RADAR MALANG - Setelah tuai banyak kontroversi, film A Business Proposal versi Indonesia tetap tayang.
Sebelumnya, banyak hujatan yang diterima.
Khususnya hujatan kepada pemain utama, Abidzar.
Pasalnya, pemuda itu tidak menonton film orisinil A Business Proposal.
Ditambah lagi dengan sikap arogannya yang membuat netizen semakin gedeg.
Meskipun begitu, film ini tetap tayang di bioskop mulai kemarin (6/2).
Namun, terdapat video TikTok salah satu pengguna yang menunjukkan jumlah penonton film ini.
Banyak kursi kosong. Padahal film akan segera dimulai.
Baca Juga: Marvel Rilis Trailer Perdana Film The Fantastic Four: First Steps
Baru kali ini dalam sejarah, Indonesia menerapkan cancel culture.
Yang di mana berarti penolakan massal terhadap seseorang atau karya karena dianggap tidak pantas atau menyinggung.
Cancel culture ini tampaknya berdampak besar pada A Business Proposal versi Indonesia.
Tak hanya kritik di media sosial, tetapi juga terlihat dari minimnya antusiasme penonton di bioskop.
Banyak yang bersyukur dan senang karena Indonesia telah menerapkan cancel culture.
“Akhirnya prinsip cancel culture itu dimulai dr dia,” komentar salah satu pengguna di TikTok.
Ada juga yang berkomentar, “luar biasa, akhirnya netizen makin cerdas.”
Dan masih banyak lagi.
Baca Juga: Dark Nuns Kuasai Posisi Puncak Box Office Korea di Tengah Lonjakan Rilisan Film Baru
Ada pun beberapa netizen yang menonton hanya demi menghargai Ariel Tatum.
Itu karena netizen berasumsi hanya Ariel Tatum lah yang bekerja keras sendirian di projek ini.
Jadi, untuk menghargai usahanya, beberapa netizen memilih untuk menonton film A Business Proposal versi Indonesia.
Hal itu dapat dilihat dari salah satu video pengguna TikTok @hanarisli.
Baca Juga: Jon Bernthal Bergabung dalam Film 'The Odyssey' Garapan Christopher Nolan
Sementara itu, rumah produksi dan para pemain belum memberikan tanggapan resmi terkait reaksi negatif ini.
Beberapa spekulasi muncul bahwa film ini mungkin akan segera turun tayang jika tren penonton terus menurun.
Di sisi lain, fenomena ini menjadi pembelajaran bagi industri film Indonesia untuk lebih hati-hati dalam membuat adaptasi atau remake.
Terutama dari karya populer yang sudah memiliki basis penggemar kuat. (rsy)
Editor : Aditya Novrian