Detak jantungnya berdetak lebih kencang saat memasuki ruang seleksi ajang pencarian bakat Indonesian Idol Junior. Tangannya mulai berkeringat. Dia tahu bila saat itu kondisinya kurang prima. Radang tenggorokan dan demam sudah dideritanya sejak beberapa hari sebelumnya. Apa yang menjadi kekhawatirannya akhirnya terjadi. Dia gagal lolos seleksi dalam ajang pencarian bakat tersebut.
Pengalaman itu terjadi 9 tahun yang lalu, saat Ninaya Ilena Kinanti baru berusia 7 tahun. Memori tersebut masih segar dalam ingatannya. Dari pengalaman tersebut, motivasinya untuk belajar di dunia tarik suara makin besar. Keinginan itu mendapat support penuh dari kedua orang tuanya, Mohamad Soedarman dan Dwi Kurniawati. Dukungan tersebut tetap dia dapatkan sampai saat ini.
Ketika ditemui Jawa Pos Radar Malang, akhir Oktober lalu, dia juga didampingi kedua orang tuanya itu. Pada ruang tamu rumahnya, yang berlokasi di Perum Dosen STIE MalangKucecwara (ABM), di Jalan Manunggal kav A nomor 19, 20-an trofi tampak berjajar rapi dalam almari. Menjadi bukti keseriusannya untuk bergelut di bidang tarik suara.
Beberapa ajang pencarian bakat memang kerap diikuti Ninaya. Pasca gagal dalam seleksi Indonesian Idol Junior, dia tak pernah menyerah. Ajang serupa yang kemudian diikutinya adalah The Voice Kids Indonesia, yang diselenggarakan GTV, 2018 lalu. Langkahnya di ajang tersebut lebih jauh dibandingkan sebelumnya. Perempuan berusia 16 tahun itu sempat masuk babak battle round. Langkahnya terhenti di babak tersebut.
Dari mengikuti ajang The Voice Kids itu, Ninaya mendapat banyak pengalaman dan kesan. Salah satunya ketika pemberian topeng Bapang Malangan diterima dengan antusias oleh Agnes Monica, coach-nya saat itu. ”Rasanya bangga campur senang,” kenang dia.
Selepas ajang itu, pada bulan Juli tahun ini, Ninaya dan kakaknya, Tatiana, ikut dalam ajang ’Sing Like Mama’, yang diselenggarakan GTV. Sesuai namanya, ajang pencarian bakat tersebut mengharuskan tiap kontestan tampil dengan ibunya masing-masing. Ketentuan tersebut menghadirkan problem tersendiri bagi Dwi Kurniawati, ibu dari Ninaya dan Tatiana.
Artis Maia Estianty yang jadi salah satu jurinya meminta agar Dwi memilih satu tandem untuk melaju ke babak selanjutnya. Tangis Dwi seketika pecah setelah melihat Ninaya harus pulang lebih dulu ke Kota Malang. Perjalanan karir Ninaya di dunia menyanyi tak lantas berhenti di situ. Peribahasa ”untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” dirasakannya.
Beberapa hari setelah pulang dari ajang itu, Ninaya mendapat direct massage (DM) Instagram dari salah satu anggota grup musik Pasto, Romeltho Sinjai. Romeltho adalah salah satu musisi yang berada di bawah naungan label rekaman milik artis Maia Estianty, bernama Le Moesik Revole. Dalam DM tersebut, Romeltho menawari Ninaya untuk bergabung dalam perusahaan rekaman Le Moesik Revole.
Singkat cerita, siswi kelas XI SMAN 8 Kota Malang itu akhirnya dikontrak Le Moesik Revole selama tiga tahun. Rasa bangga dan syukur langsung menghapus kesedihannya saat tersisih di ajang ’Sing Like Mama’. Kini, dia mulai berkonsentrasi untuk mewujudkan mimpinya menjadi penyanyi. Putri bungsu dari dua bersaudara itu juga punya rencana pindah ke Jakarta, agar dia lebih fokus mengasah kemampuan bernyanyi.
”Ada rencana itu, tapi untuk kali ini dijalani saja dulu, jadi bolak balik Malang-Jakarta,” tutur Ninaya seraya tersenyum.
Kini, dia punya satu project di perusahaan rekaman milik Maia Estianty. Lagu berjudul ’aku ratumu’ bakal menjadi single pertamanya di dunia tarik suara. Proses rekaman sudah dilaluinya. Menariknya, lagu yang merupakan ciptaan ayah Ninaya itu kini menjadi soundtrack di salah satu sinetron. Yakni sinetron ’Buku Harian Seorang Istri’di SCTV.
Capaian itu seolah menjadi jawaban dari mimpinya sejak kecil. Ninaya memang terlahir dari keluarga yang berlatar belakang seniman. Dulu, ibunya juga menjadi seorang penyanyi. Sementara ayahnya, sampai saat ini juga produktif menjadi song writer. Peribahasa ’buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ pun berlaku bagi Ninaya dan kakaknya. Sejak kecil, keduanya memang bercita-cita menjadi penyanyi. (Bayu Suryo/by/rmc) Editor : Shuvia Rahma