RADAR MALANG – Sutradara Indonesia, Angga Dwimas Sasongko kembali ke kursi sutradara dengan film bertajuk Ratu Malaka.
Proyek film yang diperkenalkan di Pasar Film Canes ini merupakan thriller aksi-kriminal yang memadukan mistisisme Asia Tenggara dengan kekerasan dunia bawah tanah.
Angga yang juga merupakan pemimpin rumah produksi Visinema telah dua tahun fokus untuk mengawal Jumbo, film animasi tersukses Indonesia sejauh ini.
Kini, sutradara kelahiran 1985 tersebut siap menggarap proyek aksi paling ambisiusnya hingga saat ini.
Baca Juga: Colony, Film Thriller tentang Virus Garapan Sutradara Train to Busan Masuk Pasar Film Cannes
“Sudah saatnya saya menyutradarai film yang membangkitkan insting terdalam saya sebagai storyteller,” ujar Angga.
Ia juga menambahkan bahwa setelah transformasi Visinema berjalan baik dan Jumbo melampaui targetnya, Angga kembali ke kursi sutradara dengan sesuatu yang lebih ambisius.
Yaitu sebuah film aksi dengan jiwa, darah, dan napas lokal yang keras.
Film tersebut bertujuan memadukan mitologi tradisional Asia Tenggara dengan narasi kriminal kontemporer.
“Saya ingin menciptakan dunia yang sangat akrab dengan budaya Asia Tenggara, namun belum pernah disentuh dalam sinema Asia Tenggara. Bagaimana menggabungkan sisi gelap kejahatan dan dunia bawah di Selat Malaka... Ini adalah salah satu wilayah paling strategis untuk perdagangan dan geopolitik. Bukan hanya di permukaan, tapi juga di dunia bawahnya,” kata Angga dilansir dari Variety.
Selat Malaka, jalur pelayaran penting antara Semenanjung Melayu dan Sumatra, menjadi pusat geografis sekaligus tematik film ini.
Film ini akan mengeksplorasi peran selat tersebut dalam perdagangan manusia, narkoba, dan penyelundupan senjata.
Sutradara film aksi Mencuri Raden Saleh ini berencana menghadirkan kembali mitos pendekar tradisional Melayu untuk penonton masa kini.
Ia merujuk pada para pendekar legendaris dari Kesultanan Malaka, yang kisah-kisahnya dikenal luas di Indonesia dan Malaysia.
Film ini juga akan mengangkat unsur politik kekuasaan di Asia Tenggara, termasuk penggunaan praktik perdukunan dan takhayul oleh kalangan elite politik.
“Orang-orang berkuasa cenderung memasukkan unsur mistis dalam permainan kekuasaan mereka. Mereka punya dukun, mereka mencari ramalan... Dan ini nyata terjadi dalam politik di Indonesia,” ujar Sasongko.
Sebagai sutradara di balik Mencuri Raden Saleh, film aksi Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak (lebih dari 2,3 juta penonton), Sasongko membawa pengalaman genre yang kuat ke proyek ini.
Baca Juga: Lukisan Raden Saleh Muncul di MV Jin BTS: Fakta Menarik di Balik Lukisan “Kebakaran Hutan”!
Ratu Malaka akan menjadi film aksi kelimanya, setelah Wiro Sableng, Ben & Jody, Mencuri Raden Saleh, dan 13 Bom di Jakarta.
Dilansir dari Variety, film ini saat ini berada dalam tahap pengembangan lanjutan, dengan pengerjaan naskah dan strategi produksi yang tengah berlangsung.
Visinema sedang menjajaki kerja sama dengan mitra potensial dari Korea Selatan dan Amerika Serikat untuk membangun aliansi lintas negara dalam hal produksi dan distribusi global.
Proses syuting utama direncanakan akan dimulai pada tahun 2026. (rossa)
Editor : A. Nugroho