Malang – Gaya hidup retro kembali naik daun, seiring tren nostalgia yang merasuki berbagai aspek keseharian anak muda.
Mulai dari fotografi analog, musik lawas, hingga permainan jadul seperti gimbot dan tazos, kini bukan hanya sekadar memori masa kecil, tapi menjadi simbol gaya hidup baru yang estetik dan autentik.
Kebangkitan hobi-hobi lawas ini mulai terlihat sejak pandemi, ketika banyak orang mencari pelarian dari kejenuhan digital. Aktivitas seperti mengoleksi kaset pita, menulis dengan mesin ketik, atau mendengarkan musik melalui pemutar vinyl kembali digemari.
Bukan sekadar ikut-ikutan, banyak pelakunya benar-benar menikmati proses manual dan suasana klasik yang ditawarkan oleh benda-benda tempo dulu.
Baca Juga: Hobi Baru: Merajut Jadi Aktivitas Menenangkan di Tengah Kesibukan
Tren ini banyak digerakkan oleh generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, yang justru tidak mengalami langsung era kejayaan barang-barang tersebut.
Mereka mengenalnya melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, lalu mencari tahu lebih jauh lewat komunitas atau toko-toko khusus yang menjual barang vintage.
Tak hanya di kota besar, gaya hidup retro ini juga merambah kota-kota seperti Malang, Yogyakarta, dan Bandung. Toko barang antik, lapak kaset bekas, hingga studio foto analog kembali hidup. Bahkan di beberapa kafe, interior bernuansa jadul jadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Meski akar nostalgianya sudah lama, peningkatan popularitas gaya hidup retro mulai terasa sejak 2021 hingga sekarang. Tren ini kian berkembang saat berbagai konten retro mendapatkan banyak perhatian di media sosial.
Gaya hidup retro menawarkan rasa autentik dan pengalaman tak instan di tengah dunia serba digital. Proses yang lambat, sentuhan manual, dan nilai historis dari benda-benda lawas memberikan kepuasan emosional dan estetika tersendiri bagi penggemarnya.
Para penggiat retro menjalankan gaya hidup ini dengan berburu barang lawas di pasar loak, mengikuti komunitas retro, hingga mengoleksi atau memakai benda-benda antik dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa bahkan menjadikan hobi ini sebagai bisnis, seperti membuka lapak vinyl atau menyewakan kamera analog.
Fenomena ini menunjukkan bahwa terkadang, masa lalu memang bisa menjadi gaya hidup masa kini—dan justru terasa lebih hidup dari sebelumnya. (afh)
Editor : Aditya Novrian