Peminat yang semakin turun, membuat sejumlah pedagang batu akik pun jatuh bangun tetap menjual barang yang pernah dijual dengan harga jutaan rupiah.
Seperti yang terlihat di Ruko Majapahit, Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, kemarin. Hanya ada tujuh pedagang yang masih membuka lapak di emperan toko.
Muhammad Soleh, salah satu pedagang batu akik mengatakan, dulu terdapat belasan hingga 20 pedagang di tempat tersebut.
”Dulu sehari bisa 5-8 batu atau permata yang terjual, sekarang hanya dua, kadang malah tidak laku sama sekali," ujar pria berusia 62 tahun tersebut.
|Baca Juga :
Mochammad Theo Zainuri, Perintis Usaha Fashion Sahawood Tembus Pasar Eropa
Dia menyebut penurunan penjualan karena pandemi Covid-19 yang merebak 2020 lalu. Sejumlah masyarakat yang pernah memiliki batu akik harus menjual demi memenuhi kebutuhan hidup.
Meski demikian, masih ada sejumlah pembeli yang mencari batu akik. Paling banyak mereka mencari batu mulia jenis Ruby.
Soleh tetap memilih berjualan batu mulia karena merasa menyenangkan menjalankan hobi sekaligus mendapatkan uang dari hobi tersebut.
”Mau bagaimana lagi, karena sudah pilihan ya harus dimaksimalkan,” tegas dia.
Hal yang sama juga diungkapkan pedagang batu mulia di depan Pasar Blimbing Feri Irwan. Dia mengatakan, penjualannya juga menurun semenjak 2020 lalu.
|Baca Juga :
5 Benda Estetis yang Bikin Rumah Nyaman dan Menenangkan
”Dulu sehari bisa terjual 5 sampai 6 batu, sekarang sering saya nggak terjual sama sekali," ujarnya.
Menurutnya hal tersebut terjadi karena memang peminat batu mulia mulai menurun. Berbeda dengan Soleh, Feri hanya menjual batu mulia dengan harga di bawah Rp 1 juta saja.
Feri mengatakan, sebelum pandemi trotoar di depan pasar tersebut penuh dengan penjual batu mulia, namun sekarang hanya tinggal sekitar 3 orang penjual saja.
”Banyak yang beralih jadi tukang parkir dan sopir," tutupnya. (dur/adn) Editor : Aditya Novrian