Sebelum mendalami peran antagonis, pemilik nama asli Estella itu ternyata mengalami berbagai masa sulit. Terutama saat bekerja sama dengan desainer senior Baroness von Hellman (Emma Thompson). Berikut ini wawancara bersama Emma Stone dan Emma Thompson yang menceritakan perannya di dalam Film Cruella seperti dilansir Jawapos. (man/iik)
Bagaimana respons saat terpilih bermain di Cruella ?
Stone: Kaget. Cruella punya cerita suram untuk ukuran film Disney. Saya sudah menyaksikan banyak film produksi Disney, dan Cruella berbeda.
Thompson: Karakter Baroness adalah tokoh baru. Kebetulan, saya sudah lama ingin jadi karakter villain. Saya kerap berperan sebagai perempuan baik yang mengenakan gaun. Syukurlah bisa menjadi villain yang memakai busana anggun. Haha…
Bagaimana cara kalian membawakan karakter?
Stone: Saya mendapat tawaran berperan sebagai Cruella enam tahun lalu. Bersama sutradara dan penulis naskah, kami menciptakan karakter Cruella. Referensi kami tetap Cruella di 101 Dalmatians, tapi tidak sepenuhnya. Saya mencoba menyelami sifat Cruella yang cerdas, kreatif, serta reaktif, dan menerapkan karakter itu dengan setting London tahun 70-an.
Thompson: Ketika saya bertemu Stone di set, kami mencoba melihat satu sama lain sebagai karya seni, seperti karakter Baroness. Baroness adalah sosok yang merasa kesulitan saat melihat orang yang lebih muda dan bertalenta. Ya, seperti yang saya rasakan ketika melihat Stone yang lebih muda, cantik, dan berbakat.
Stone: Estella adalah sosok manis, tapi tidak menjadi dirinya seutuhnya. Sementara itu, Cruella benar-benar menerima diri sepenuhnya dan berkuasa. Ada sesuatu yang menarik tentang dia. Jadi, saya lebih memilih Cruella. Saya juga suka dengan dunia dan cara berpikirnya.
Bercerita tentang dunia fashion, banyak kostum yang dikenakan. Mana yang paling berkesan?
Stone: Kostum yang saya kenakan di truk sampah (tertawa). Panjang gaun itu sekitar 12 meter. Bagian ekornya tidak tersambung dengan gaun, soalnya itu bakal bikin saya nggak bisa bergerak bebas. Itu sangat berkesan, karena di kehidupan nyata tidak mungkin memakai busana seperti itu.
Thompson: Wah, saya harus membiasakan diri dengan kostum anggun yang berstruktur ketat. Saya bahkan kesulitan ke kamar kecil. Untung, desainer kostum Jenny Beavan tahu caranya memasang korset sehingga tubuh saya tidak terlalu terimpit. Saya juga harus merasa nyaman dengan sepatu hak tinggi meski lebih nyaman bersandal jepit.
Cruella dan Baroness sama-sama villain. Apa yang terpenting dari memerankan karakter semacam itu?
Stone: Saat menjadi Cruella, saya tidak boleh menganggap dia jahat. Saya harus berpikir bahwa Cruella punya motif dan merasa dirinya benar. Kalau berpikir dia jahat, saya akan sulit memerankannya secara total.
Thompson: Saya lebih tertarik memahami sisi gelap karakter saya. Saya jarang sekali berkesempatan mengeksplorasi sisi gelap karakter perempuan karena mereka diharuskan bersikap baik. Baroness tidak jahat, dia hanya berpikiran sederhana.
Kelemahan Cruella dan Baroness?
Stone: Hmmm… Itu bakal diceritakan di film. Cruella adalah film tentang bagaimana seseorang mendobrak sesuatu agar bisa sukses. Kelemahan Cruella pada akhirnya jadi kekuatan.
Thompson: Meski terlihat berkuasa dan kuat, Baroness sebenarnya rapuh. Dia tak suka melihat orang lain mengunggulinya. Pokoknya, semua harus berfokus pada dia.
MENARIKNYA, dalam proses pembuatan film ini, juga ada Glenn close sebagai aktris pemeran Cruella de Vil 101 Dalmatians (106) yang berperan sebagai eksekutif produser bersama Stone. Syuting film ini berlangsung pada pertengahan 2019 hingga November 2019 di London sebelum terjadinya pandemi.
Selain itu, Jika di 101 Dalmatians para anjing digambarkan imut, maka di Cruella ditampilkan garang. Penonton bakal tahu alasan Cruella punya hubungan khusus dengan anjing-anjing itu. Sebaiknya, setelah menonton film Cruella jangan buru – buru keluar ruang teater akan ada mid credits scene.
Film ini menuai banyak komentar dari para kritikus di situs berita, mereka menyebut bahwa Cruella adalah campuran antara Joker ( Tentang kelahiran seorang penjahat) dan The Devil Wears Prada (Tentang Hubungan atasan dengan bawahan di Industri Fashion). Editor : Farik Fajarwati