujuan ziarah umat Kristen sejak abad ke-4 yang diyakini sebagai tempat wafat dan kebangkitan Yesus.
Dan mengapa orang-orang Yahudi sedunia selalu ingin pergi ke Yerussalem, khususnya ke kompleks Al Aqsho? Salah satunya karena adanya Tembok Ratapan atau The Western Wall. Ini dianggap sebagai tempat paling suci bagi umat Yahudi. Mereka percaya, dinding itu sebagai bagian dari kuil Yahudi yang dibangun oleh Raja Sulaiman (Nabi Sulaiman AS). Dan mereka juga percaya, dinding itu menjadi tempat ibadah paling suci umat Yahudi yang dipercaya sebagai pintu menuju surga.
Setelah mandi dan sarapan, kami kembali kumpul di lobi hotel. Untuk selanjutnya menuju ke Kota Hebron. Dari hotel, kami berangkat pukul 08.15 waktu setempat. Hebron adalah salah satu kota suci di Palestina. Kota ini merupakan nama lain dari al Khalil, gelar yang diberikan kepada Nabi Ibrahim AS. Kota yang terletak di Tepi Barat, atau sekitar 30 kilometer di selatan Yerussalem itu dijuluki sebagai kota para Nabi. Sebab, di tempat itulah, sejumlah nabi dari tiga agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam) dimakamkan.
Di Kota Hebron, tujuan pertama kami adalah ke makamnya Nabi Daud AS. Lokasinya di sebuah perbukitan yang disebut Zion. Makanya, tempatnya agak menanjak, sekitar 930 meter di atas permukaan laut. Tak sampai satu jam, kami tiba di tempat itu. Dari tempat parkir bus, kami harus berjalan kaki sekitar 100-an meter. Menyusuri kompleks bangunan kuno. Ternyata, makam Nabi Daud AS terletak di kompleks perkampungan Yahudi, dan satu blok dengan sinagog (tempat peribadatan agama Yahudi).
DI DALAM SINAGOG: Penulis di depan makam Nabi Daud AS. Tampak orang Yahudi juga sedang berdoa.
Sampailah kami tiba di sebuah pintu, di mana di dinding sebelah pintu itu tertulis: King David’s Tomb. Nabi Daud AS memang seorang raja. Di dalam Alquran Surat Al Baqoroh ayat 251 diceritakan: ”Dan (dalam peperangan itu), Daud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam”.
Sebuah keterangan menyebutkan, Nabi Daud AS memerintah selama 40 tahun. Daerah di mana Nabi Daud AS memerintah dikenal dengan nama Kota Daud.
Ketika akan memasuki ruangan makam Nabi Daud AS, kami melihat orang-orang Yahudi dengan penampilan khasnya bersliweran. Penampilan khas itu di antaranya berjanggut panjang dengan bentuk meruncing, lalu mengenakan topi yang ditempel di bagian atas kepalanya.
Sebelum masuk ke ruangan makam Nabi Daud AS, kami melewati sebuah ruangan. Di situ ada rak buku. Sepertinya berisi kitab-kitab orang Yahudi. Saya melihat ada dua orang yang sedang duduk di meja sambil membaca kitab.
Lalu kami masuk ke ruangan makam Nabi Daud AS. Di dalam makam itu, saya melihat ada seorang Yahudi sedang berdoa. Cara dia berdoa, berdiri di sebelah makam, kedua tangannya memegang dinding makam, lalu kepalanya mengangguk-angguk beberapa kali, sambil mulutnya komat-kamit.
Terus terang, konsentrasi dan kekhusyukan saya untuk berdoa di makam Nabi Daud AS itu agak terganggu. Pertama, terganggu oleh si Yahudi yang sedang berdoa tadi. Dan kedua, karena lokasi makam yang berada di tempat ibadah Yahudi. Baru kali ini, saya berdoa di sinagog.
Makam Nabi Daud AS berada di ruangan yang disekat menjadi dua. Itu untuk memisahkan antara peziarah laki-laki dan perempuan. Jadi, makam Nabi Daud AS terletak di antara kedua ruangan yang disekat itu. Separo makamnya berada di ruangan peziarah perempuan. Dan separonya lagi berada di ruangan peziarah laki-laki.
Berziarah ke makam Nabi Daud AS sangatlah penting. Karena Nabi Daud AS namanya disebut sebanyak 16 kali di dalam Alquran. Kepada Nabi Daud AS Allah menurunkan Kitab Zabur, yang dalam kepercayaan Yahudi dan Nasrani disebut Mazmur. Dan bagi muslim, memercayai Kitab Zabur adalah termasuk dalam rukun Iman.
Selain itu, cara beribadah Nabi Daud AS kepada Allah SWT patut dijadikan cermin. Rasulullah SAW bersabda: ”Salat (malam) yang paling dicintai Allah adalah salatnya Nabi Daud AS. Dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud AS. Beliau biasa tidur separo malam, dan beliau salat malam pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Dan beliau berpuasa sehari, dan berbuka sehari” (HR Bukhari-Muslim, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash).
Bahwa orang Yahudi sangat mengkultuskan Nabi Daud AS, itu tak terlepas dari sejarah, bahwa Nabi Daud AS berasal dari garis keturunannya Yahudza, atau Judah atau Yehuda. Yahudza, Judah atau Yehuda adalah salah seorang dari 12 putra Nabi Ya’kub AS. Dan Nabi Ya’kub AS punya nama lain Israil. Dari sinilah, ke-12 putra Nabi Ya’kub AS itu lantas berkembang menjadi 12 suku bangsa keturunan Ya’kub, atau Allah SWT menyebutnya dalam Alquran sebagai Bani Israil. Seperti yang disebutkan di ayat Alquran pada Surat Al An’am ayat 82-84, bahwa Nabi Ya’kub AS adalah putra dari Nabi Ishaq AS, sedangkan Nabi Ishaq AS adalah putra dari Nabi Ibrahim AS.
Dari ke-12 putra Israil itu, keturunan Yehuda merupakan suku yang paling besar dan banyak. Oleh sebab itu, masyarakat zaman dulu cenderung menyebut keturunan Israil dengan sebutan Bangsa Yehuda atau Yahudi. Jadi, secara silsilah, Bangsa Yahudi adalah suku keturunan dari Yehuda, putra nabi Ya’kub AS. Namun, pada perkembangannya, sebutan Yahudi semakin meluas, karena merujuk kepada semua keturunan Israil dan juga agama yang dianut oleh mereka.
ADA MIHRAB DI DALAM GEREJA: Bangunan ini lah yang dibangun Raja Konstantin pada 325 M. Pernah difungsikan sebagai masjid di era Dinasti Usmaniyah Turki.
Dari lokasi makam Nabi Daud AS, kami melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Tepatnya menuju ke bangunan yang terletak di lantai atas dari makam Nabi Daud AS. Tempat itu di dindingnya bertuliskan: Room of The Last Supper (ruang tempat perjamuan terakhir). Menyebut ”The Last Supper” dan membayangkan bagaimana suasananya, bisa melihat lukisannya Leonardo da Vinci dengan judul yang sama itu.
Tempat yang juga disebut Cenacle ini dianggap sebagai salah satu situs paling suci bagi agama Kristen di Yerussalem. Di tempat itulah Yesus Kristus diyakini melakukan perjamuan terakhir.
Kami berjalan menyusuri ruangan itu. Menurut sejarahnya, tempat tersebut pertama kali dibangun oleh Raja Konstantin pada 325 M. Saat itu, Kristen dipilih menjadi agama kekaisaran Romawi. Sehingga berbagai tempat yang berhubungan dengan Yesus Kristus diagungkan. Selain membangun tempat perjamuan terakhir, juga membangun secara megah Gereja The Holy.
Sepulchre di Kota Tua Yerussalem. Tempat ini dipercaya umat Nasrani sebagai bukit Kalvari atau Golgota, tempat wafat dan kebangkitan Yesus.
Ketika Romawi dipimpin Kaisar Titus, dia sempat melakukan perusakan di Yerussalem. Tapi tempat perjamuan terakhir itu selamat dari perusakan. Tapi tahun 614 M dihancurkan oleh Kerajaan Persia. Diperbaiki lagi. Tahun 1006 dihancurkan lagi oleh Khalifah Al Hakim, salah satu raja dari Dinasti Mamalik yang berkuasa di Mesir.
Setelah itu sempat diambil alih oleh tentara Salib, lalu diperbaiki dan dijadikan gereja. Tahun 1340 M, gereja ini di bawah Franciscan Order of Friars (sekelompok ordo religius yang terkait di dalam Gereja Katolik yang didirikan sejak 1209 oleh Santo Fransiskus dari Assisi) hingga tahun 1552 M. Ketika itu Yerussalem dikuasai Dinasti Usmaniyah (Ottoman) dari Turki. Gereja itu lantas diubah menjadi masjid. Tempat itu terus menjadi masjid, hingga pembentukan negara Israel pada 1948. Saat itu, bangunan tersebut dikembalikan kepada The Fransiscan Custody of The Holy Land. Dan difungsikan sebagai gereja.
Yang menarik, meski sudah difungsikan sebagai gereja, hingga saat ini bekas-bekas yang menunjukkan tempat itu pernah beralih fungsi sebagai masjid, tetap dilestarikan. Alias tidak dibongkar. Misalnya, saya mendapati ada bekas mihrab untuk pengimaman salat. Juga ada bekas tempat mimbar untuk khutbah. Beberapa lafal Alquran yang ditempel di dinding juga masih dibiarkan. Terjaga dengan baik.
Inilah uniknya tempat tersebut. Kesannya, antara gereja dan masjid menyatu di ruangan itu. Kami pun baru paham, mengapa harus mengunjungi tempat tersebut. Karena memang mengesankan. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Radar Malang Administrator