***
Dari Petra, setelah sempat mampir ke restoran Yordania, kami menuju ke Kota Amman. Di ibu kota Yordania ini, kami dijadwalkan menginap semalam. Besoknya, kami pulang balik ke tanah air. Tidak terasa, ini sudah hari kesembilan rute perjalanan kami, mulai dari Mesir, Palestina, dan berakhir di Yordania.
Sekitar pukul 18.30 waktu setempat, kami sudah memasuki Kota Amman. Inilah kota terbesar di Yordania dengan jumlah penduduk sekitar 4 juta jiwa. ”Penduduk dari Mesir jumlahnya sekitar 600-an ribu,” kata Majid, guide lokal dari Manaya Indonesia yang mendampingi kami selama di Yordania. Amman juga termasuk salah satu dari kota modern di Arab.
Seperti kota-kota lain yang kami kunjungi, di antaranya Jericho, Yerussalem, dan Betlehem, Kota Amman juga termasuk kota tua. Catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat pertama yang menghuni Kota Amman berasal dari masa Neolitikum (era prasejarah, zaman batu muda), yakni sekitar 1005 SM. Para arkeolog menemukan jejak kehidupan Neolitikum di Ain Ghazal, yang terletak di sebelah Timur Amman.
Kota Amman mengalami perkembangan sangat pesat sejak 2010, di bawah pimpinan Raja Hussein, yang kemudian digantikan anaknya, Abdullah II.
Memasuki Kota Amman, lalu lintasnya tak sepadat dan tak seruwet di Kairo. Malam itu, kami menginap di Sadeen Amman Hotel and Suites. Hotel dengan bintang empat yang berada di jantung Kota Amman.
Semula saya ingin jalan-jalan, menikmati malam di Kota Amman. Tapi, malam itu saya harus berkemas-kemas, mengepak ulang barang-barang bawaan. Sebab, besok sudah harus siap untuk balik ke tanah air. Setelah beres, saya pun mengantuk. Lalu ketiduran. Mungkin karena kecapekan setelah sebelumnya berjalan kaki di Petra.
Keesokan harinya, setelah sarapan, kami sudah siap-siap di lobi hotel. Pukul 07.00, kami sudah berangkat menuju ke bandara untuk selanjutnya menempuh perjalanan balik ke tanah air. Tapi, sebelum ke bandara, kami dijadwalkan untuk mengunjungi satu lagi situs bersejarah. Yakni menapaktilasi jejak para Ashabul Kahfi, kisah tujuh pemuda yang tertidur di dalam gua selama 309 tahun, seperti dikisahkan di dalam Alquran Surat Al Kahfi.
Di Yordania, lokasi gua Ashabul Kahfi diyakini berada di Kota Abu Alanda, di daerah perkampungan Al Rajib, sekitar 10 kilometer sebelah Timur Kota Amman.
Kami tiba di lokasi itu masih pagi. Suasana di sana masih sepi. Belum ada rombongan peziarah yang lain. Hanya rombongan kami saja. Tempatnya cukup luas. Ada areal parkir khusus untuk menampung banyak kendaraan. Jika melihat luasnya areal parkir, bisa jadi tempat itu termasuk ramai dikunjungi para turis atau peziarah.
Begitu kami turun dari bus, kami melihat ada menara masjid. Ada masjid dengan dinding berwarna cokelat kekuningan. Kami disambut oleh seseorang, yang lantas mengarahkan kami memasuki suatu areal seperti lapangan. Di sana terdapat beberapa batu-batu padat yang dibiarkan teronggok. Rupanya, batu-batu itu seperti bekas reruntuhan bangunan. Kami melalui batu-batu itu. Kemudian, setelah puluhan meter berjalan, kami sudah sampai di depan pintu gua. Pintu gua itu setinggi orang dewasa. Sekitar 160-an meter.
Saya yang tinggi 170 meter, harus merunduk saat melewati pintu gua itu.
Di dalam gua kami disambut seorang pria, kurus, masih muda, bercambang lebat, kira-kira berumur 30-an tahun. ”Selamat pagi…dari Indonesia?” begitu katanya dengan ramah. Rupanya, dia sang juru kunci gua. Mungkin saking seringnya ada turis dari Indonesia yang datang, sehingga dia bisa menyapa dengan bahasa Indonesia. Dengan mengenakan jubah cokelat gelap bergaris hitam, dia mempersilakan duduk. Kami pun duduk berkeliling, bersandar di dinding gua. Gua itu tak begitu luas. Untuk ditempati 39 orang, agak berdesakan. Dengan bahasa Inggris, pria berjubah itu menceritakan kepada kami tentang hikayat Ashabul Kahfi.
Dia mengatakan, bahwa situs gua Ashabul Kahfi di Yordania ini juga disebut sebagai situs Ar Raqim. Dan nama Ar Raqim itu mengacu pada nama anjing yang ikut menyertai tujuh pemuda Ashabul Kahfi. Ini seperti disebutkan di dalam Alquran surat Al Kahfi ayat 9: ”Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”
Pria berjubah itu lantas menunjuk pada bangunan empat persegi panjang, yang ukuran dan bentuknya menyerupai peti yang terdapat di sisi kanan dan kiri di dalam gua. ”Itu ada tujuh kuburan para Ashabul Kahfi. Tiga di sebelah kiri dan empat di sebelah kanan,” katanya. Saya pun sempat kaget. Ternyata, bangunan batu yang seperti disemen yang saya jadikan sandaran duduk itu ternyata makam. Memang, jumlahnya ada tujuh. Dan itu, menurut pria berjubah tadi, adalah makamnya tujuh pemuda Ashabul Kahfi.
Pria berjubah itu lantas menjelaskan kepada kami tentang ciri gua Ashabul Kahfi yang disebutkan di dalam Alquran. Yakni di dalam Surat Al Kahfi ayat 17: ”Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri…..”. Artinya, merujuk pada ayat tersebut, meskipun berada di dalam gua, tapi arah pergerakan matahari tetap bisa diikuti. Dan pria berjubah itu menunjukkan kepada kami dua lubang di gua itu, satu sebelah kanan dan satunya di sebelah kiri.
Di akhir penjelasannya, pria berjubah itu mengajak untuk berdoa bersama. Dia yang memimpin. Doanya dilantunkan dengan suaranya yang merdu. Di antaranya doa keselamatan di dunia dan di akhirat.
Terkait dengan keberadaan Gua Ashabul Kahfi, memang ada banyak versi. Setidaknya ada 33 lokasi di dunia yang diklaim sebagai gua Ashabul Kahfi. Ahli tafsir dari Indonesia M Quraish Shihab menyebut ada empat lokasi, selain di Yordania yang bisa diduga sebagai gua Ashabul Kahfi. Pertama, di Ephesus, sebuah kota kuno di Turki Barat. Kedua, di Kota Ash-Shalihiyyah di dekat Damaskus, Suriah. Ketiga, gua Al Batra di Palestina. Dan keempat, gua di wilayah Skandinavia, Eropa Utara.
Sudah ada sekitar 104 penelitian mengenai lokasi-lokasi yang diklaim sebagai gua Ashabul Kahfi. Dan dari sejumlah gua yang diklaim sebagai Gua Ashabul Kahfi yang paling banyak dikaji serta diteliti adalah yang terdapat di Yordania itu. Situs di Kota Abu Alanda inilah yang menurut arkeolog Dr Muhammad Wahib diyakini sebagai Gua Ashabul Kahfi, berdasarkan riset dan kajian yang sudah dia lakukan.
Ada benang merah yang menurut Wahib menguatkan bahwa gua di Yordania itu diyakini sebagai Gua Ashabul Kahfi. Di antaranya, merujuk pada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa beberapa sahabat Rasulullah SAW, seperti Ubadah bin Shamid, Muawiyah bin Abi Sufyan, Habib bin Maslamah, dan Ibnu Abbas Radhiyallahu anhum (RA), pernah melintasi gua yang sekarang masuk wilayah Yordania itu. Itu terjadi di masa Khalifah Umar bin Khattab. Para sahabat itu lantas masuk ke gua tersebut, dan menyaksikan tulang belulang dari jasad para Ashabul Kahfi.
Benang merah lainnya, terkait dengan firman Allah di dalam Alquran, Surat Al Kahfi ayat 21: ”…….Dan mereka mengatakan, dirikanlah bangunan di atas (gua) mereka. Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka. Dan orang-orang yang berkuasa atas mereka mengatakan, Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.
Jika merujuk pada ayat tersebut, maka di atas Gua Ashabul Kahfi didirikan bangunan untuk peribadatan. Dan ternyata setelah dilakukan penggalian, ditemukanlah sebuah bangunan yang berada tepat di atas gua tersebut. Bekas bahwa di atas gua itu pernah didirikan bangunan peribadatan, terlihat sampai sekarang.
Menurut catatan sejarah, rumah peribadatan yang didirikan di atas Gua Ashabul Kahfi itu berupa gereja. Kemudian, diubah menjadi masjid saat Islam datang. Dan telah dilakukan renovasi beberapa kali terhadap bangunan tersebut beberapa kali. Ini seperti tertulis di beberapa batu yang berada di lokasi gua, yakni pada tahun 117 H, 277 H, dan 900 H.
Dan tidak jauh dari gua, tepatnya di arah kiblat dibangun sebuah masjid yang hingga kini mimbarnya masih utuh, yang tertulis di lantainya, bahwa Khalifah Al Muwaffiq di masa Kekhalifahan Abassiyah telah memerintahkan perbaikan masjid tersebut. Saya sempat salat Duha di masjid itu.
Imam Al Qurthubi dalam Jami’li Ahkam Al Quran menyebutkan, bahwa dia sudah mendatangi dua situs gua yang diduga sebagai lokasi Ashabul Kahfi. Pertama di Yordania. Dan kedua di Turki. Setelah dilakukan kajian dan mengamati fakta-fakta yang ada, menurut dia, situs gua yang di Yordania lebih tepat dengan gambaran di Alquran sebagai lokasi Ashabul Kahfi.
Dengan berbagai keterangan inilah, saya termasuk yang meyakini, bahwa gua di Yordania itu adalah Gua Ashabul Kahfi.
Kisah tentang Ashabul Kahfi ini, memang sudah dijelaskan di dalam Alquran. Yakni surat Al Kahfi. Ringkasnya, ada tujuh pemuda (enam orang pejabat istana, seorang adalah penggembala) dan seekor anjing saat itu melarikan diri dari kejaran penguasa yang zalim. Dalam Kitab Fadha’ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, karya Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, diceritakan tentang kisah Ashabul Kahfi. Melalui cerita yang disampaikan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika ditanya oleh para pendeta Yahudi. Penguasa yang zalim di masa Ashabul Kahfi itu adalah Diqyanius. Selain zalim, raja ini juga kafir dan congkak.
Istana Raja Diqyanius ini digambarkan sangatlah luas dan megah. Singgasananya saja terbuat dari emas. Begitu pula mahkota yang dikenakan. Selain terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9, juga tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam.
Raja itu mempunyai 50 pelayan. Dia juga punya penasihat utama, yang terdiri dari enam pemuda. Mereka adalah anak para cendekiawan. Keenam pemuda itu selalu dilibatkan untuk setiap pengambilan keputusan. Keenam pemuda itu bernama: Tamlikha, Miksalmina, Mikhaslimina, Martelius, Casitius, dan Sidemius.
Ketika menjadi penasihat Diqyanius, keenam pemuda itu lama-lama resah. Sebab, Diqyanius semakin congkak, dan perilakunya semakin menyimpang dari ajaran yang diyakini oleh keenam pemuda itu.
Singkat cerita, mereka menyusun rencana untuk melarikan diri dari Istana Diqyanius. Dalam perjalanan lari itulah, mereka bertemu seorang penggembala. Yang kemudian si penggembala itu menunjukkan tempat berupa gua untuk bersembunyi. Si penggembala ternyata juga ikut bersembunyi, dengan mengajak anjingnya, yang di awal tulisan disebutkan bernama Ar Raqim.
Di dalam gua itu, mereka lantas tertidur. Dan masa tidur mereka selama 309 tahun. Hal ini dijelaskan di dalam Alquran surat Al Kahfi ayat 25: ”Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun”.
Versi catatan sejarah yang lain menyebutkan, kisah Ashabul Kahfi itu diperkirakan terjadi pada tahun 112 M. Dan mereka terbangun 309 tahun kemudian, pada tahun 421 M. Saat itu, yang menjadi raja adalah Theodosius (408–450 M) yang memerintah secara bijaksana, dan menjadi penganut Isa Al Masih.
Dan saat terbangun, para pemuda itu kaget dengan perubahan yang terjadi di luar gua. Hingga akhirnya mereka tersadar, bahwa sudah ditidurkan oleh Allah SWT selama 309 tahun. Selanjutnya, mereka pun memohon kepada Allah: ”Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami, tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa pengetahuan orang lain”.
Allah SWT kemudian mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan kepada malaikat maut mencabut nyawa tujuh pemuda itu. Kemudian Allah melenyapkan pintu gua tanpa bekas.
Berada di situs Gua Ashabul Kahfi, kembali saya bertadarus terhadap ayat-ayat Allah. Bertadarus terhadap ke-mahabenaran Allah dengan segala firman-Nya.
Dari situs Gua Ashabul Kahfi, hari itu kami melanjutkan perjalanan ke Bandara Queen Alia, Yordania. Tujuannya, balik ke tanah air. Sembilan hari sudah kami melakukan perjalanan napak tilas spiritual ke tiga negara: Mesir, Palestina, dan Yordania. Saya masih ingin ke tiga negara itu lagi. Terutama ke Al Aqsho. Aamiin. (habis/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Radar Malang Administrator