Melansir dari livescience (22/2), cumi-cumi vampir zaman modern (Vampyroteuthis infernalis) tersebut dapat berkembang biak di perairan laut dalam yang kurang akan kandungan oksigen, tidak seperti banyak spesies cumi-cumi lain yang membutuhkan habitat dangkal.
Analisis fosil baru yang sudah diteliti telah membantu para peniliti untuk mengungkap bahwa nenek moyang cumi-cumi vampir zaman modern sudah hidup di lautan dalam selama zaman Oligosen, yaitu sekitar 23 juta hingga 34 juta tahun yang lalu.
"Cumi-cumi ini mungkin berevolusi serta beradaptasi di air rendah oksigen," kata Martin Košťák, ahli paleontologi di Universitas Charles di Praha.
Košťák dan rekan-rekannya menemukan fosil yang telah lama hilang tersebut di koleksi Museum Sejarah Alam Hongaria pada tahun 2019 saat mencari fosil nenek moyang sotong. Fosil itu awalnya ditemukan pada tahun 1942 oleh ahli paleontologi Hongaria Miklós Kretzoi yang mengidentifikasinya sebagai cumi-cumi yang berumur sekitar 30 juta tahun dan menamakannya Necroteuthis hungarica. Namun, peneliti selanjutnya berpendapat bahwa fosil itu adalah nenek moyang sotong.
Pada tahun 1956, selama Revolusi Hongaria, museum tersebut dibakar dan fosilnya diperkirakan juga dimusnahkan.
Košťák dan rekan-rekannya mempelajari fosil tersebut dengan pemindaian mikroskop elektron dan melakukan analisis geokimia. Mereka pertama kali menemukan bahwa identifikasi awal Kretzoi benar, fosil itu berasal dari cumi-cumi, bukan nenek moyang sotong. Cangkang bagian dalam hewan atau gladius yang membentuk tulang punggung tubuhnya memiliki panjang sekitar 6 inci (15 sentimeter), menunjukkan panjang cumi-cumi itu hingga sekitar 13,7 inci (35 cm). Fosil tersebut hanya sedikit lebih besar dari cumi-cumi vampir modern yang mencapai panjang total sekitar 11 inci (28 cm).
Penulis: Fara Trisna Rahmadani Editor : Shuvia Rahma