***
Dari King Hussein Border, perbatasan Yordania-Israel, kami menuju ke restoran untuk makan siang. Selama perjalanan menuju ke restoran, Majid, guide lokal dari Manaya Indonesia yang mendampingi kami selama di Yordania memperkenalkan dirinya. Dia lantas menceritakan tentang negaranya.
Saya baru pertama itu ke Yordania. Begitu mendengar nama negara ini, pikiran saya langsung tertuju kepada Ratu Yordania yang terkenal ramah dan cantik itu: Ratu Rania. Dia sama seperti Lady Diana, dalam hal kecantikannya, kecerdasannya, dan keramahannya. Keduanya juga sama-sama bukan dari latar belakang ningrat atau bangsawan. Nama Yordania juga sempat dikaitkan dengan Prabowo Subianto. Itu karena Raja Abdullah II, Raja Yordania saat ini adalah sahabatnya Prabowo. Dan konon, mereka tak hanya bersahabat, tapi juga berkongsi dalam bisnis. Prabowo sempat tinggal cukup lama di Yordania.
Yordania menganut sistem monarki. Nama resminya: Kerajaan Yordania Hasyimiah. Ada ”Hasyimiah” di sini disebut-sebut masih keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Artinya, raja-raja dari Yordania merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Negara ini berbatasan dengan Suriah di Utara, dengan Irak di bagian Timur, dengan Palestina dan Israel di bagian Barat, serta dengan Arab Saudi di bagian Timur dan Selatan.
Luas Yordania hampir dua kali luas Jawa Timur. Tapi, jumlah penduduknya jauh lebih padat di Jawa Timur. Jika Jawa Timur jumlah penduduknya hampir 40 juta, Yordania sekitar 10 juta–15 juta jiwa. Mayoritas penduduk Yordania adalah muslim keturunan Arab (sekitar 94 persen) beraliran Sunni, 5 persen beragama Kristen dan 1 persen beragama lain.
Saya sempat kaget ketika akan menukarkan uang di Yordania. Ternyata, nilai kursnya lebih tinggi dari Euro dan Pound Sterling. 1 Dinar Yordania setara dengan sekitar Rp 21.988. Dengan nilai yang tinggi ini, Yordania menduduki peringkat keempat untuk mata uang terkuat di dunia, setelah Kuwait, Bahrain, dan Oman.
AMMAN BEACH TOURISM RESORT: Penulis dan hamparan Laut Mati di Yordania.
Ketika akan tukar uang dari USD ke Dinar Yordania, oleh Khadafi, owner Manaya Indonesia, travel yang membawa kami, disarankan tidak usah. ”Pake dolar (USD) saja. Nilai kursnya memang tinggi. Tapi, kalau digunakan untuk beli-beli, relatif sama dengan di Mesir,” katanya. Saya pun manut. Sebab, dia memang sudah berpengalaman.
Sekitar pukul 13 waktu setempat, kami sudah tiba di restoran tempat untuk makan siang. Di Yordania lebih lambat empat jam dibandingkan dengan WIB. Nama restoran itu: Amman Beach Tourism Resort, Restaurant and Pools. Ternyata restorannya berada di lokasi yang indah pemandangannya. Berada di sebuah perbukitan, di tengah gurun pasir, dan berdekatan dengan Laut Mati. Sebelumnya, kami sempat menjumpai Laut Mati ketika berada di wilayah Palestina yang dikuasai Israel.
Dan memang, Yordania dan Israel berbagi Laut Mati. Laut Mati di bagian Barat milik Israel dan Laut Mati bagian Timur milik Yordania. Dan bagi Yordania, Laut Mati menjadi salah satu objek wisata andalannya.
Restoran yang kami datangi itu cukup luas. Selain restoran, juga ada fasilitas hotelnya. Ada pula kolam renang yang cukup luas dan lebar. Di sudut-sudut areal di tempat itu, dihiasi dengan pohon kurma. Suhu pun tidak terlalu panas. Sekitar 25 derajat. Dan ketika berada di areal restoran itu, diembusi angin yang sepoi-sepoi.
Menu makan siang hari itu adalah Nasi Biryani dengan lauk ayam panggang. Nikmat sekali. Apalagi perut sudah mulai keroncongan. Setelah makan, kami salat Duhur jamak qasar dengan Asar di areal tersebut. Kebetulan ada fasilitas untuk salat. Usai salat, oleh Majid kami diberi kesempatan untuk turun, mendekati Laut Mati. Dari tempat makan, menuju ke lokasi Laut Mati, kira-kira saya harus jalan kaki sekitar 200-300-an meter.
Saya penasaran dengan Laut Mati. Selama ini saya hanya mendengar informasi tentang Laut Mati dari televisi, buku, majalah, koran ataupun dari internet. Tapi, kali ini bisa langsung mendekati Laut Mati. Bahkan, iseng-iseng saya masukkan tangan saya ke dalam Laut Mati itu. Begitu menyentuhnya, tangan ini serasa memegang minyak. Pekat sekali. Lagi-lagi iseng, ujung dari lidah ini saya tempelkan pada ujung jari yang menyentuh Laut Mati tadi. Meski hanya sebentar, tapi rasanya nyegrak banget. Pedes. Dan pedesnya sampai terasa di mata.
TIRU CLEOPATRA: Penulis (kanan) bersama dua turis asal Jerman yang melumuri wajah dan badannya dengan lumpur dari dalam Laut Mati.
Maklum, kandungan garamnya diperkirakan mencapai 33,7 persen. Atau hampir 9 kali lipat dari rata-rata asinnya air laut di dunia. Dengan kondisi seperti itu, tidak ada satu pun makhluk hidup yang berada di dalamnya. Bahkan, kapal pun tidak ada yang berani berada di atas permukaan Laut Mati itu. Sebab, dalam sekejap pasti badan kapal akan termakan korosi.
Yang menarik, Laut Mati berada di bawah permukaan laut. Yakni sekitar 422 meter di bawah permukaan laut, dan memiliki kedalaman sekitar 304 meter. Artinya, Laut Mati terletak di dataran terendah di belahan bumi ini.
Ketika saya mendekati Laut Mati, saya melihat puluhan turis bule sedang bersantai di sana. Ada yang mandi di Laut Mati. Ada yang mengapung. Karena kandungan garamnya sangat tinggi, jika mencebur ke Laut Mati, tidak mungkin tenggelam. Otomatis akan mengapung. Saya sebenarnya ingin ikut merasakan sensasi mengapung di Laut Mati. Tapi, karena tidak membawa pakaian ganti, dan juga waktunya mepet, sehingga tak bisa memenuhi keinginan tersebut.
Ada pula beberapa turis yang mengolesi sekujur tubuh hingga wajahnya dengan lumpur yang diambilkan dari dalam Laut Mati. Lumpur berwarna hitam itu dijadikan sebagai body masker yang diyakini berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Konon, salah satu resep kecantikan Cleopatra pada masa lalu, karena seringnya Ratu Mesir itu berendam di Laut Mati.
Dari restoran yang bersebelahan dengan Laut Mati itu, kami lantas bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Rute selanjutnya adalah Wadi Rum. Saya belum pernah mendengar tempat bernama Wadi Rum. Apalagi ke sana. Ketika saya tanyakan ke Majid, dia hanya tersenyum. ”Nanti Anda akan tahu sendiri. Pokoknya menyenangkan. Kita akan makan malam dan bermalam di sana,” katanya, semakin membuat saya penasaran. Dari arti katanya, Wadi berarti lembah. Berarti, rute selanjutnya adalah ke sebuah lembah. Lembah seperti apa? Lagi-lagi Majid tak mau menjelaskan, sengaja agar saya penasaran.
Perjalanan menuju ke Wadi Rum diperkirakan memakan waktu hingga 5 jam. Di sepanjang perjalanan, pemandangan yang kami saksikan kebanyakan adalah areal padang pasir serta perbukitan dan pegunungan. Maklum, secara geografis, separo lebih wilayah Yordania memang terdiri dari dataran gurun Arab. Sesekali saya menyaksikan segerombolan sapi sedang digembalakan. Sesekali juga saya melihat dari kaca bus areal perkebunan yang hijau. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/YT: mas kum official) Editor : Radar Malang Administrator