Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Moorissa Tjokro, Insinyur Asal Indonesia Dibalik Kesuksesan Tesla

Farik Fajarwati • Senin, 31 Mei 2021 | 23:08 WIB
Moorissa Tjokro, gadis asal Indonesia yang berada dibalik kecanggihan fitur swakendara mobil listrik Tesla. (Ist)
Moorissa Tjokro, gadis asal Indonesia yang berada dibalik kecanggihan fitur swakendara mobil listrik Tesla. (Ist)
RADAR MALANG – Terkenal dengan mobil listrik dan ramah lingkungan, Tesla juga mengusung fitur idaman bagi para driver. Fitur autopilot yang telah mereka luncurkan menjadi primadona sejak akhir tahun 2020 lalu. Namun siapa sangka, salah satu insinyur yang bertanggung jawab atas fitur canggih ini adalah anak muda asal Indonesia.

Adalah Moorissa Tjokro, gadis asal Indonesia yang berada dibalik kecanggihan fitur mobil listrik Tesla. Gadis lulusan Georgia Institute of Technology dan Columbia University ini dipercaya Tesla sebagai insinyur perangkat lunak yang menjadi dasar dari sistem autopilot mobil listrik yang kini tengah naik daun itu.

Moorissa menjadi satu-satunya insinyur perempuan di antara 6 orang yang bertanggung jawab pada bagian Computer Vision dalam projek Full-Self-Driving itu.

Tugasnya adalah meng-handle agar mobil seakan bisa melihat dan mendeteksi linkungan sekitar. Fokusnya, mobil harus dapat berjalan tanpa sentuhan manusia mencakup, rem, gas, hingga manuver otomatis.

”Sebagai Autopilot Software Engineer, bagian-bagian yang kami lakukan, mencakup computer vision, seperti gimana sih mobil itu (melihat) dan mendeteksi lingkungan di sekitar kita,” terangnya dalam wawancara bersama VOA seperti dilansir dalam Tempo, Senin (31/5).

Moorissa diketahui telah bekerja dengan Tesla sejak Desember 2018. Mulanya, dia bertugas sebagai data scientist yang juga menangani perangkat lunak mobil. Posisi itu dia dapatkan lewat bantuan rekannya yang sedang magang dan kemudian mengirim resume miliknya ke perusahaan. Setelah itu,  pihak Tesla lah yang justru menghubungi Moorissa untuk bekerja sama.

”Sekitar dua tahun yang lalu, temanku sebenarnya intern (magang) di Tesla. Dan waktu itu dia sempat ngirimin resume-ku ke timnya. Dari situ, aku tuh sebenarnya enggak pernah apply, jadi langsung dikontak sama Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah kita mulai proses interview,” jelasnya.

Kini, dia lebih banyak melakukan evaluasi dan pengujian untuk meningkatkan kinerja mobil buatan Tesla. Namun tentunya hal tersebut bisa dicapai dengan mudah. Tak tanggung-tanggung, dia harus menghabiskan waktu sekitar 60 hingga 70 jam perminggu dalam pengembangan sistem ini. Proyek terbesar perusahaan dari sistem autopilot ini diketahui telah disediakan Tesla secara terbatas.

Moorissa pun juga sempat membagikan bagaimana perasaannya menjadi satu-satunya perempuan sebagai software engineer Tesla. Meskipun tidak ada deskriminasi, gadis berparas cantik ini tetap merasa kekurangan role model dan motivasi.

”Mungkin kurangnya role model di dunia (software engineering) ini memicu kesulitan untuk memotivasi (perkembangan) di dunia teknologi ini, khususnya di bidang otomotif,” kata wanita kelahiran 1994 ini.

Dia pun berpesan kepada semua orang untuk dapat mengikuti kata hati agar dapat melakukan pekerjaan yang benar-benar dikehendaki. ”Kepada perempuan atau laki-laki yang menekuni bidang apapun, jadi walau banyak orang yang mungkin tidak setuju atau pikir keputusan kita bukan terbaik, tapi kalau kita follow heart ya tidak mungkin nyesel,” kata Morrissa.

 

Penulis: Ambarul Fatima S. Editor : Farik Fajarwati
#autopilot #Tesla #swakendara #Moorissa Tjokro