ADA beberapa istilah yang dipakai oleh Arek Malang sebagai kata ganti bau.
Seperti badeg, basin, dan banges.
Khusus untuk istilah badeg, biasa digunakan Arek Malang untuk menunjukkan bau badan seseorang.
Istilah itu diyakini mulai populer pada era 1970an.
Bahasa Jawa Banyumasan juga mengenal kata tersebut.
Namun memiliki arti yang berbeda.
Merujuk pada bunga atau nira kelapa yang biasa dijadikan minuman.
Namun, terdapat pelafalan yang berbeda pada huruf 'e'.
Dalam bahasa Jawa Malangan, badeg punya arti tersendiri.
”Itu untuk menunjukkan bau yang tidak sedap dan sangat menyengat. Contohnya bau dari limbah yang sudah lama dibiarkan,” kata Budayawan Malang Dwi Cahyono.
Beberapa kawasan di Kota Malang juga mendapat julukan karena baunya yang menyengat.
Contohnya, Kali Badeg yang berada di kawasan Kelurahan Ciptomulyo.
Menurut sejumlah referensi, bau yang dikategorikan sebagai badeg merujuk pada bangkai hewan yang sudah membusuk.
Di Malang, penggunaan istilah tersebut dapat diaplikasikan ke banyak hal.
Salah satunya untuk bau badan manusia.
Istilah badeg yang merujuk pada bau itu menjadi salah satu bahasa khas Malang.
”Memang asli sini saja (Malang), hanya saja mulai banyak dituturkan sekitar tahun 1970 an,” tandas pemilik Yayasan Inggil tersebut. (biy/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana