MALANG - Fenomena sound system bervolume tinggi mulai marak pada pawai tahun 2014. Bahkan saat terjadi pandemi, perangkat yang juga dikenal dengan julukan sound horeg itu dimanfaatkan untuk membantu sosialisasi protokol kesehatan.
Salah satu pengusaha sound horeg asal Desa Talok Kecamatan Turen, David Stevan Laksamana Perwirayuda, mengaku menekuni bisnis tersebut sejak 2016, meneruskan usaha ayahnya. Saat itu dia sudah memiliki 28 box sound system. Kini bahkan berkembang menjadi 88 box atau dua set. Lengkap dengan peralatan pendukung seperti genset, lighting, dan lainnya.
Dia bahkan mengimpor peralatan sound dari China. Harganya mencapai Rp 1,8 miliar. ”Kalau yang merek lokal sebenarnya tidak beda jauh. Mungkin sekitar Rp 1,1 miliar,” kata pemilik Blizzard Audio itu.
Tak hanya dari banyaknya jumlah sound, pelaku usaha seperti dirinya juga berlomba-lomba membesarkan kapasitas. David biasanya menggunakan genset dengan kapasitas sebesar 100 kVa atau setara 100.000 watt. Namun, ada pula yang sampai 150 kVa. Upaya pengembangan kapasitas itu dilakukan agar bisa memuaskan penyewa.
Setiap tahun, David dan kru-nya bisa melayani order sampai dengan 50 pesanan. Harganya pun bervariasi. Yang paling murah sekitar Rp 1 juta-Rp 2 juta per box. Sementara yang paling mahal, all in, mencapai Rp 45 juta.
David melihat usaha sound system bersuara menggelegar kian diminati. Apalagi kalau sampai berdampak ke lingkungan sekitar. Seperti berakibat pada kerusakan rumah warga. ”Yang menyewa kami biasanya malah bilang, lek gak ono seng rusak kurang. Tapi semisal ada kerusakan, penyewa pasti memberikan ganti rugi dan koordinasi sebelum acara,” tegasnya.
Termasuk kerusakan akibat sound yang menimpa rumah warga di Desa Urek-urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. David memastikan bahwa pemilik rumah tidak diintimidasi. Ini karena perangkat desa setempat sudah menyelesaikan secara kekeluargaan. ”Kebetulan, pelaku sound system tergabung dalam Paguyuban Sound Malang Bersatu. Setiap Kecamatan di Kabupaten Malang ini ada korwil-nya. Saya pun sudah komunikasi dengan korwil-nya dan tidak ada masalah dengan pemilik rumah,” sambungnya.
Hal serupa diungkapkan oleh pemilik usaha sound system Restu Ibu, yakni Samsul Arif dan Saiful. Menurut mereka, panitia atau pihak penyewa biasanya malah senang kalau ada kerusakan akibat sound system. Sebab kegiatan itu dirasa berhasil memuaskan masyarakat. Sebelum acara, perangkat daerah setempat pun biasanya sudah berkoordinasi dengan warga.
Tak jauh berbeda dengan David, Samsul juga terus mengembangkan sound system miliknya agar yang berminat menyewa semakin banyak. Saat ini, keduanya juga sudah memiliki puluhan unit sound dengan kapasitas yang beragam. ”Mulai dari yang frekuensinya 35 hz hingga 100 hz ke atas," kata dia. (pri/mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana